Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
pertemuan


__ADS_3


yuuuuukkkkkk.....kepoin ya karyaku yang satu ini


************


Marissa meminta Bobi mengatur pertemuan dirinya, Bima dengan orantuanya.


"Apa kalian serius?Bagaimana kalau tuan Hadi menolak Bima lagi?Kali ini aku tidak bisa menolong kalian lagi."Bobi ragu dengan permintaan Marissa.


Bima menggenggam tangan Marissa dengan erat.


"Jangan berpikir negatif dulu. Namanya usaha kita usahakan dulu. Aku bersamamu." Marissa terharu mendengar ucapan Bima.


"Apapun keputusannya, aku akan hidup bersama Bima." Marissa menatap Bima sebagai tanda keseriusannya.


Bobi menarik nafas berat, bukan Bima dan Marissa yang membuatnya ragu, tetapi ia memahami tuan Hadi, sifat dan kebiasaannya terekam jelas di pikirannya, sudah beberapa tahun berlalu, keberadaan Bobi di tengah-tengah kekuarga Marissa sudah seperti keluarga sendiri, meskipun ia hanya seorang pekerja untuk Hadi.


"Baiklah. Berusaha untyk yang terbaik tidsk ada salahnya bukan?" meskipun berat akhirnya Bobi mau mengusahakan pertemuan orangtua dan putrinya itu.


"Thanks, Bob." Wajah Marissa bersinar karena bahagia.

__ADS_1


" Nanti malam. Aku akan mengatur makan malam kalian dengan orangtua mu.


Bima juga ikut bahagia.


Setelah selesai membicarakan rencana pertemuan kedua belah pihak malam nanti, Bima langsung berangkat untuk bekerja, sedangkan Marissa dengan hati-hati kembali ke rumahnya, Hadi tidak boleh tahu kalau tadi malam ia tidur dengan Bima.


"Awww..."Marissa mengelus lembut perutnya, akhir-akhir ini baby yang di kandungannya sering bergerak, walaupun masih begitu pelan, Ia bisa dengan jelas merasakannya.


"Apa nona baik-baik saja." Bobi yang hendak pergi sempat mendengar teriakan Marissa.


"Perutku, Bob." Marissa tampak meringis


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit.


Bima sudah terlanjur pergi ke tempatnya bekerja, tetapi sepertinya ada sesuatu yang kurang dalam perasaannya.


Ia berusaha menelpon Marissa, tetapi sedari tadi hanya berdering, tidak diangkatnya.


Sementara Marissa di rumah sakit mendapat perawatan dari dokter, syukurlah kandungannya tidak ada yang serius, hanya sedikit lemah dan perlu istirahat yang banyak.


Bobi membawa Marissa pulang kembali ke rumah orangtuanya. Kondisi Marissa sedikit lemah, mungkin di bawah alam sadarnya ia terkena stress memikirkan permasalahan yang dihadapi.

__ADS_1


"Dari mana kalian?" Hadi yang duduk di sofa heran melihat Bobi dan putrinya baru masuk ke rumah.


"Selamat pagi tuan. Nona baru dari rumah sakit."


"Apa?" mama Marissa yang berada tidak jauh dari mereka berteriak demi mendengar putrinya baru pulang dari rumah sakit.


"Kau kenapa sayang Ada yang tidak beres?" Marissa hanya diam, ia malas menjawab pertanyaan mamanya, ia mengira itu hanya basa basi saja.


"Nyonya. Tadi nona merasakan sakit di kandungannya. Setelah di periksa dokter semuanya baik-baik saja. Nona mengalami stress yang berlebihan yang menimbulkan kontraksi palsu dalam kandungannya." jelas Bobi.


Hadi yang mendengar penjelasan Bobi kepada istrinya diam-diam terharu dengan kondisi putrinya. Anak semata wayangnya itu menghadapi masa-masa sulit sendirian, ia mengutuki Bima laki-laki yang membuatnya seperti itu.


"Sayang. Mari mama antar ke kamar. Istirahatlah!" Marissa mengikuti mamanya ke kamar.


"Tuan. Saya bedangkat untuk melanjutkan pekerjaan." Bobi pamit kepada Hadi yang masih duduk diam di sofa.


"Bob. Aku ingin bertemu dengan Bima. Tolong atur waktunya." kali ini nada bicara Hadi tidak seperti biasanya, sedikit memelas kepada Bobi.


Puncuk dicinta ulam pun tiba. Dengan sangat bersemangat Bobi mengiyakan permintaan Hadi, karena sebelumnya pun mereka sudah berencana untuk mengadakan pertemuan dengan bossnya itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2