
Togar membawa Indah meninggalkan kampus, Indah sedikit berlari mengimbangi langkah Togar yang panjang.
" Hmm...lepaskan tanganku, itu sakit tau." Indah berulangkali menghentakkan tangannya dari genggaman tangan Togar.
Dengan cepat togar membuka pintu mobilnya, dan mendorong Indah masuk ke dalam mobil.
Indah duduk dengan perasaan kesal, tangannya yang sedikit nyeri di pijit-pijitnya pelan untuk mengurangi rasa sakit.
Togar menyalakan mesin mobilnya, kemudian membawa mobilnya perlahan meninggalkan parkiran kampus Indah.
Keduanya masih dalam mode diam, Indah memilih duduk menghadap jendela mobil, ia memandang keluar dengan hati yang merasa bersalah.
Ia benar-benar melupakan janji makan siang dengan Togar.
" Hmmm...maaf." Indah berbalik menghadap Togar dengan suara pelan ia meminta maaf kepada Togar.
" Aku lupa kita ada janji makan siang, itu karena aku harus segera menyelesaikan tugas praktikumku." lanjut Indah sambil menatap Togar yang masih fokus dengan setirnya.
" Kau tidak marahkan?"perlahan Indah memegang dengan lembut tangan Togar.
Sontak saja Togar terkejut, ia menepikan mobilnya ke sisi jalan, ia menatap Indah dengan tajam, Indah hanya bisa menunduk untuk menghindari tatapan itu.
" Mana ponselmu ?" Togar bertanya dengan nada tinggi
Indah memberikan ponselnya kepada Togar dengan cepat.
__ADS_1
" Untuk apa ?"
" Lihat sendiri ! berapa kali aku menelepon mu, apa kau tidak tahu aku kawatir denganmu ?" jawab Togar
" Hmm..maaf. A...a..ku."
Togar menarik Indah kepelukkannya, dielusnya rambut Indah dengan penuh kasih.
" Jangan membuatku cemas, aku tidak pernah seperti ini, bahkan ketika pekerjaanku tidak berhasil, aku tidak pernah merasakan takut seperti ini, Indah."
Togar melepaskan pelukkannya, tangannya mendekap kedua pipi chabi Indah, kemudian ia mengecupnya pipi yang merona itu dengan mesra.
Indah hanya terdiam, hatinya senang karena Togar menunjukkan cintanya, ya...kemarahan Togar dikarenakan rasa cintanya yang besar.
Togar mengecup bibir merah muda Indah, kemarahan di hatinya sirna seketika, saat itu ia kelihatan sudah semakin tenang.
Indah tersenyum dan membalas kecupan Togar. Ia melihat raut wajah Togar tidak setegang yang tadi.
" Ayo kita makan dulu, sudah terlalu siang, aku tidak mau kalau kau sampai sakit." ucap Togar sambil menyalakan mesin mobilnya kembali.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu Roi dan Silvi sudah berada di sebuah restoran langganan Roi, mereka juga memutuskan untuk makan siang bersama, setelah kesalahpahaman antara mereka akibat ulah cewek yang sama sekali Roi tidak tau menahu darimana asalnya, untunglah masalahnya sudah terselesaikan.
" sayang, kita makan apa? pilihlah yang kau suka." Roi memberikan buku yang berisi daftar menu makanan.
__ADS_1
" Aku mau ikan nila bakar, pecel sayur, dan minum air putih hangat saja." jawab Silvi
" Kau, mau pesan apa ?"
" Samakan saja dengan pesananmu." Roi menatap Silvi, senyum dibibirnya muncul begitu saja, ia menggenggam jemari Silvi yang diletak diatas meja.
" Roi."
" Apa ?"
" Tanganku"
" Biarkan saja, aku suka seperti ini." Roi malah menggoda Silvi, ia mendekatkan wajahnya kepada Silvi, Roi bermaksud memberikan ciuman kepada wanita yang dicintainya itu, tapi, Silvi sudah lebih dulu menarik hidung mancung Roi.
" Kau selalu seperti ini, ini tempat umum Roi." senyum Roi semakin melebar, ntah kenapa melihat Silvi cemberut dan ngomel seperti itu, Roi malah semakin gemes.
" Kalau begitu nanti saja setelah kita pulang ke apartemenku." ucap Roi sambil menaik turunkan alisnya.
" Dasar pria mesum." Silvi mencubit pinggang Roi.
Langsung saja direspon Roi dengan teriakan.
" Awggghhh...sakit sayang."
" Rasain." ucap Silvi mengabaikan Roi yang masih meringis
__ADS_1