Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Tersenyumlah


__ADS_3

Empat hari sudah keberadaan Michell dan Nita di Medan, dua hari lagi pertunangan Roi dan Silvi akan dilangsungkan. Pesta yang tidak terlalu besar sudah disiapkan oleh Uli dan Nita.


Besok beberapa keluarga sudah dijadwalkan ada yang datang, sebagian memilih menginap di hotel, ada juga yang dirumah Morin.


Robert dan Marry kedua orang tua Uli juga akan datang, mereka ingin melihat moment kebahagian cucunya Silvi.


David adik Uli juga janji akan hadir, hari ini dia masih ada tugas penerbangan ke Bali, David bekerja sebagai pilot mengikuti papanya.


Opung Leo dan dan Karissa tidak mau ketinggalan, mereka langsung berangkat dari Samosir untuk menyaksikan kebahagian kedua cucunya.


Keluarga besar Michel yang saat ini berada di hongkong tidak dapat menghadiri tunangan Roi dan Silvi, tapi mereka berjanji akan hadir di pesta pernikahan mereka.


👀👀👀


Baru saja Roi dan Togar tiba di kediaman Morin, mereka menjemput Opung Leo dan Karissa dari Samosir. Tidak ada raut lelah di wajah kedua orang tua itu. Karissa terus merangkul Roi, cucu kesayangannya itu, semenjak tinggal di Jerman Karissa hanya bertemu dengan Roi melalui video call itupun terbilang hanya beberapa kali.


" Bawa ini semua." Karissa menyuruh Roi membawa oleh-oleh yang dibawa mereka dari Samosir. Ada dolung-dolung dari Parapat. Sasagoun yang di buat langsung oleh Karissa.


" Pa, Ma." Morin berlari mendapatkan kedua orang tuanya yang baru saja turun dari mobil Roi.Uli menyusul suaminya mendapatkan bapak dan ibu mertuanya.


" Morin anakku." tubuh renta itu bergantian memeluk erat putranya, mencium pipi kanan dan kirinya.


" Mana Silvi, Indah, dan Reyhan ?" ucap Karissa bergantian mencium pipi menantunya.

__ADS_1


" Silvi di dalam ma, Indah dan Reyhan belum pulang." Uli mengambil alih tangan Karissa dari Roi, ia memapah perempuan itu masuk ke rumah.


Morin menuntun Leo." Papa dan mama sehat?" Leo menatap anaknya dengan penuh rasa haru.


" Kami sehat anakku. Udara di desa bersih dan sejuk, kami juga senang bisa bercocok tanam. Untuk orang tua seperti kami, lebih baik tinggal di desa, kau tahu kan, mamamu sangat menginginkannya." mereka bercerita sambil terus berjalan memasuki kediaman Morin.


Sejak Morin dan Uli menikah, Leo dan Karissa memilih untuk tinggal di desa kelahiran mereka. Pulau Samosir adalah pulau kecil yang tempatnya berada ditengah-tengah Danau Toba, tempat Leo dan istrinya di besarkan. Bercocok tanam adalah pilihan pekerjaan yang mereka lakoni dan pekerjaan itu mampu membuat mereka tenang dan senang.


" Opung." Silvi berlari menemui Leo dan Karissa


" Sudah dewasa kau sayang." Leo merangkul cucunya itu, mencium puncak kepala Silvi.


" Sini." Karissa gantian memeluk Silvi.


" Kau cantik sekali, Roi sangat ganteng. Kalian pasangan serasi." Karissa tersenyum memandang Roi dan Silvi bergantian.


" Kau masih pacaran dengan laki-laki itu." Leo menimpali perkataan istrinya.


Silvi terkejut, berita tentang dirinya sampai juga ke opungnya.


" Hmmm." Silvi hanya bisa berdehem.


" Dia bukan pria yang baik, dia menemuimu di club. Itu sudah menunjukkan dirinya tidak berani dan tidak siap untuk berumah tangga." Leo bicara panjang lebar.

__ADS_1


Rupanya Leo tidak pernah melewatkan kabar dan perkembangan cucu - cucunya.


Silvi hanya diam mendengar nasehat Leo.


" Roi sudah betul jadi pendamping hidupmu." lanjut Leo serta mengelus rambut cucunya itu.


Roi tersenyum simpul mendengar perkataan opungnya, Ia menatap Silvi sebentar, sepertinya Silvi tidak senang opung Leo membahas tentang Edi.


Arghhh...Silvi jadi ingat, sejak kejadian di cafe itu, Silvi belum bertemu lagi dengan pria pujaannya itu, Edi. Sebenarnya ia sangat penasaran, apa yang dilakukan Roi dan Togar kepada Edi


Setelah membawa Opung Leo dan Karissa duduk di ruang tamu, Silvi pamit ke kamarnya istirahat. Ia merasa sedih, tapi di depan keluarga ia berusaha tampak senang. Hanya satu hal yang ada di pikirannya sekarang, ia akan coba menghubungi Edi.


Silvi berjalan menaiki anak tangga di depannya, ia tidak menyadari Roi mengikutinya dari belakang.


" Sil...Silvi."


Roi sudah berada di dekat Roi.


Roi menatap wajah cantik di depannya. Manik hitam itu tidak pintar menutupi kegalauan hati seorang Silvi.


" Jangan sedih, tersenyumlah." Roi mencubit lembut kedua pipinya.


" Ahhh...kak Roi." Silvi menepis tangan Roi dari pipinya.Ia tertunduk, wajahnya merona.

__ADS_1


💐💐💐💐💐


Bersambung


__ADS_2