
Roi dan Silvi duduk di jok belakang. Mereka saling menatap. Roi merasa kesal dengan jawaban Silvi tadi.
" Kenapa kau jawab seperti itu tadi ? " ucap Roi kesal.
Silvi hanya diam, Roi membuang tatapannya ke sisi lain.
" A..ku...terpaksa." jawaban itu meluncur dari mulut Silvi.
Arghhhh...Roi memandang Silvi dengan tatapannya yang tajam. Ia berusaha mencari kejujuran di mata Silvi. Sebenarnya ada rasa bahagia di hatinya, Silvi mengatakan seperti tadi. Tapi mengingat Silvi sudah punya kekasih hatinya sedikit kecewa.
" Aku tidak mencintaimu. Ingat itu ! Bahkan setelah pernikahan kita nanti."
Togar menatap tuannya dari kaca spion depan. Ia heran mengapa tuannya berkata seperti itu. Padahal Ia mencintai Silvi.
Silvi hanya diam mendengar ocehan Roi. Dia asyik dengan ponselnya.
👀👀👀👀
Sementara di mobil yang lain Morin dan Nita membahas rencana pertunangan Roi dan Silvi.
" Bagaimana kalau minggu ini saja kita laksanakan." ucap Nita bersemangat.
" Silvi pasti tidak keberatan. Dia selalu menurut apa kata papanya." jawab Uli
__ADS_1
" Aku setuju minggu ini. Mumpung kita bisa lama di Medan. Minggu depan aku ada pekerjaan ke Hongkong." Michell menimpali sambil fokus ke ponselnya.
Sesekali Morin menatap Uli, Nita, dan Michel yang sedang membicarakan pertunangan Silvi dan paribannya Roi.
" Pa. Apa kita mengundang keluarga besar ?" Uli bertanya kepada suaminya yang fokus kepada stirnya.
" Untuk pertunangan lebih baik keluarga inti saja. Silvi dan Roi mungkin tidak nyaman." jawab Morin
" Ya. Biar mereka saling dekat dululah. Tahun depan kita adakan pesta pernikahannya. " tambah Uli
" Betul kak. Kita butuh waktu mempersiapkan acara pernikahannya. Aku mau pesta yang megah." Nita menimpali
Akhirnya mereka sampai juga di depan resto ternama di kota Medan. Roi dan Silvi sudah sampai duluan. Mereka duduk menunggu orang tuanya tiba di tempat.
" Kalian sudah sampai. Mana Togar ? biar dia ikut makan dengan kita." Michel bertanya kepada Roi
Roi tahu kalau orang tuanya sudah menganggap Togar seperti anak sendiri. Sudah cukup lama Togar ikut dengan keluarga Michel, orang kepercayaan sekaligus asisten keluarga Michel.
Togar orang yang perfect, semua urusan bisa di handle dengan baik dan benar. Meski sesekali sikapnya membuat Roi kesal, karena Togar sering mengejek dan menertawakannya.
Mereka sudah duduk berhadapan dengan menu yang telah dipesankan Morin.
" O. ya. Apakah Indah dan Rey belum pulang sekolah ? " tanya Nita.
__ADS_1
" Mereka pulang sore . Mereka ikut les dulu. Indah yang jemput Rey." jawab Uli sambil menyendok lauk ke piring suaminya.
Suasana makan kali ini membuat Roi dan Silvi sedikit tegang dan kaku. Sesekali mereka saling tatap. Kemudian saling melempar wajah ke arah lain.
" Setelah pertunangan Roi akan memegang perusahaan perhotelan di Jakarta. Aku berharap kakak mengijinkan Silvi ikut bersama kami ke Jakarta, biar mereka saling dekat dan kenal dulu." ucap Michel menatap Morin
Uhuk..uhuk...Silvi terkejut mendengar ucapan amang borunya.
" Makan pelan-pelan sayang." Nita yang duduk disamping Silvi mengusap usap punggungnya.
" Togar akan mengurus perusahaan disini." ucap Michel menatap Roi yang memberikan tatapan tidak setuju.
" Hmmm." Roi menganggukan kepalanya. Percuma membantah. Ntah kenapa keempat orang tua ini selalu memaksakan keinginannya.
" Roi. Kau mau tambah ?" Uli ingin menyendok nasi ke piring Roi. Tapi Roi segera menolak.
" Tidak nantulang. Cukup. Roi sudah kenyang."
Roi lebih memilih diam dan banyak mendengar pembicaraan orang tuanya. Silvi juga sama. Diam dan tak banyak bicara.
Arghhh...mengapa aku seperti kerbau di cucuk hidungnya ya. Tidak ada penolakkan. Sedangkan dia. Arhg...menyebalkan kemana mulut garangnya guman Roi dalam hati.
Ia menatap Silvi yang duduk di hadapannya.
__ADS_1
Cantik...dia memang cantik. Sebenarnya Roi sudah menaruh hati kepada paribannya itu, tapi mengingat perkataannya, bahwa ia tidak mencintai Roi, membuat Roi menjaga image dihadapannya.
Bersambung