
Sore itu Morin mengajak semua anggota keluarganya berbicara, kebetulan semuanya boleh berkumpul, dengan latar belakang orang-orang sibuk akhirnya dengan masalah yang menimpa Rey, mereka punya kesempatan untuk berbicang.
Masakah Rey menjadi pokok persoalan utama, Untuk menghindari berita -berita yang tidak bertanggung jawab atas putranya yang juga menyangkut nama besar keluarga Sinaga, Morin memutuskan segera akan melaksanakan pertunangan Rey, menurutnya Rey dan Marissa sudah saling dekat.
" Orangtua Marissa sudah setuju. Secepatnya kita liaksanakan pertunanganmu, Rey." ucap Morin.
Alina yang duduk bersama dengan keluarga Sinaga merasa risih, menurutnya ini bukan urusannya, dan rasa tidak enak mendengar ucapan tuan Morin membuatnya tidak betah berlama-lama duduk disana.
" Aku belum siap ! Lagi pula aku masih harus mempertimbangkan hubunganku dengan Marissa. Akhir-akhir ini kami sering tidak sependapat dan bertengkar." Semua yang mendengar penuturan Rey merasa heran terutama Silvi, ia melihat Rey sangat menyukai Marissa.
Alina menatap Rey sekilas, entah kenapa nalurinya bahagia mendengar kalimat-kalimat yang terucap dari bibir Rey. Alina menelan salivanya, ia berpikir apakah mungkin ia berharap Rey menyukainya, karena selama ini Rey sepertinya sering memberikannya perhatian lebih.
"Maaf, pa. Ada baiknya kita mempertimbangkan permintaan Rey, toh ia yang akan menjalani hubungan itu nanti." Roi memberi usul agar Morin mengerti keadaan Rey.
Sebelumnya Rey sudah bercerita kepada istrinya kalau kejadian yang di club kemarin hanya rekayasa, ada orang yang sengaja menyebarkan foto-foto Rey, Roi tidak sengaja mendengar percakapan istrinya dengan Rey di telepon, ketika Togar juga menjelaskan semua duduk masalahnya melalui telepon, Roi berpikir Rey hanya sebagai objek permainan seseorang yang tidak bertanggung jawab.
Merasa ada yang membela Rey sedikit lega. Syukurlah kakak iparnya itu mengerti permintaan Rey, hati memang tidak bisa dibohongi alasan Rey menolak dengan halus permintaan papanya karena Rey punya rasa kepada wanita lain.
Rey menatap sekilas Alina yang duduk menyimak semua perkataan orang-orang yang dihadapannya. Bila ia bukan berlatarbelakang seorang pembantu sudah tentu dengan lantang Rey akan mengutarakan isi hatinya kepada Morin dan semua keluarganya.
" Hmm. Baiklah ! Kita akan menunda dulu pertunanganmu, Rey. Tetapi papa sudah memutuskan kau tidak akan kembali ke Jakarta, Papa sudah mengurus surat-suratmu untuk kuliah di Jerman." Semua terkejut dengan apa yang diucapkan Morin. Ternyata diam-diam Morin telah meminta asistennya untuk mengurusi keperluan Rey di Jerman nantinya.
" Tidak ada penolakkan." Ucap Morin kemudian ketika Rey ingin berbicara.
Setelah satu jam mereka mengsdakan konfrensi meja petak dan telah menemukan titik dimana keputusan sudah ditetapkan, akhirnya pertemuan itu dibubarkan.
Uli dengan kelembutannya memberi pengertian kepada Rey agar menuruti kata-kata orangtuanya.
*
Alina membantu Silvi mengasuh si kembar, karena itulah ia ikut ke Medan. Indah begitu senang melihat Al dan El yang lucu dan aktif. Sesekali kedua bayi itu berceloteh memanggil papa dan mamanya.
" Aku mendapatkanmu." Indah mengangkat El yang sedang bermain, ia gemas melihat pipi bulat dan montok milik El, menciuminya membuat El tergelak.
__ADS_1
Togar tersenyum melihat istrinya mengendong El, terbersit di hatinya agar baby yang masih dikandungan Indah cepat lahir, membuat rumah tangga mereka akan semakin hangat.
Silvi menyiapkan pakaian ganti untuk kedua babynya, sebentar lagi Al dan El akan mandi. Roi mengikuti istrinya dari belakang.
" Hmm. " perlahan Roi menutup pintu kamar, Silvi terkejut tiba-tiba Roi sudah ada dibelakangnya, barusan masih ngobrol dengan papa. Roi merangkulnya dari belakang, Silvi tersenyum ia mengerti apa yang diinginkan suaminya itu.
Roi mengecup punggung Silvi kemudian beralih ke jenjang leher Silvi.
" Iihhh. Geli tahu ! Awas Al dan El mau mandi."
" Satu ronde, sayang." Roi membalikkan tubuh istrinya hinga mereka berhadapan.
" Hush ! Siang bolong begini permintaanmu aneh-aneh." Silvi mencubit pinggang Roi.
" Mumpung baby-baby kita punya pengasuh dadakan." kekeh Roi.
" Tidak ! Al dan El sudah waktunya mandi." Silvi menjauhkan wajah Roi yang ingin menciumnya.
" No. Ini perintah bukan permintaan." Roi tidak mau membuang-buang waktu di tariknya tengkuk Silvi kemudian disesapnya dengan lembut bibir merah yang selalu diinginkannya. Tangannya mulai aktif mengelus lekuk tebuh Silvi.
"Tubuhmu semakin berisi, sayang." bisik Roi ditelinga Silvi disela-sela kecupannya. Roi menyesap dua benda kenyal yang menurutnya sizenya semakin bertambah. Diremasnya dengan lembut hingga berulang kali ia mendengar ******* Silvi begitu menggoda.
Roi mengangkat tubuh Istrinya itu, ia ingin bermain dengan istrinya dengan gaya yang berbeda.
" Kau yang memimpin, sayang." Silvi melotot ketika Roi memangkunya, dengan posisi Roi yang sedang duduk di tepi ranjang dan Silvi berada diatasnya dengan kedua kakinya mengapit pinggang Roi.
" Aku malu, Roi." Silvi malah merangkulkan leher Roi dengan kedua tangannya, ia menyembunyikan wajahnya di dada Roi, selama pernikahan mereka baru kali ini Roi memintanya bercinta dengan gaya yang asing menurut Silvi.
Roi tertawa pelan, ia malah merasa lucu, sudah sejauh ini hubungan pernikahan mereka, masih ada sisi malu dalam diri Silvi untuk bercinta, memang diakui istrinya itu terlaku polos jika menyangkut hubungan suami istri.
Roi menukar posisi, kini Silvi yang didudukannya di tepi ranjang kemudian ia mengambil alih permainan, tidak punya waktu banyak, mengingat baby-babynya akan segara mandi, Roi memasuki Silvi.
Alina sudah selesai menyiapkan keperluaan mandi Al dan El biasanya Silvi yang memandikan mereka, Alina duduk di taman belakang, hanya beberapa pohon yang tumbuh disana, namun tertata rapi dan indah dipandang mata. Sambil menatap sekelilingnya Alina membayangkan jika nanti hidupnya bisa seperti keluarga Rey, keluarga yang berkecukupan, tidak susah seperti dirinya, mungkin tidak sekaya keluarga Michel atau Sinaga, paling tidak anak-anaknya kelak tidak seperti dirinya.
__ADS_1
pletak ..
Rey mengejutkan Alina yang sedari tadi bermain-main dengan halusinasinya.
" Sakit." keluhnya sambil mengusap-usap keningnya.
" Bayangin siapa ? Rado?" Rey menatap Alina yang terlihat gugup.
" Maaf, tuan. Saya tidak melihat tuan datang, apa ada yang perlu saya kerjakan ?" Alina langsung bangkit dari tempat duduknya.
Terbersit di hati Rey ingin menggoda Alina.
" Hmm. Bisa bantu menyusun pakaianku." Alina mengangguk ia paham maksud Rey. Kemudian ia berbalik meninggalkan Rey.
" Hei...Mau kemana ?"
" Bukannya tuan menyuruh membereskan baju-baju tuan."
Rey menggelengkan kepalanya.
" Kamu itu ya ! Polos atau bodoh sih. Memang kamu tahu kamar aku dimana ?" tanya Rey pura-pura kesal.
Alina menatap Rey sambil berpikir Iya, juga ya. Mana aku tahu dimana kamarnya. Guman Alina
Kepolosan Alina hiburan tersendiri bagi Rey.
" Ayo, ikut aku !" Rey berjalan mendahului Alina. Kemudian berdiri di depan pintu kamarnya.
" Ayo masuk !"
" Ta..pi..aku tidak mau kalau tuan di dalam." Kali ini Alina tidak mau tertipu oleh Rey.
Melihat Alina yang masih berdiri di depan pintu kamarnya, Rey bermaksud menariknya ke dalam tetapi terlambat Silvi memanggil Alina agar membantunya memandikan Al dan El.
__ADS_1
bersambung