
Manusia hanya dapat merencanakan Tuhan yang menentukan, segala upaya dilakukan, bila bukan kehendak yang di atas maka tidak akan berhasil.
\=\=\=\=\=
Menjadi putra yang membawa nama keluarga, Rey mempunyai peran yang sangat penting. Terlahir sebagai anak laki-laki satu-satunya dari pasangan Morin dan Uli, Rey merupakan ahli waris yang sah semua harta kepunyaa orangtuanya. Maka akan sangat penting bagi orangtua Rey memilih siapa yang akan menjadi pasangan hidupnya.
Rey adalah cucu pembawa nama keluarga Sinaga, Leo dan Karissa selalu mengingatkan agar Rey berhati-hati dalam memilih teman apalagi untuk teman hidup. Bersuku batak itu menjadi syarat utama.
Keluarga Marissa sudah kenal baik dengan keluarga Rey. Marissa meminta kedua orangtuanya agar menemui Morin dan Uli di Medan, ia ingin hubungannya dengan Roi disahkan dalam ikatan pertunangan sampai mereka siap untuk menikah.
Pertemuan dua keluargapun terjadi, dengan latar belakang kedua keluarga adalah pengusaha besar, tidak susah bagi mereka beradaptasi satu dengan yang lain.
Marissa sangat senang karena papa dan mamanya selalu mengikuti kemauannya, Rey yang mengetahui rencana keberangkatan orangtua Marissa tidak keberatan, hubungan pertemanannya dengan Marissa sudah terbilang lama dan dekat.
" Papa dan mama hari ini berangkat ke Medan. Mereka akan bertemu dengan Om dan Tante untuk membicarakan rencana pertunangan kita. Kau tidak keberatan Rey ?" Marissa memberitahu Rey rencana keberangkatan kedua orangtuanya.
" Tidak. Kita sudah lama berteman, bukan ?" Rey menjawab pertanyaan Marissa.
" Rey, aku harap tidak ada wanita lain yang akan menganggu hubungan kita. Tolong jaga perasaanku ! Kemarin kau meninggalkan aku di club hanya karena seorang Alina, yang notabene ia hanya seorang pelayan." Ketidaksetujuan Marissa terpancar dari mimik dan sorot matanya.
" O....,itu ! Maaf. Aku merasa kasihan padanya. Ia tidak punya siapa-siapa untuk menolongnya lepas dari bajingan Mars."
" Tapi, itu bukan urusanmu, Rey. Biarkan saja ! Kalaupun Mars menyukainya, sah-sah saja. Tidak perlu berlebihan seperti kemarin."
" Kenapa sih kau berubah gini ? Egois ! " Rey tidak senang melihat perubahan sikap Icha, baginya menolong orang lain tidak perlu memandang latar belakang dan mengatas namakan satu hubungan.
" Rey ! Tunggu sebentar." Icha paling tidak suka kalau Rey seperti ini, meninggalkannya begitu saja.
" Ubah cara pandangmu ! Bila kau seperti ini, aku akan menyesal memilihmu untuk calon pasangan hidupku. Keluargaku itu semuanya orang sosial, suka menolong orang lain." Rey sangat tidak setuju dengan pendapat Marissa.
*
*
Sementara Alina yang berada di perpustakaan kelihatan begitu resah, kejadian semalam membuat hati dan pikirannya tidak tenang, Rey menciumnya begitu saja. Alina tidak pernah mengalaminya, seumur-umur ia tidak pernah terikat dengan seorang lelaki atau tidak pernah pacaran. Prinsipnya ia harus menjadi wanita yang berhasil, soal cowok bila kita sudah berhasil nanti akan datang sendirinya.
" Rey !" Marissa terus berusaha mengiringi langkah Rey yang cepat.
__ADS_1
Alina yang ingin keluar perpustakaan menahan langkahnya, ia tahu ada Rey dan Marissa barusan lewat, entah apa yang mereka ributkan, Alina mendengar teriakan Marissa memanggil nama Rey.
Setelah dirasa aman Alina keluar dari perpustakaan, kelas akan segera mulai, dan ia tidak melihat Rara hari ini. Alina ingin minta maaf atas kejadian kemarin.
" Alina !" Alina sudah tahu siapa yang memanggilnya, sejujurnya ia sedang malas menanggapi.
" Selamat siang, pak." Alina tetap bersikap santun karena Rado salah satu dosen di kampusnya.
" Saya ada perlu sama kamu. Nanti setelah kelas harap menemui saya dikantor saya."
Setelah beberapa hari Rado tidak bertemu dengan Alina, siang itu hatinya begitu bersorak, perempuan yang berdiri di hadapannya adalah orang yang sudah mencuri hatinya yang dirindukannya beberapa hari ini. Rado terus berusaha bagaimana caranya agar Alina semakin dekat dengannya. Sungguh satu keberuntungan, ketika dekan menunjuknya mengurusi beasiswa untuk mahasiswa, dan Alina salah satu dari mahasiswa yang menerima beasiswa itu.
" Maaf, pak. Ada keperluan apa, pak ?" Tanya Alina curiga.
" Beasiswa kamu."
" Baik, pak." Jawab Alina sambil mengangguk penuh hormat.
*
*
" Sudah jam dua belas, pantesan ini perut sudah meraung-raung." Alina melihat jam kotak yang melingkar di tangannya.
" Argh ! Mereka lagi !" Alina berputar mencari sisi lain, agar tempat duduknya tidak menghadapkannya dengan dua orang yang menyebalkannya. Dimana-mana ada Rey dan Marissa.
" Hei ! Perempuan bodoh ! Lihat dong dirimu, penampilanmu, wajahmu, aduhh jauh bangeut dong bila kau mau bersaing denganku. Rey milikku, aku enggak mau kau dekat-dekatnya lagi." Alina menelan salivanya mendengar kata demi kata yang baru saja ia dengar, dan fix itu suara Marissa.
Tadi Marissa melihat Alina ingin duduk di banku yang tidak jauh dari mereka, tetapi kemudian Alina mencari bangku lain untyk tempatnya duduk. Dalam hati Marissa ingin mempermalukan Alina.
" Aku sedang tidak ingin bicara denganmu. Bisa tinggalkan aku, nanti nafsu makanku hilang jadinya." Alina tidak mengubris sedikitpun perkataan yang baru saja di dengarnya dari Marissa
" Hei ! Sok amat, ya."
" Aku sedang tidak mau berurusan denganmu atau dengan pacarmu, kau ngerti nggak ?" Dengan nada membentak dan wajah marah Alina berteriak agar Marissa tidak mengganggunya lagi.
Msrissa yang sudah tersulut emosi ingin menampar Alina yang sudah lancang membentaknya barusan.
__ADS_1
" Icha !" Rey berteriak melihat Marissa yang sudah mengayunkan tangannya di udara.
Rey menarik tangan Marissa, meninggalkan Alina yang masih berdiri karena marah kepada Marissa tadi.
" Dasar pengganggu." Guman Alina dan kembali duduk di bangkunya.
" Kalau kau seperti ini terus, aku pastikan hubungan kita selesai sampai disini saja." Rey malu dengan sikap Marissa yang kekanak-kanakan.
" Apa maksudmu, Rey ?"
Rey mengambil tas yang diletaknya di atas meja, dan pergi begitu saja meninggalkan Marissa.
Marissa mengepalkan kedua tangannya, hatinya geram dan mengutuki Rey, perubahan sikap Rey membuat Marissa begitu marah, akhir-akhir ini Rey malah sering memperhatikan Alina dan mengabaikannya, belum lagi kata-kata Rey yang berubah menjadi ketus, tetapi atas nama cinta Marissa tidak mau berpisah dengan lelaki yang dicintainya itu.
Satelah menyelesaikan makan siangnya Alina bergegas menemui Rado di ruangannya.
tok..tok..
Setelah mendengar kata masuk, Alina membuka pintu yang di hadapannya.
" Ayo ! Duduk disini !" Rado berdiri menyambut kedatangan Alina dan membawanya duduk di sofa.
" Tahun depan beasiswamu sudah diurus. Berbahagialah ! Kau sebagai penerima beasiswa terpilih sesuai rapat dosen." ucap Rado menjelaskan maksudnya memanggil Alina.
Alina mengangguk dan senang. Akhirnya ia terpilih lagi sebagai mahasiswa penerima beasiswa, karena Alina memang termasuk mahasiswa yang rajin dan pintar, di awal perkuliahannya banyak dosen yang memuji kecerdasannya.
" Alina !" Rado mengenggam jemari Alina.
Sontak Alina terkejut dan berusaha melepaskan genggaman Rado.
" Tolong berikan kesempatan kepada saya untuk menunjukkan perasaan saya kepada kamu. Sejak pertama melihatmu, saya sudah menyukaimu." Rado mengungkapkan isi hatinya kepada Alina.
" Maaf, pak ! Saya belum berpikir untuk seperti itu. Maafkan saya !" Alina menarik tangannya dari genggaman Rado.
" Terima kasih untuk semua bantuan bapak ! Saya permisi !" Alina berdiri dan ingin meninggalkan Rado, tetapi baru saja Alina melangkahkan kakinya, Rado menarik tangannya kembali, hingga posisi Alina berhadapan dengan Rado, jarak yang begitu dekat membuat Rado kehilangan akal sehatnya.
Ia menarik tengkuk leher Alina dan bermaksud mencium bibirnya, dengan gerakan cepat Alina mendorong tubuh Rado dengan keras, Rado terpental ke belakang, kemudian Alina berlari meninggalkan ruangannya. Ia tidak mau kecolongan lagi, cukup ia diperlakukan tidak hormat oleh Rey.
__ADS_1
bersambung