
Bobi dan Bima sedang duduk berhadapan di satu meja di sebuah restoran ternama di kota Jakarta. Bobi tahu selera bossnya itu. Kenyamanan satu hal penting baginya.
Bima kelihatan gusar sudah beberapa kali ia bolak balik melihat jam bulat yang melingkar ditangannya.
" Sudah satu jam lebih saya menunggu. Apakah orang yang anda maksud terbiasa seperti ini ? Sungguh tidak profesional." Bima berdecik kesal.
" Maaf tuan Bima. Tetapi tuan itu ingin menyampaikan sesuatu kepada anda. Ini PENTING!" Bobi menekan suaranya pertanda ini merupakan pertemuan serius.
" Maaf. Saya tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Carikan saja waktu lain. Saya masih harus bekerja." Bima berdiri dari kursinya dan ia bermaksud meninggalkan Bobi duduk sendiri di restoran itu.
" Hmm." seseorang yang berdiri di belakang Bima berdehem.
Kini Bima berhadapan dengan seorang pria paruh baya yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin.
" Tuan." Bobi spontan berdiri meninggalkan tempat duduknya dan mendekat kepada Hadi.
" Silahkan duduk. Saya minta waktu anda sebentar saja."Hadi menatap Bima dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.
__ADS_1
" Dua puluh menit. Aku harus bekerja kembali." dengan gaya elegan Bima memberi kesempatan kepada Hadi untuk berbicara dengannya.
" Langsung saja ke pokok permasalahannya. Ada hubungan apa anda dengan putri saya, Marissa."
Bima terkejut Bobi tidak memberitahunya kalau orang yang ingin bertemu dengannya orangtua Marissa.
" Hubungan ? Mungkin hanya sebagai teman saja."
Hadi menganggukan kepalanya, ia teringat dengan ucapan putrinya bahwa laki-laki yang di depannya ini tidak mencintai anak semata wayangnya itu.
Kau terlalu bodoh, Icha. Mencintai pria yang tidak menganggapmu.
" Aku belum tahu apa kehamilannya ada hubunganya denganku."
Perasaan Hadi begitu sakit seperti diiris-iris sembilu. Bobi memberitahu bahwa Bima adalah orang yang bertanggung jawab atas kehamilan putrinya.
" Baiklah. Mulai sekarang lupakan putriku. Waktu dua puluh menit yang kau beri sudah habis." Hadi berdiri dari kursinya dan melangkahkan kakinya meninggalkan Bima.
__ADS_1
" Tuan." Bobi mengikuti Hadi dari belakang.
"Ada yang ingin kau sampaikan. Berita yang ku terima ini membuat hatiku sakit dan harga diriku hancur. Dia kira siapa dirinya ?" dengan nada sedikit kesal Hadi membentak Bobi.
" Mulai sekarang tidak peduli siapa dia, Marissa tidak boleh bertemu ia lagi." ucap Hadi penuh penekanan.
Bima yang masih duduk di kursinya merasa ada sesuatu yang salah, semua yang diucapkannya adalah kebenaran, tetapi kenapa pria tadi kelihatan marah. Bima bermonolog sendiri dalam hatinya.
Dengan hati marah Hadi memasuki mansion miliknya. Bobi yang menyetir untuk bossnya itu hanya bisa diam selama dalam perjalanan begitupun ketika tiba di mansion.
Hadi melihat Istri dan putrinya duduk berdua sedang berbicara, ibu dan anak itu terlihat begitu senang , lama tidak bertemu bahkan jarang saling memberi kabar membuat kedua wanita kesayangannya itu saling berpelukkan dan bertukar cerita untuk beberapa saat sebagai cara melepas rasa rindu.
" Papa. Bagaimana hasil pembicaraan papa dengan Bima." Marissa bertanya setelah Hadi mendaratkan tubuhnya di sofa tepat di depan Marissa dan istrinya.
" Lupakan dia." hanya itu yang terucap dari mulut Hadi.
" Dia tidak menerima anak yang kau kandung sebagai darah dagingnya. Ia bahkan tidak bisa mengatakan hubungan yang terjadi diantara kalian." lanjut Hadi.
__ADS_1
Marissa kecewa, jauh dari yang ia bayangkan.Berharap Bima menerimanya setelah apa yang mereka lakukan beberapa hari ini, Bima memang tidak mencintainya.
Bersambung