Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Membuatnya cemburu


__ADS_3

"Alina, kau belum siap-siap." pagi itu Rey penasaran akan tampilan Alina, ia ingin melihat Alina memakai baju-baju yang dibelinya kemarin.


Berulang kali Rey melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Alina belum juga menampakkan wajahnya.


Rey memutuskan untuk menyusul Alina ke kamarnya dan ia melihat Alina duduk di atas ranjangnya dengan pakaian tidur.


"Rey, Aku ingin melihat ayah. Aku rindu bertemu dengannya. Bisakah aku pulang dulu ke Samosir ?" ucap Alina tak bersemangat.


"Tapi, bagaimana pekerjaanmu di perkebunan ?"


"Apakah aku tidak bisa ijin 1 atau 2 hari?"


"Begini, akhir bulan saja ya, aku akan menemanimu." Rey memberi solusi.


Alina menarik nafas berat, sebenarnya ia ingin sekali bertemu dengan Radit, papanya, orang yang paling memahami Alina. Ia merindukan sosok itu, tempat ia mencurahkan semua isi hatinya, tetapi Rey meminta agar Alina pulang di akhir bulan.


"Hmm. Baiklah. Kalau begitu aku siap-siap dulu ya." Alina mengambil satu stel baju kerja dari dalam lemarinya ia akan membersihkan tubuhnya.


Rey tersenyum menang akhirnya ia bisa menyakinkan Alina untuk tidak pergi.


Tidak butuh waktu lama Alina sudah selesai berpakaian, kini ia tampak rapi dengan stelan kerja yang dbeli oleh Rey kemarin.


"Apa ? Ada yang salah dengan pakaianku ?" Alina heran ketika Rey lama menatapnya, setelah duduk di jok yang bersebelahan dengan Rey, ia tidak menjalankan mobilnya, malah terus menatap Alina.

__ADS_1


" Kau cantik sekali."


" Gombal. Kalau Jean tahu kau bakalan di tinggalin."


Ada senyum samar di wajah Rey.


Sampai kapan kau menutupi perasaanmu, sayang. Sepertinya episode membuat kamu cemburu akan berlangsung lama.


"Rey. Ayo !" Alina menepuk bahu Rey yang sedang melamun.


"Ya. Kita berangkat." Rey mengangguk kemudian membawa mobilnya melaju meninggalkan kediaman mereka.


Diperjalanan Alina memilih tidak banyak berbicara, ia lebih senang memperhatikan pemandangan di luar mobil.


Tret...tret..ponsel Rey berbunyi. Ia menjawab teleponnya setelah melihat nama Jean tertera di sana.


"Nanti malam, ya aku ada waktu."


"Boleh. Kau pilih saja tempatnya. "


"Baiklah. Bye.."


Alina masih tetap mengarahkan padangannya ke luar mobil, ia tahu Jean yang telepon, jelas kedengaran di telinganya, Jean mengajak Rey jalan nanti malam. Alina tidak bisa berbuat apa-apa, ia pendam saja rasa di hatinya.

__ADS_1


Oh...hatiku. Mengapa terasa sakit. Jangan seperti ini. Semuanya pasti baik-baik saja. guman Alina dalam hatinya.


"Apa kau ingin menanyakan sesuatu ?"


"Tentang ?"


"Entahlah, mungkin ada yang kau pikirkan."


"Tidak ada." Alina kembali mengalihkan pandangannya ke luar mobil. Ia tidak mau berlama-lama memandang Rey.


Rey sengaja memancing Alina untuk berbicara, ia ingin Alina menanyakan kemana ia akan pergi dan satu hal yang begitu diharapkannya Alina melarang Rey pergi dengan Jean. Tetapi keadaan malah sebaliknya Alina tidak menanyakan apapun dan terkesan tidak peduli.


Akhirnya mereka sampai di perkebunan, Alina keluar dari mobil, udara yang sejuk membuatnya segar, hamparan pohon teh yang begitu hijau membuat Alina bersemangat, moodnya yang sedikit memburuk terobati dengan suasana perkebunan yang tenang dan asri.


Rey dan Alina berjalan beriringan, Rey menggenggam tangan Alina di sampingnya.


"Rey. Aku bisa jalan sendiri." Alina menolak Rey menggenggam tangannya.


"Biarkan seperti ini." Rey malah mempererat genggamannya.


Semua karyawan yang melihat hal itu berbisik-bisik satu dengan yang lain, mereka penasaran tentang hubungan bossnya itu dengan karyawan baru yang menggantikan karyawan yang cuti.


"Rey, ruanganku sebelah sana." Alina meminta Rey melepaskan tangannya dari genggaman Rey.

__ADS_1


Rey melepaskan tangan Alina. Ia menganggukkan kepalanya kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan ruangan kerja Alina.


Bersambung


__ADS_2