
Rey dan Alina baru saja di Medan. Setelah turun dari pesawat seorang supir sudah menjemput mereka di bandara.
Alina memegang erat tangan Rey. Beberapa orang di bandara memperhatikan mereka, meskipun bukan selebriti Rey cukup terkenal karena orangtua serta keluarga besarnya masuk dalam daftar orang kaya di Indonesia. Sudah tentu segala perbuatannya menjadi sorotan dan akan dijadikan berita.
"Silahkan, tuan." Rey menyuruh Alina masuk terlebih dahulu.
Alina tersenyum, Rey memang protective akhir-akhir ini kepadanya.
Sejak kemarin Rey menelepon kakaknya Indah tetapi tidak diangkat-angkat, Rey bertanya-tanya dalam hatinya ada apa dengan kakaknya itu, biasanya Indah yang getol menanyakan kabarnya dengan Alina.
"Rey. Ada apa sepertinya kau gelisah."Alina bertanya mendengar Rey beberapa kali menarik nafas berat.
"Tidak ada. Aku memikirkan kak Indah yang tidak mengangkat tekeponku sejak kemarin. Biasanya dia rajin menanya kabar kita." jelas Rey
Alina tersenyum menanggapi pernyataan Rey, rupanya ia belum mengetahui kalau Indah sedang hamil lagi, sama seperti hamil muda putri pertamanya rasa mual dan muntahnya berlebihan.
"Ada yang lucu?" Rey melihat Alina senyum-senyum.
"Tidak ada." jawab Alina yang membuat Rey penasaran.
"Kau menyembunyikan sesuatu, sayang." Rey merangkul Alina, ditariknya tubuh Alina hingga mendekat kepadanya.
"Tuan sudah sampai." supir memberitahu Rey dan Alina kalau mereka sudah sampai di rumah.
"Kenapa sepi?" setelah masuk ke rumah Rey tidak melihat siapa-siapa.
__ADS_1
"Dimana nama?" Rey mengetuk kamar mamanya, tidak ada siapa-siapa disana.
Alina baru saja membereskan barang-barang yang mereka bawa dari Jakarta.
"Sayang, mereka tidak ada di rumah." Rey melapor kepada Alina.
"Mereka di rumah sakit." ucap Alina
"What? Siapa yang sakit?" Rey sedikit terkejut Alina mengatakan keluarganya berada di rumah sakit.
"Kak Indah. Dia sedang hamil lagi. Seperti dulu masa ngidamnya parah. Muntah dan mual berlebihan."
Rey ikut bahagia mendengar kabar kakaknya hamil kembali berarti keponakkannya bertambah.
Terbersit di pikiran Rey bila ia memiliki anak nanti, keturunannya pasti unggul, bila laki-laki tampan seperti papanya, bila perempuan akan cantik seperti ibunya, tanpa sadar Rey tersenyum sendiri.
"Kau..." Rey menarik Alina yang berdiri di hadapannya.
Kini tubuh mungil itu sudah berada di pangkuan Rey.
"Aku sedang membayangkan kekasihku ini sedang mengandung buah cinta kita." bisik Rey yang membuat Alina melebarkan matanya.
"Rey. "
"Ku kira setelah kita melakukan yang pertama kau akan hamil." Rey menggoda Alina yang meronta ingin lepas dari dekapan Rey.
__ADS_1
"Hush. Pikiranmu." Alina menoyor kepala Rey.
"Ei...berani kau ya." Rey semakin erat merangkul tubuh Alina. Sesekali diciumnya rambut Alina yang mengeluarkan wangi vanila.
Rey bahagia sekali, sekarang Alina telah menerima cintanya. Sedikit lagi mereka akan maju ke jenjang pernikahan.
Setelah ini Rey akan bertemu dengan ayah Alina di Samosir, sekalian ua akan mengunjungi kedua orangtua ayahnya, opung Leo dan Karissa.
"Hmmm."
Tanpa sepengetahuan Rey dan Alina, Togar sudah pulang dan menyaksikan kemesraan adik iparnya itu.
Alina segera melepas tangan kokoh yang merengkuh tubuhnya, ia merapikan penampilannya, perasaan malunya menjadi-jadi ketika melihat Togar tersenyum penuh arti pada mereka berdua.
"Kakak. Bagaimana dengan kakak Indah?" Rey menanyakan kondisi kakaknya itu.
"Semuanya baik-baik saja. Hanya kondisinya sedikit lemas karena tidak bisa makan dan minum. Besok akan dipindahkan ke rumah. Kami sudah menyewa seorang perawat untuk mengurusnya di sini."
"Oh..God. Sesusah itukah bila sedang hamil?" Rey berpikir sejenak.
Alina dan Togar tersenyum memandang Rey yang sedang berpikir.
Bersambung
Baca juga ya novel terbaruku😀😃
__ADS_1