
Tak lama kemudian, Ester datang membawa pesanan Roi, ia meletakkan kotak makanan di meja.
" Ada apa dengan Silvi ?" tanyanya kepada Roi
" Sepertinya ia kecapekkan dan terlambat makan, ia pusing, kau boleh lanjutkan pekerjaanmu, biar aku yang mengurusnya." Roi membuka kotak makanan dan mendekat kepada Silvi.
" Baiklah, aku permisi."
" Terima kasih Ester." ucap Roi sebelum Ester hilang di balik pintu.
" Ayo, makanlah, aku akan menyuapimu."
" Aku bisa sendiri."
Silvi mengambil kotak makanan dari tangan Roi, ia bermaksud melakukannya sendiri tapi Roi merebutnya kembali.
" haaaa. Buka mulutnya." Roi sudah menyendok nasi serta lauknya dan bersiap-siap menyuapi Silvi.
" Roi ! Aku bisa sendiri, tidak perlu berlebihan seperti ini." Silvi merasa malu Roi memperlakukannya seperti anak kecil saja.
" Makan yang banyak, lihat badanmu kurus begini, apa kau tidak teratur makan." tanya Roi sambil membersihkan bekas makanan disudut bibir Silvi
" Hmmpp...aku tidak kurus, seperti ini sudah bagus." Silvi menjawab Roi dengan nada kesal
Akhirnya kotak makanan bersih, tidak ada makanan yang tersisa, Roi terus menyuapi Silvi sampai makan itu habis dimakannya, meskipun harus sedikit memaksa
__ADS_1
Roi mengambil kunci mobil dari atas meja kerjanya, ia merapikan mejanya.
" Ayo ! kita pulang, kau istirahat di rumah saja." Roi menarik tangan Silvi yang masih duduk memandang Roi.
" A..a...ku belum menyelesaikan..."
" Ssstt. Istirahat saja hari ini, masih ada hari esok." Roi menempelkan jarinya di bibir Silvi.
" Batalkan semua pertemuanku dengan klien hari ini. Aku mau pulang." ucap Roi kepada Ester yang sedang membereskan pekerjaannya.
Ester tersenyum melihat raut wajah Silvi, ia melihat Roi memegang tangannya erat.
" Siap tuan." jawab Ester sambil mengerlingkan matanya pada Silvi.
Roi berjalan berdampingan dengan Silvi, semua karyawan menundukkan kepala sèbagai tanda penghormatan.
Roi hanya menatap sekilas, ia tidak menanggapi perkataan Silvi.
" Masuklah." Roi membukakan pintu mobil kepada Silvi setelah sampai diparkiran.
Mobil Roi melaju meninggalkan perusahaannya.
Jalanan agak macet, banyak kendaraan yang memadati jalan raya.Roi memutarkan lagu agar suasana tidak membosankan di dalam mobil.
Hampir satu jam akhirnya Roi sampai di depan apartemennya. Setelah memasukkan nomor kode apartemennya Roi masuk bersama Silvi.
__ADS_1
Silvi berjalan ke area dapur, ia membuka kulkas dan mengambil minuman segar dari dalam, baru saja ia ingin berbalik Roi sudah ada dibelakangnya.
" Awww. Kau membuatku kaget !"Silvi mencubit lengan Roi
Roi hanya tersenyum, ia menarik Silvi kedalam pelukkannya.
" Aku merindukanmu." ucap Roi sambil mengelus punggung Silvi.
Silvi hanya diam mematung, pelukkan Roi yang begitu tiba-tiba membuatnya malu.
Roi melepaskan pelukkannya, ia menangkup kedua pipi Silvi, lama mata mereka saling tatap.
Roi mendekat ke wajah Silvi, kini kening mereka bersatu, dan akhirnya berlanjut dengan kecupan-kecupan Roi di wajah Silvi.
" Aku mencintaimu." Roi mencium bibir merah Silvi.
Silvi membalas ciuman Roi dengan lembut, meskipun Silvi sudah lama pacaran dengan Edi tapi mereka belum pernah berciuman seperti saat ini.
Roi tersenyum karena ia tahu Silvi belum berpengalaman dalam hal ini.
Roi mengangkat tubuh Silvi dan mendudukannya diatas meja, masih terus mencium bibir Silvi, kini tangan Roi menyusup dibalik kemeja Silvi, ia meraba dada Silvi dan meremas gundukkan lembut disana, mereka berdua hanyut dalam kerinduan yang mendalam.
" Roi." Bisikkan Silvi ditelinga Roi membuat Roi sadar apa yang dilakukannya kepada Silvi.
Roi menarik tubuh Silvi dan memeluknya kembali.
__ADS_1
" maaf. aku melampaui batas." ucap Roi menatap bola mata Silvi.
Silvi tidak menjawab perkataan Roi, ia membenamkan wajahnya di dada Roi, andai Roi tahu Silvi tersenyum bahagia dan berkata dalam hatinya " Aku sangat mencintaimu Roi."