
Setelah mendapat penjelasan dari Rey akhirnya Alina mulai melembut, Rey menjelaskan semuanya dengan hati-hati, ia mengerti mengapa Alina begitu marah padanya, karena saat itu Alina dalam posisi tertekan dan ketakutan.
"Tidak akan ada yang menyakitimu." Rey merangkul Alina dan mengusap-usap rambut kekasihnya itu.
Sedangkan Alina masih terisak dalam pelukkan Rey. Emosinya sedikit menenang dan lambat laun ia bisa mengontrol hatinya.
" Jangan lakukan lagi, bila kau tidak ingin melihatku mati berdiri." ucap Alina sambil terisak.
" No, sayang. Itu tidak akan terjadi."Rey berusaha membuat Alina tenang.
Beberapa anak buah Antonio undur dari tempat kejadian, sebagian lagi masih terus bersiaga menjaga keamanan Rey dan Alina. Arnold sudah dibawah penanganan Antonio. Rey memerintahkan agar Antonio membereskan pria yang selalu mengganggu kenyamanan kekasihnya itu.
" Tuan. Mobil sudah disiapkan." Tomas menghampiri Rey dan Alina yang masih saling merangkul.
"Ayo. Kita pulang." Rey mengajak Alina meninggalkan tempat itu karena Alina butuh tempat yang nyaman.
"Ke apartemenku, Tomas." Rey meminta Tomas mengantarkannya ke apartemen milik Rey. Tempat itu sudah lama ditinggalkannya tetapi ada pelayan yang selalu membersihkannya sehingga Rey tidak perlu repot bila sewaktu-waktu ingin tinggal di sana.
"Kau butuh istirahat, sayang." Rey membawa Alina masuk ke kamarnya setelah Tomas mengantarkan mereka hingga tiba di apartemen Rey.
"Hmm. Terima kasih, Rey." Alina membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Aku di ruang kerja, bila kau butuh sesuatu panggil saja aku."
"Hmm." Rey mengecup pucuk kepala Alina kemudian ia meninggalkan Alina agar bisa istirahat sejenak.
__ADS_1
" Bagaimana keadaannya ?" Silvi baru saja menelepon Rey, ia sangat kawatir akan keadaan Alina setelah mendapat laporan dari Tomas.
" Tadinya ia sedikit shock, tetapi sekarang ia sudah mulai tenang kembali."
" Oh..syukurlah ! Jangan tinggalkan Alina sendirian. Roi sudah mengurus Arnold. Antonio yang akan membereskannya."
" Iya kak. Aku akan menjaga Alina di sini. Biarkan dia tenang dan nyaman dulu."
Rey menutup teleponnya setelah Silvi mengakhiri pembicaraan mereka.
Rey memeriksa lemari pendingin ternyata pelayan yang disewa kakaknya itu begitu telaten membersihkan setiap sudut ruangan di apartemennya bahkan beberapa bahan makanan ada tersedia di sana.
Terbersit ide di kepala Rey untuk membuatkan Alina makanan. Tetapi ia bingung harus memasak apa, ia melihat ada mie instan di lemari, ia ingin memasakkannya untuk Alina.
Rey mulai mencari cara memasak mie instan dari goggle, ia melihat dan menyimak tutorial yang disampaikan seorang chef bagaimana cara menyajikan mie instan yang lezat.
" Bawang bombay...oh...yang mana bawang bombay ?" Rey berpikir sejenak ketika melihat bumbu dapur dihadapannya, ia tidak tahu yang mana bawang bombay.
" Rey." Alina tergelak yang memperhatikan Rey sejak tadi, ia tidak dapat menahan rasa geli yang menggelitik di hatinya melihat cara Rey memasak.
" Sayang. Kenapa kau ada di sini? Sana istirahat saja !" Rey sedikit malu karena di tertawakan Alina.
"Hahaha. Kau lucu sekali bila sedang bingung seperti tadi." pecah sudah tawa Alina.
" Kau mengejek ku?"
__ADS_1
Alina berlari menjauh dari Rey. Ia melihat Rey malu dan sedikit kesal.
" Sayang, aku akan menghukummu karena kau menertawakan kekasihmu ini." Rey mengejar Alina.
" Dapat kau." Rey merangkul Alina ketika tanggannya berhasil menarik tubuh Alina.
Alina tersenyum.
" Kau sudah tidak takut lagi ?" Rey menatap manik hitam milik Alina
Alina menggelengkan kepalanya, ia terhibur dengan tingkah Rey di dapur tadi.
Rey mencium kening kekasihnya itu.
" Kau masih ingat, apa yang kita lakukan disini dulu?"
" Hmm. Kau menggodaku hingga aku harus menyerahkan diriku padamu."
" Kau terpaksa ?"Rey mengeryitkan keningnya mendengar jawaban Alina.
Alina pura-pura menganggukkan kepalanya.
"Kalau sekarang kita lakukan lagi, kau masih merasa terpaksa ?"
" Rey !" dengan wajah memerah dan malu-malu Alina memukul dada Rey.
__ADS_1
" I love you." Rey mengecup kembali kening orang yang sangat dicintainya itu.
bersambung