
Roi membawa Silvi ketengah - tengah keluarga. Suasana sangat mencekam, ternyata semua keluarga tahu kalau Silvi pergi menemui Edi.
" Anak tak tahu diri. Apa ini yang kami ajarkan kepadamu. Kau sudah menginjak-injak harga diri orang tuamu." Morin sangat marah.
" Kau..." kemarahan Morin sudah di ubun-ubun, tangannya sudah melayang hendak menampar Silvi, tapi Uli cepat menangkap tangan suaminya.
" Jangan pa, kita bicarakan baik-baik, tidak ada gunanya dengan kekerasan." air mata Uli sydah tidak dapat di bendung lagi.
Opung Leo akhirnya angkat bicara.
" Silvi. Bagaimana perasaanmu. Apa kau tidak ingin melihat semua keluarga bahagia ? " mendekati Silvi dan mengangkat dagunya yang sedari tertunduk. " Bicaralah dengan kami. Apa kau tidak menginginkan Roi menjadi suamimu ?" mata tajam Leo seakan menusuk hati Silvi.
" Opung..." Silvi terbata-bata
" Apa yang ingin kau sampaikan, sekarang bicaralah di hadapan kami semua, agar kami tahu menyelesaikan masalah ini." ucap Leo dengan tegas.
Michel dan Nita hanya bisa diam menunggu keputusan Silvi, Morin dan Uli menarik nafas panjang melihat putrinya yang masih diam dan tertunduk.
Roi hanya menatap Silvi geram. Perbuatan Silvi memang tidak bisa ditolerir lagi.
__ADS_1
Indah dan Reyhan menatap kakaknya dengan perasaan iba.
Opung Robert, Mary dan David menunggu keputusan Silvi. Mereka ingin Silvi mengungkapkan perasaannya.
" A..a..ku....minta maaf. Aku ingin...kak Roi tetap menjadi suamiku nanti." ucap Silvi dengan terputus-putus.
Semuanya menarik nafas lega. Sekarang Silvi sudah mengutarakan isi hatinya.
Lain dengan Roi hatinya bertanya-tanya apakah Silvi berkata seperti itu karena betul-betul mencintainya atau karena ingin membahagiakan keluarganya.
" Sekarang semua sudah jelas. Silvi...kami berharap kau sudahi hubunganmu dengan lelaki itu." ucap Leo sambil mengusap kepala cucunya itu. " Kami semua senang atas keputusanmu." lanjut Leo.
Silvi tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, ia tidak pernah menyangka akan ke Jakarta.
" Tapi...namboru."
" Tidak ada tapi-tapian. Keputusan Nita sudah betul. Besok kau ikut Roi ke Jakarta. Kami akan membicarakan pernikahan kalian secepatnya." Morin memotong ucapan Silvi.
Semua lega, akhirnya mereka dapat istirahat setelah melewati masa-masa tegang akibat ulah Silvi.
__ADS_1
Roi mengikuti Silvi masuk ke kamarnya.
" Ngapain kak Roi di sini ?" ucap Silvi memandang Roi yang berdiri di hadapannya.
" Kau harus di hukum." ucap Roi sambil membawa Silvi ke dekapannya.
" Arghh...kak Roi mau ngapain sih." Silvi berusaha melepaskan dekapan Roi.
Roi hanya diam membiarkan Silvi menarik-narik tangannya minta agar dilepaskan. Roi semakin kuat mendekap Silvi.
" Kak...R..." Roi langsung mengunci bibir Silvi. Cup..Roi mengecup bibirnya.
Roi menatap Silvi, Ia melihat wajah Silvi yang menegang.
Roi tak mau membuang waktu ia langsung mendaratkan ciumannya lagi di bibir Silvi. Kali ini Silvi sepertinya menikmati ciuman dari Roi.
" Ingat. Tidak ada orang lain yang bisa menyentuhmu, apalagi memelukmu seperti tadi." Roi melepaskan ciumannya.Ia meninggalkan Silvi yang masih berdiri dan sedikit gugup.
Setelah Roi keluar dari kamarnya, Silvi merebahkan tubuhnya di kasur, Ia membayangkan bagaimana Roi menciumnya tadi.sebenarnya hatinya sangat senang. Ia mengusap pelan bibirnya. Senyum tersunging di pipinya yang merona.
__ADS_1