
Pagi telah tiba tepatnya pukul setengah enam, Silvi mulai membuka sepasang matanya, masih kelihatan seperti berkabut, Silvi mengosok-gosok matanya itu dengan sangat pelan, perlahan ia duduk menormalkan kesadarannya. Ia menatap suaminya yang tertidur pulas disebelah lain ranjang tidur mereka.
Silvi mengingat ulahnya menggoda Roi kemarin, sudut bibirnya terangkat ke atas, meskipun Roi masih gugup bila berdekatan dengannya, sikap Roi sudah sedikit berubah tadinya dingin dan kaku sekarang sudah mulai perhatian walau hanya beberapa persen, menurut Silvi ada kemajuan kesehatan Roi. Mudah-mudahan Roi segera pulih gumannya dalam hati.
Cup...
Sebuah ciuman mendarat halus di bibir sang suami, rasanya sudah lama Silvi tidak menatap wajah suaminya sedekat ini, hembusan nafas Silvi di wajah Roi membuat sang pemilik wajah tampan itu terjaga.
" Hmm. Sedang apa kau?" Ucap Roi melihat wajah istrinya tepat dihadapannya.
Silvi tidak menjawab pertanyaan suaminya, ia merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya, tangannya mengelusnya dengan lembut area yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu, sesekali ia memberikan kecupan disana.
"Roi. Apakah kau tidak ingat sedikitpun tentang dirimu?" Silvi berusaha mengajak suaminya berbicara, sejak menderita amnesia Roi lebih banyak diam.
Roi mengerjapkan matanya, merenungkan sejenak perkataan istrinya, sebenarnya ia pun tidak menginginkan situasi seperti ini. Setiap detik Roi merasa tersiksa dengan apa yang dialaminya. Mencoba mengingat siapa dirinya. Tapi sepertinya itu mustahil.
" Maafkan aku. Aku tak berani memberimu harapan yang lebih. A..aku pun tidak mengharapkan situasi seperti ini diantara kita. Kau masih sangat asing bagiku." ucap Roi menatap langit-langit kamar, kedua tangannya melengkung ke belakang menopang kepalanya. Ia berusaha memberi Silvi pengertian.
Silvi menelan salivanya, sesungguhnya ia merasa sedih mengingat kejadian yang menimpa suaminya. Hitungan hari setelah pernikahan, mereka dihadapkan dengan kenyataan yang mengharuskan dirinya sabar dan kuat.
__ADS_1
" Roi. Aku selalu mendukungmu." Silvi memeluk erat tubuh suaminya.
Roi tersenyum hambar, naluri kemanusiaannya terpukul melihat kesedihan istrinya. Ia berjanji dalam hati akan memberikan perhatian yang lebih pada Silvi, apalagi sekarang ia dalam kondisi mengandung.
" Bagaimana perutmu ? Masih sakit ? " Roi mengalihkan tatapannya melihat perut Silvi yang masih rata.
" Sudah tidak. Itu bawaan bayi. Sampai usia kandunganku empat bulan." jawab Silvi tersenyum.
" What ? Selama itu ? Seharusnya kau lebih banyak istirahat di rumah. Tidak perlu memasak atau mengantarkanku makan siang. Kesehatanmu dan dia lebih penting." ucap Roi menunjuk perut Silvi
" Menyingkirlah dari tubuhku ! Aku akan siap-siap pergi bekerja." Roi menggeser sedikit tubuhnya agar Silvi memindahkan kepala dari dadanya. Roi melihat jam sudah hampir pukul tujuh. Ia punya janji dengan rekan kerjanya hari ini.
Roi tidak menjawab perkataan istrinya. Ia mengepal tangannya, meruntuki keadaan yang mengacaukan pikirannya, sebenarnya ia sudah bertekad akan memulai sesuatu yang baru dalam hubungan mereka. Hubungan layaknya suami dan istri, entah akan berhasil atau tidak Roi ingin berusaha. Roi menarik nafas panjang kemudian masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi Silvi sudah menyiapkan baju dan dasi yang akan dikenakan Roi.
" Biarkan aku memasangnya." Silvi mengambil dasi dari tangan Roi yang tadinya ingin dipasangkan sendiri.
Roi mengangguk pasrah. Menatap istrinya yang begitu dekat dengannya membuat hati Roi berdesir. Diakuinya Silvi sangat cantik. Bibirnya yang terbentuk dengan sempurna dengan warna merah alami yang mrmbuatnya tergoda untuk mengecupnya, tapi Roi berusaha menahannya karena baginya Silvi masih terlalu asing. Kulit putih dan mulus menambah daya tarik sendiri di matanya.
__ADS_1
Roi menggelengksn kepalanya menepis pikirannya yang mulai tidak terkontrol. Ia akan berangkat bekerja.
" Roi." Silvi memanggil namanya, meletakkan jari telunjuk dibibirnya meminta Roi memberikannya kecupan disana. Silvi menegadah sedikit keatas kemudian perlahan menutup matanya, bibirnya di condongkan sedikit ke hadapan Roi
Roi menelan salivanya, ia masih gugup untuk melakukannya.
" Cup." Silvi yang memulai mengecup bibir suaminya setelah beberapa saat ia menunggu Roi belum melakukannya.
" Kamu yang meminta seperti itu setiap aku selesai memasangkan dasimu." lanjut Silvi dengan wajah bersemu dan malu-malu.
Dengan sedikit kikuk Roi meninggalkan Silvi yang masih berdiri mematung memandang kepergiannya. Silvi akan berusaha mengembalikan ingatan Roi dengan melakukan kembali apa yang pernsh mereka lakukan dulu sebelum Roi kehilangan ingatannya.
bersambung
βββ
Readers....terima kasih ya...sudah menunggu dengan setia up date novelku.
maaf, agak lama, sebenarnya aku sudah up dari kemarin dan berusaha merangkai kata-kata untuk menggambarkan penyatuan Silvi dan Roi, oleh noveltoon ditolak beberapa kaliπ€π jadi harus di revisi lagi, semoga kalian senang dan terhibur ya.π
__ADS_1