Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Pekerjaan baru


__ADS_3

Bima tidak ingin pikirannya terbagi dengan Marissa, dipikirannya sudah jelas Marissa bukanlah perempuan yang baik-baik, melihat tampilannya saja Bima yakin kalau wanita itu bukanlah perempuan yang diidamkannya, di tambah lagi Marissa sekarang sering merokok. Bima mengutuki wanita itu yang ingin mencari keuntungan dengan memperalat dirinya.


Setelah Marissa dan Mars pergi dari ruangannya Bima melanjutkan pekerjaannya.


tret...tret...ponsel Bima bergetar.


"Datang ke ruanganku sekarang."


"Baik, tuan."


Tomas meminta Bima menemuinya di ruangan presiden direktur. Tidak berapa lama Bima sudah berada di hadapan Tomas.


"Duduklah ! Ada yang akan kubicarakan padamu. Tuan Rey akan menetap sementara di rumah orangtuanya di Medan. Pemimpin di tempat ini akan kuserahkan kepadamu sampai tuan Rey kembali." Tomas menyerahkan sebuah surat resmi yang bertuliskan keterangan bahwa Bima menjadi pemimpin di PEH.


"Baik, tuan. Saya akan mengerjakan semus tugas saya dengan penuh tanggung jawab." ucap Bima.


"Hmm. Terima kasih." Tomas mengulurkan tangannya untuk memberikan selamat kepada Bima.


***

__ADS_1


Alina sangat senang, tuan Morin memintanya bekerja di perkebunan menggantikan staf keuangan yang sedang cuti melahirkan.


"Tapi aku tidak tahu harus mengerjakan apa nanti disana." Alina berguman sendiri, sudah beberapa bulan tidak bekerja membuatnya sedikit gugup hari ini, ia takut melakukan kesalahan dalam pekerjaannya nanti.


"Alina ! Kau bisa berangkat dengan Rey. Setelah mengetahui lokasi perkebunan, nanti kau bisa menggunakan mobil ke sana." Alina mengangguk pelan mengiyakan ucapan Morin.


Alina mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke perkebunan, ia tidak mau Rey menunggunya terlalu lama. Alina memakai salah satu dress miliknya, yang panjangnya sedikit di bawa lutut kemudian di padukannya dengan blazer yang berwarna sepadan. Ia melihat dirinya di depan cermin tampilannya kini sudah sempurna. Setelah memakai sepatunya Alina bergegas turun dari kamarnya. Rey sudah menunggunya.


"Kamu sudah selesai ?" Rey bertanya ketika Alina tiba di hadapannya.


"Sudah." Alina tersenyum menanggapi pertanyaan Rey.


" Pakaianmu terlalu ketat."


"Apa ? Aku sudah memakai blazer, kan?" Alina memperhatikan tampilannya, ia rasa pakaian yang dipakainya masih normal.


"Tarik ke bawah bajumu." Rey melihat kedua paha mulus Alina karena baju yang dipakai Alina tertarik ke atas saat ia duduk.


Alina melihat bajunya yang tersingkap ke atas Oh..God. Kenapa aku tidak sadar ya. Dengan cepat Alina merapikan bajunya dan memperbaiki cara duduknya.

__ADS_1


Ia palingkan wajahnya kepada Rey. Hatinya mulai tenang ketika Rey fokus kepada setirnya, entah kenapa bila berdua dengan Rey perasaan was-was selalu menghantuinya.


"Untuk apa kau melihatku seperti itu ?" gawat Rey menyadari kalau Alina sedang memperhatikannya.


"Argh..tidak ada." Alina memalingkan wajahnya dari Rey.


"Jangan-jangan kau mengagumiku sekarang." Alina tidak mengubris perkataan Rey, ia mengambil ponselnya untuk mengurangi rasa gugupnya.


Rey semakin gemes kalau melihat Alina gugup dan malu seperti itu.


Rey memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan, ia menunggu Alina turun dari mobil. Rey akan mengantar Alina ke bagian keuangan untuk memperkenalkannya karena baru kali ini Alina bekerja di perkebunan.


"Selamat pagi, tuan." beberapa karyawan yang sedang bekerja langsung berdiri melihat Rey datang.


"Selamat pagi semua. Ini nona Alina ia sementara akan menggantikan karyawan yang cuti. Tolong bantu dia!" semua karyawan mengangguk mendengar ucapan Rey.


"Alina, kau boleh mulai bekerja." Alina tersenyum kepada semua orang yang ada di ruangan itu. Seorang wanita membawanya ke meja tempat Alina bekerja.


Rey pergi meninggalkan Alina, ia menuju ruangannya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2