
sekelebat bayangan seseorang sedang berjalan dengan sedikit berjingkat, pelan-pelan sambil memandang kiri kanan penuh kewaspadaan, takut ketahuan itulah sebabnya ia memilih cara seperti itu.
Klek
Dengan pelan ia membuka pintu rumah, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Dalam hati ia berharap mudah-mudahan semua pengawal yang berjaga untuknya sudah terlelap di alam mimpi.
Ia merogoh sesuatu dari saku celananya, sebuah gantungan kunci yang terbuat dari besi bergambar mobil dikeluarkannya.
Baru saja tangannya menyentuh gembok besar untuk membukanya, seseorang memegang bahunya dari belakang.
Terkejut dan refleks kunci yabg dipegangnya terlempar.
Dengan cepat tangan besar dan keras itu menutup mulutnya.
"Nona, ini aku." Marissa membuka matanya yang terpejam karena ketakutan.
"Bobi." ucap Marissa setelah tangan itu terlepas dari mulutnya.
"Aku mau pergi dari rumah ini. Aku akan meninggalkan semuanya Bob, semuanya.
Dan sekarang aku ingin bersama Bima." Marissa menjelaskan tanpa diminta.
"Nona..."
"Tolong jangan halangi aku. Hanya sekarang waktuku bisa pergi dari sini." Marissa meyakinkan Bobi.
Bobi menarik nafas berat, ia tidak tega melihat Marissa memelas di depannya, bagaimanapun ia masih harus melaksanakan perintah tuan Hadi.
"Aku tidak bisa, nona."
"Aku akan mati kalau saat ini kalian mengurungku di rumah ini. Aku akan menghabisi hidupku."
__ADS_1
"Nona. Tenanglah. Gunakan akalmu jika ingin melakukan sesuatu."
" Biarkan aku pergi. Hanya itu. Cukup!"
Bobi terdiam dan berpikir sejenak.
"Baiklah. Pergilah!"
"Bob..."
"Aku bersedia menerima ganjaran apapun dari tuan Hadi. Aku...aku akan bertanggung jawab. Pergilah bersama Bima. Sebelum mereka bangun." Bobi mendorong tubuh Marissa.
Ia bergegas mengambil kunci yang terjatuh di tanah, dibukanya pintu gerbang rumah.
"Pergilah! Bima pasti bisa menjagamu." Bobi mengantarkan Marissa keluar.
Untunglah layanan taksi online madih beroperasi, Marissa memesannya, dan tidak lama kemudian kendaraan yang siap mengangkutnya sudah berada di depannya.
"Antarkan nona ini ke tempat tujuannya dengan selamat." Bobi membantu Marissa naik ke mobil.
" Hati-hati." ucap Bobi sebelum taksi online itu membawanya pergi.
Sesampai di depan apartemen Bima, Marissa berjalan dengan cepat, hawa dingin sedikit menganggu ketenangannya. Entahlah apa yang akan terjadi, Marissa terlanjur mencintai Bima dan ada baby di rahim Marissa sebagai ikatan diantara mereka.
Dengan mudah Marissa masuk ke apartemen Bima, gelap..hanya ada sedikit cahaya dari bagian kamar.
Marissa langsung menuju kamar Bima, ia ingin segera bertemu dengannya.
Krek...
"Oh...astaga." Marissa melihat Bima sedang tidur di lantai, dua botol minuman alkohol yang sudah kosong berada di atas meja.
__ADS_1
" Dia mabuk." Marissa memandang wajah Bima yang terlelap karena pengaruh alkohol.
Marissa mengangkat tubuh Bima pelan-pelan, argh...kenapa ia berat sekali. Sesekali Marissa ngedumel melihat kekonyolan Bima.
"Hei...bangun." Marissa menggoyang-goyang tubuh Bima karena ia tidak sanggup mengangkat tubuh Bima untuk dinaikkan ke ranjang.
" Bim...Bima.."
Separuh sadar Bima melihat bayangan seorang wanita dihadapannya.
"Siapa kau ? Pergi jangan ganggu aku." Bima menepis tangan Marissa dari lengannya.
" Aku Marissa." dengan sengaja Marissa berteriak dihadapan Bima, ia kesal melihat sikap Bima.
Menjengkelkan!
Bima melebarkan matanya, menatap Marissa yang sedang melihatnya dengan wajah kesal.
" Kau..." Marissa semakin jengkel.
" Aku pulang saja."Marissa membiarkan Bima dan ia bersiap untuk berdiri
Tangan kokoh Bima menarik.
"Mau kemana?" Tubuh Marissa jatuh begitu saja di tubuh Bima.
"Lepaskan ! Kau itu sedang mabuk." Marissa memukul dada Bima dengan gemas.
Bima semakin mengeratkan pelukkannya.Kali ini ia tidak akan membiarkan Marissa pergi.
Bersambung
__ADS_1