
Silvi masih diam tertunduk. Barusan ia mendengar pengakuan Roi. Nga ada manis manisnya, masa bilang cinta gitu doang bathin Silvi.
" Baiklah ! Aku tidak memaksamu untuk menjawabnya sekarang." ucap Roi.
Ia bergegas meninggalkan Silvi yang masih duduk diam dan tidak mau menatap Roi.
Ceklek..
Suara daun pintu yang tertutup membuat Silvi menoleh, Roi baru saja keluar dari kamarnya. Ada perasaan lega di hati Silvi. Ntah kenapa akhir-akhir ini ia sering merasa benci pada Roi tapi di sisi lain dia juga marah dan kecewa jika Roi berduaan dengan Ester di kantornya.
" Bagaimana Roi ? Apa kalian sudah membicarakannya dengan baik ?" Mary menghampiri Roi yang baru keluar dari kamar Silvi.
Roi menganggukkan kepalanya dengan wajah lesu dan tak bersemangat.
" Keputusannya ? " Mary bertanya dengan rasa penasaran, Ia berharap Roi dan Silvi sudah memutuskan kesepakatan yang baik.
" Ntahlah opung. Kelihatannya hubungan kami ini rumit, dan semuanya terlihat sulit, mungkin Roi akan menyerah saja. Silvi memang benar-benar tidak menginginkan aku." terang Roi
Mary hanya bisa diam sambil memandang wajah Roi yang sedang tidak bergairah.
" Bagaimana dengan perasaanmu Roi ? Kau juga tidak mencintai Silvi kan ? " tanya Mary kemudian.
Roi menatap lekat wajah perempuan setengah baya di hadapannya, ingin sekali ia memeluknya, meminta kekuatan agar ia tidak selemah ini, mengingat Nita yang belum tiba dari kepulangannya di Hongkong.
" Aku mencintainya Opung. Tapi apakah perasaan ini penting sekarang ? " Akhirnya Roi memeluk erat Mary.
__ADS_1
" Roi..Roi...Opung dan mamihmu sudah punya rencana untuk hubungan kalian. Tunggu Nita pulang. Mudah- mudahan Silvi bisa menerimamu " Mary mengelus- elus punggung Roi.
" Rencana apa opung ? " Roi melepaskan pelukkannya sambil memandang Mary penuh tanda tanya.
" Hmm..ini masih rahasia." Mary menatap Roi tersenyum. " Sudah siang, apa kau tidak pergi bekerja ?" Mary bertanya dan sengaja mengubah arah pembicaraan.
Silvi baru saja turun dari kamarnya, Ia terkejut Roi masih ada di rumah opung Mary.
Roi menatap Silvi yang berjalan menuruni tangga, penampilannya yang sudah rapi dan terbilang cantik membuat Roi sedikit curiga.
" Mau pergi kemana kau ? Bukankah kau sudah tak ingin bekerja lagi ? " tanya Roi dengan dingin sambil menatap tajam Silvi.
" Aku mau ke perusahaan papa." jawab Silvi ketus dan melewati Roi begitu saja yang berdiri dihadapannya.
" Arggghhh. sakit." teriak Silvi ketika Roi menarik tangannya dan membawa Silvi ke luar menuju mobilnya.
" Apa yang kau lakukan Roi ! Lepaskan ! " jerit Silvi sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Roi.
" Diam ! Atau kau ingin aku berbuat kasar !" ucap Roi penuh emosi dan memasukkan Silvi ke mobilnya, kemudian ia mengitari mobilnya dan sudah duduk di belakang setir mobilnya.
" Kau tunanganku, kurasa aku perlu mengingatkanmu !" ucap Roi ketus.
" Kau selalu seenaknya, kau nga pernah memikirkan perasaanku, kau egois Roi." jerit Silvi dengan marah.
" Teriaklah ! Aku tak peduli. Kau tidak bisa pergi tanpa aku." Roi membawa mobilnya keluar dari kediaman Robert dan Mary.
__ADS_1
Mary sedikit cemas melihat Roi membawa pergi mobilnya dengan hati yang marah. Ia takut sesuatu terjadi kepada Silvi dan Roi.
Sementara di jalan Roi membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Silvi takut dan gemetar.
" Apa yang ingin kau lakukan Roi ? Apa kau sudah gila, hah ? Aku belum mau mati. Hentikan Roi." lagi lagi Silvi berteriak kepada Roi.
Roi tidak menghiraukan perkataan Silvi, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
" Roi ! Kalau kau tak berhenti aku akan melompat dari mobil ini."
Mendengar ancaman Silvi, Roi akhirnya memberhentikan mobilnya. Ia memukul stir di depannya. Ia sedang marah.
" Roi. A...a..ku minta maaf." ucap Silvi.
Roi masih diam mematung, jantungnya berdetak lebih cepat dari yang biasa, bahunya naik turun menahan emosi di dadanya.
Dengan pelan Silvi menggenggam tangan Roi. Sebenarnya ia sangat takut melihat Roi seperti itu.
" Roi. Sekali lagi aku minta maaf, tolong jangan gini lagi, aku takut Roi."
Roi melihat tangan Silvi yang sedang mengenggam tangannya, kemudian ia menatap Silvi, wajah itu pucat dan dilihatnya Silvi masih gemetar. Arghh...Roi merasa bersalah atas tingkahnya tadi.
Roi menarik Silvi ke dalam pelukkannya. Jelas Roi merasakan rasa takut Silvi.
__ADS_1
Bersambung