
Setelah makan siang selesai, Adnan sudah menyiapkan meja kerja untuk Silvi. Meja, kursi dan beberapa peralatan tulis menulis yang di perlukan.
Argh..akhirnya aku bisa bekerja.
" Terima kasih Adnan." ucapku tersenyum kepada Adnan
tok..tok...
" Selamat siang nona Silvi, apa kau nyaman bekerja di ruangan ini ?" satu pertanyaan muncul dari orang yang membuatku kesal.
" Baik. Semuanya cukup memuaskan, tentu aku nyaman." jawabku yang masih sibuk membereskan beberapa file yang akan diperiksanya sebentar lagi.
" Bila nona Silvi memerlukan sesuatu, boleh bertanya kepada saya."
" Terima kasih." jawabku singkat
Adnan masih berdiri di dekat meja kerjaku, Dia memeriksa kembali letak meja kerjaku, apakah sudah cocok dan nyaman saat aku bekerja.
Ester melihat Adnan yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
" Adnan. Nanti malam ada perayaan di Club, tuan Roi mengajak beberapa karyawan, apa kau mau ikut ?" Ester menyapa Adnan
Aku sedikit terkejut, perasaan Roi tidak ada mengatakan ada acara malam perayaan di club.
" Aku sudah tahu. Setelah tuan Roi selesai meeting kami langsung kesana." jawab Adnan.
" Baiklah. Selamat bekerja nona Silvi."
Ester meninggalkan kami dengan senyum liciknya.
Setelah semua urusan selesai, Adnan meninggalkanku di ruangan sendirian. Roi sedang ada meeting dengan rekan bisnisnya.
Aku mempelajari file-file yang ada dihadapanku. Adnan sudah menjelaskan apa yang harus aku kerjakan.
__ADS_1
Sudah pukul setengah lima, aku keasyikkan bekerja sehingga lupa waktu. Aku beresin file-file di mejaku tentu besok akan kulanjutkan. Aku bergegas keluar ruangan, aku ingin pulang pasti pak Anton sudah menungguku.
" Silvi."
" Ei..Rianti."
Sukurlah aku bertemu dengan Rianti di lift. Aku sangat senang akhirnya aku punya teman di tempat aku bekerja.
" Mengapa kau turun dari lantai atas bukankah bagian keuangan ada dua lantai di bawah ?"
Aku tersenyum ingat kemarin aku berbohong kepada Rianti.
" Tuan Roi memintaku jadi asistennya." jawabku malu - malu.
" Ohh...ternyata kau bekerja di ruangan tuan Roi. Pasti menyenangkan, kau selalu ketemu dengan petinggi perusahaan ini." Rianti sedikit terkejut mendengar jawabku.
" Emang ada keuntungannya ? bagiku sama saja, toh gajiku tidak akan di tambahkan." jawab Silvi terkekeh
Akhirnya mereka sampai di basement, Rianti berjalan mendekati mobilnya.
" Iya..ya..aku parkir di sana." aku sengaja menunjukk ke arah belakang tempat mobil Rianti di parkir.
Aku melambaikan tanganku meninggalkan Rianti, setelah ia masuk ke mobil cepat-cepat kuhubungi pak Anto agar menungguku sebentar lagi. Aku ingin Rianti pulang duluan.
Sesungguhnya hanya Adnanlah yang tahu kalau aku adalah tunangan Roi. Aku dan Roi sepakat tidak mempublikasikan hubungan kami karena kami juga masih ragu-ragu menjalani hubungan ini. Kami dijodohkan dan akan dinikahkan tanpa rasa cinta.
👀👀👀👀👀
" Silvi." namboruku Nita menghampiriku. " Sebentar lagi kita akan pergi, kau pakai gaun ini sayang, ayo..siap-siaplah." Nita menyerahkan paper bag ke tanganku.
" Kita mau kemana namboru ?"
" Apa? Roi tidak memberitahumu ada perayaan di club. Keterlaluan anak itu."
__ADS_1
Silvi merasa kecewa karena Roi tidak memberitahunya, mungkin Roi tidak ingin aku ikut dalam perayaan itu.
" Silvi kau berangkat dengan Namboru dan amangboru saja. Ayo..sekarang bersiaplah, sebentarlagi kita berangkat." ucap Nita meninggalkan Silvi di depan kamarnya.
👀👀👀👀
Sebenarnya suasana di club tidak asing bagiku, hanya saat ini aku tidak bebas karena aku ke club untuk malam perayaan pengangkatan CEO yang baru, Amangboru dan namboruku juga Roi ada di sini.
Setelah beberapa sambutan akhirnya acara yang berbau sambutan dan perkenalan selesai, seluruh karyawan perusahaan yang hadir bisa melanjutkan acaranya masing-masing.
Aku tak melihat Roi , setelah sambutan-sambutan itu aku memilih duduk di sofa sendiri, kuhubungi Rianti yang tadi sore sempat memberiku nomor ponselnya.
" Hai ! Bisa saya duduk disini ?" suara pria di depanku menghentikan jari-jariku yang sedang sibuk menghubungi Rianti.
" Hmm. Silahkan. " jawabku singkat
" Aku Bernard. Aku karyawan Michell grup. Aku dibagian pemasaran." laki-laki itu memperkenalkan dirinya.
" Silvi. " jawabku dengan senyum samar.
" Kau tidak minum ?"
" Lagi malas."
" Aku akan memesankan untukmu." laki - laki itu memberi isyarat ke pelayan agar membawakan minuman ke tempat kami.
" Mau turun dance denganku ?"
" Bolehlah. "
Ternyata laki-laki itu bersahabat juga dari pada aku diam duduk bengong disana, nga pa pa lah setelah ini aku langsung pulang saja.
Aku dan Bernard sudah bergabung dengan yang lain sekedar dance, untuk bersenang -senang seperti yang lain. Argh..sepintas aku melihat Roi sedang bergoyang ria juga dengan seseorang. Ya..itu Ester.
__ADS_1
Dasar !
Bersambung