
Pesta pernikahan Rey dan Alina sudah di depan mata. Silvi dan Indah sangat senang melihat kebahagian adiknya, Rey akhirnya akan memiliki cinta Alina.
Roi dan Togar turut membantu persiapan demi persiapan yang sedang dilakukan pihak keluarga. Undangan elektronik sudah dikirimkan kepada sanak saudara dan keluarga besar.
Morin dan Uli sangat disibukkan dengan ritual adat istiadat batak yang akan dilaksanakan untuk menjadikan Alina menantu di keluarganya.
Leo dan Karissa selaku orangtua dari Morin ikut dalam prosesi adat untuk menyematkan nama keluarga untuk Alina. Simanjuntak nama keluarga yang diberikan kepada Alina, nama keluarga dari mamanya Rey, yaitu Uli Simanjuntak, dengan begitu mereka dinyatakan sebagai pariban.
Pihak keluarga Alina boleh dikatakan hampir tidak ada, mama dari Alina sendiri sudah tidak ada ketika ia masih bayi, Radit papanya tidak begitu dekat dengan keluarga almarhum istrinya sejak istrinya meninggal.
"Restui aku ayah." Alina memeluk kedua kaki Radit.
__ADS_1
"Sayang, jangan seperti ini. Semua ayah lakukan untuk kebahagiaanmu. Rey akan menjaga dan membahagiakanmu." Radit memegang kedua bahu putrinya kemudian mengangkat tubuh putrinya perlahan.
"Ayah merestuimu. Maafkan ayah jika tidak bisa membahagiakanmu. Ayah berharap masa depanmu tidak seperti yang ayah alami." Radit tidak tahan untuk tidak meneteskan air matanya melihat putrinya Alina yang akan melangsungkan pesta pernikahannya beberapa hari lagi.
Semua keluarga besar Morin dan Uli sedang berkumpul di kediaman Leo dan Karissa, sebab pesta pernikahan akan diadakan di Samosir. Rey dan Alina yang memintanya.
Saat ini Alina ingin bersama dengan ayahnya, baginya Radit orangtua yang sangat menyayanginya, tidak pernah mengeluh, masalah datang silih berganti tidak satupun membuatnya putus harapan. Radit selalu berusaha tampak tegar dihadapan Alina.
Prosesi adat batak sudah dilaksanakan seminggu yang lalu, meminta Alina secara resmi dari orangtuanya utuk menikah telah dilakukan oleh tua-tua kepala adat setempat.
"Ada apa denganmu?" Indah yang melihat adiknya Rey gelisah bertanya.
__ADS_1
"Aku hanya sedikit tidak sabaran sudah hampir satu minggu aku tidak bertemu Alina." Roi yang mendengar pengakuan adik iparnya itu tersenyum geli.
Roi teringat bagaimana ia begitu tidak sabaran untuk bertemu Silvi ketika mengalami masa seperti Rey sekarang. Lucu sekali melihat Rey seperti itu, apa aku juga seperti itu dulu. Roi menggelengkan kepalanya, secara pribadi ia tidak menerima kalau dirinya dulu juga seperti Rey sekarang.
"Hanya dua hari lagi kok, masa sih kamu engak bisa nahan rindu." Silvi mengolok adiknya yang terlihat manyun.
Togar tidak berkomentar baginya sikap Rey itu wajar-wajar saja, jadi ia tidak bisa bilang apa-apa, dan mengenai kebiasaan dari adat batak yang mengharuskan calon pengantin berpisah sejenak tidak dapat dimengerti Togar, karena ia sendiripun kurang memahami adat istiadat batak.
Morin dan Uli yang tidak sengaja mendengar keluhan putranya itu hanya tersenyum, Rey memang tidak bisa berlama-lama dipisahkan dari Alina. Masih ingat kan? ketika Alina pergi, Rey putus harapan bahkan sampai menyakiti dirinya sendiri.
"Sabar Rey. Siapkan tenagamu untuk dua hari ke depan. Istirahatlah yang banyak sekarang, sebab bila sudah menikah dengan Alina kau akan susah untuk beristirahat." Roi malah menggoda Rey.
__ADS_1
Semua keluarga yang berkumpul di kediaman Leo pun ikut tertawa. Rey malu sendiri dan kemudian ia pergi meninggalkan orang-orang usil yang menggodanya sedaritadi.
bersambung