
Hari sudah pagi, alarm dari ponsel Silvi sudah bernyanyi dengan suara nyaring, perlahan Silvi membuka jelopak matanya, sesekali ia menggosok pelan matanya yang masih berat untuk terbuka.Setengah enam ucapnya dalam hati.
Sebenarnya ia masih enggan untuk bangun, seketika ia ingat Roi, dan ia mulai mencek chat yang masuk satu persatu dan hasilnya nihil, Roi dan Adnan ternyata tak menghubunginya kembali, bahkan tak mengirimkan kabar. Ada perasaan kecewa di hati Silvi, setelah hubungannya membaik dengan Roi, Ia merasa sedih juga kecewa karena sepertinya Roi mengabaikannya.
Arghhh! Mengapa aku jadi seperti ini ? Bukankah sebelumnya aku bisa cuek terhadap sikap Roi.
Silvi mulai mengingat-ingat kembali perbuatan Roi yang membuatnya kesal, cemburu ! kata itu mungkin lebih tepat.
Ia mulai membayangkan ketika Ester berada di dekat Roi, menyiapkan kopi untuknya setiap pagi, merapikan pakaian Roi sebelum ke ruang meeting, menyiapkan berkas-berkas penting untuk pekerjaan Roi.Ya..Ester adalah sekretaris Roi yang pintar dan cantik, Silvi mulai mengakui keunggulan Ester dari dirinya, ia sudah mulai menyadari kekurangannya sendiri.
Argh..aku hanya membuat masalah, Roi pasti lebih memilih Ester, Ia menyukaiku karena kami masih ada hubungan keluarga.
tok..tok..seseorang mengetuk pintu kamar Silvi, Ia bergegas turun dari tempat tidurnya.
" Namboru." Silvi melihat perempuan setengah baya yang dihadapannya, Nita sudah segar dan kelihatan cantik.
" Sayang, kau baru bangun? Bersihkan dirimu ! kita akan sarapan bersama." ucap Nita memandang Silvi yang masih berantakan.
" Iya namboru." ucap Silvi sambil menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Sepeninggal Nita, Silvi cepat-cepat membereskan tempat tidurnya, hal itu selalu dilakukannya meskipun ada asisten rumah tangga yang setiap pagi membersihkan kamarnya.
Setelah beres dengan tempat tidurnya, Silvi langsung mandi hanya butuh lima belas menit, ia sudah menyelesaikan aktivitasnya di kamar mandi, dan berpakaian sedikit formal dan menghias wajahnya dengan make up minimalis, sekarang ia siap turun untuk sarapan, Ia berpikir pasti Roi dan namborunya sudah menunggunya.
Ia berlari mempercepat langkahnya, tak sabar rasanya ia ingin segera duduk di meja makan bersama Roi dan namborunya.Tapi....kenyataan apa yang dilihat olehnya, hanya ada namborunya duduk sambil menikmati susu kalsiumnya.
" Kau sudah selesai, kemarilah sayang, ini ada file yang harus segera kau periksa, Adnan mengantarnya tadi malam." ucap Nita sambil memberikan beberapa berkas yang sudah tersimpan rapi di dalam map.
" Jadi..,kak Roi tidak pulang tadi malam namboru ?" tanya Silvi dengan nada tidak bersemangat.
" Dia masih banyak urusan, Ester menemaninya di sana, Adnan akan membantu pekerjaanmu disini, dan satu lagi..." Nita menjedah ucapannya, ia melihat Silvi sedikit kecewa dan sedang tidak bersemangat dengan sarapannya.
" Hmm..tidak namboru." ucap Silvi tersenyum yang dipaksakan.
" Roi kemungkinan akan menginap beberapa hari untuk menyelesaikan pekerjaannya, jadi kau bisa membantu Adnan menghandle pekerjaan Roi."
" Iya namboru." Silvi meminum habis susu yang ada digelasnya.
" Selesai. Aku pamit namboru." Silvi mengambil tangan namborunya, seperti biasa ia mencium punggung tangan Nita.
__ADS_1
Silvi berjalan keluar rumah.
" Silvi...Silvi..." teriakan Nita menghentikan langkahnya.
" Kau tidak membeli gaun untuk acara besok?" tanya Nita.
" Tidak perlu namboru, gaun Silvi masih banyak,juga selama disini Silvi nga kemana-mana." terang Silvi.
" Hmm. Baiklah, terserah kamu sayang."
Silvi akhirnya meninggalkan kediaman Michell Chan, hilang sudah separuh semangatnya, Roi benar-benar mengabaikannya. Ia harusnya tidak mempercayai semua ucapan Roi kemarin, bilangnya hanya ada aku di hatinya, tapi ia lebih betah bersama Ester disana, dan melupakan diriku, Arghh..mengapa aku terlalu bodoh.
Pak Anton memperhatikan Silvi dari kaca spionnya, ia heran melihat Silvi seperti berbicara seorang diri, menggelengkan kepalanya dan menurut Anton sedikit aneh.
Silvi menatap ke depan tak sengaja matanya memandang pak Anton yang melihatnya dari kaca spion, Pak Anton cepat mengalihkan pandangannya dari Silvi.
" Hmmm. Hati-hati pak, nanti kita bisa celaka kalau bapak lihat saya terus." ucap Silvi menahan rasa malunya.
" Iya...iya non." jawan Pak Anton gugup.
__ADS_1
Bersambung