
Morin menatap putranya yang masih berdiri seolah-olah dihakiminya. Tidak ada yang tidak diketahui Morin tentang Rey. Semua yang di lakukan Rey diketahui oleh Morin, setiap hari Tomas melaporkan apa yang dilakukan Rey, termasuk cerita tentang wanita yang dekat dengan Rey.
"Kau sudah ingin menikah?" Morin langsung bertanya kepada Rey yang sudah duduk di depannya
" Ada apa? Papa baru saja bertemu denganku, sudah membicarakan tentang pernikahan." sebenarnya Rey kesal dengan perkataan papanya, tidak ada hujan tidak ada badai ujuk-ujuk menanyakan tentang pernikahan.
"Sudah waktunya kau membentuk satu keluarga, selain kau tidak mengganggu hubungan orang lain, seusiamu juga sudah diperbolehkan menikah."Morin menatap mata putra bungsunya itu.
Rey terkejut dengan kalimat yang barusan diucapkan oleh Morin. Apakah ia mengetahui kalau aku mengganggu hubungan Alina dan Bima ? Rey bertanya-tanya dalam hati.
Tomas yang berdiri dan sebagai pendengar omongan antara ayah dan anak di depannya. Dipandangnya Rey yang diam dengan kening yang berkerut. Tomas tahu apa yang dipikirkan tuannya itu.
"Orangtua Marissa masih berharap hubunganmu dan putrinya bisa baik kembali." Morin memulai lagi pembicaraan.
"Oh. No, papa. Aku sudah tidak tertarik membicarakan dia." Rey cepat menjawab pernyataan papanya.
Morin menatap putranya, dilihatnya Rey serius dengan perkataannya, mimiknya menunjukkan kalau ia sudah tidak ingin membahas Marissa.
"Atau kau punya wanita lain yang kau sukai?"nada bicara Morin pelan tapi tegas.
Sejenak Rey berpikir apakah ia berani mengutarakan bahwa ia menginginkan Alina, menikah dengan orang yang dicintainya tapi latarbelakang yang bukan suku batak dan juga putri dari kalangan yang tidak sekasta dengan keluarganya membuat ia ragu mengutarakannya.
Alina adalah tipe wanita yang didambakannya, sederhana namun cerdas, keibuan dan mandiri. Rey mengakui kalau Alina adalah sosok yang diinginkan kaum pria, hanya ia terlalu menutup diri, berdandan seadanya dan tidak mengikuti style kaum wanita kekinian seperti wanita lain.
__ADS_1
"Rey!"
Suara Morin membuat Rey tersentak."Beri aku waktu lima bulan ke depan, pa. Aku akan membawa wanita yang kucintai kehadapan papa dan mama."
Lengkungan di bibir Morin hadir begitu saja, rupanya putranya sedang menawar perkataannya.
"Baik. Dan ingat bukan wanita yang sudah bertunangan dengan pria lain." Morin menegaskan kalimatnya dengan nada sedikit menekan agar Rey memahami maksudnya.
Tomas yang berdiri berseberangan dengan tempat Rey terlihat gusar, sudah pasti tuannya itu akan menanyainnya seperti penjahat yang menjadi tersangka.
"Berapa kau dibayar papa, hah ?"Rey tahu pasti asistennya itu yang membocorkan semua berita tentang dia kepada Morin.
Setelah kepergian Morin, Rey menarik Tomas ke ruangannya. Ia mulsi menginterogasi orang kepercayaannya itu.
"Berani kau! Ngomong lagi, kau tidak gajian bulan ini." Rey melempar pulpen yang dipegangnya ke pada Tomas. Dengan gerakan cepat Tomas menangkapnya sehingga tidak mengenainya.
*
*
Hari ini Bima mengajak Alina untuk makan siang bersamanya. Bima mengira bahwa tunangannya itu semalam lembur bekerja, tugas Alina sebagai sekretarisnya memang terbilang banyak. Dari mengurus jadwal Bima dan juga jadwal mahasiswa yang ingin bertemu dengannya. Belum lagi kalau Bima harus bekerja keluar kota, Alina dipastikan akan kerepotan menghandel tugas-tugasnya.
"Pilih menu yang kamu sukai." Bima membawa Alina makan di suatu restoran yang terkenal dengan makanannya yang lezat.
__ADS_1
"Untuk apa makan di tempat seperti ini? Pasti harga makanannya semua mahal." Alina berbisik mengutarakan keberatannya agar tidak didengar pengunjung lain.
Bima tertawa melihat Alina yang kelihatan sewot.
"Hanya sekali-sekali kok. Lagi pula kita perlu waktu sejenak untuk berdua, lupakan sehenak pekerjaan."
Begitulah Alina baginya uang harus dipergunakan dengan sangat hati-hati. Seribu rupiahpun harus jelas untuk keperluan apa. Disitulah letak kelebihan Alina dari cewek-cewk yang lain, kalau yang lain pingin barang-barang mahal dan berkelas, Alina sama sekali tidak tertarik akan itu semua baginya memakai barang lokal dan sederhana adalah cukup.
"Ini buat kamu, kalau mau beli sesuatu pakai saja kartu ini." Bima meletakkan kartu berwarna hitam yang baru dikeluarkannya dari dompetnya.
"Apa ini?"
"Unlimited. Pakai saja."Bima memasukkan kembali dompet ke dalam saku celananya.
"Aku punya uang sendiri, aku tidak mau merepotkanmu."
"Hei...kau kira aku siapa? Aku tunanganmu, Alina."
" Aku tahu tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya." Alina mendorong kembali kartu yang diberikan Bima dihadapannya.
Akhirnya Bima mengambil kembali kartu kredit yang dikembalikan Alina. Ia tidak mengapa karena sudah mengerti pribadi Alina.
Bersambung
__ADS_1