
Pagi ini Alina berangkat dari kediaman Silvi, waktu masih subuh ia sudah berkutat di dapur, ia bisa membayangkan kerepotan Silvi bila dua babynya sudah bangun, Al dan El adalah bayi yang sedang aktif-aktifnya jadi Alina membuatkan sarapan saja dulu, nanti jam delapan asisten rumah tangga sudah ada yang membantu Silvi.
Silvi memasak sup ayam jagung, selain baik untuk dikomsumsi ibu hamil, bisa juga di makan Al dan El, sekarang usia kedua baby itu enam bulan sudah boleh makan makanan pendamping ASI.
" Kau sedang apa ?" Rey yang ingin ke dapur untuk mengambil air minum kaget melihat Alina sudah sibuk di dapur.
" Sedang membuatkan sarapan, tuan." Alina fokus dengan bumbu-bumbu masak di hadapannya.
Pandangan Rey tak lepas melihat kecakapan Alina dalam mengolah bumbu-bumbu dapur yang sedang dicucinya. Dia bangun sepagi ini untuk memasak. Apa ia tidak mengantuk. Rey menggelengkan kepalanya, setelah ia meneguk minumannya ia bermaksud meninggalkan Alina dengan kesibukkannya sendiri.
"Bisa tolong nyalakan kompor ini ?" Alina sudah mencoba menyalakan kompor untuk mulai memasak, tetapi ia heran kenapa tidak menyala terus.
Rey menghampiri Alina, ia memeriksa kompor tersebut, dan sebentar kemudian kompor itu menyala, entah tombol apa yang di putar hingga kompor itu bisa nyala.
" Ini ada tombol off dan on nya nyalakan dulu agar kompornya bisa dipakai." Alina mengangguk tadi ia tidak memperhatikan tombol yang ditunjukkan Rey kepadanya.
" Terima kasih." Ucap Alina dan memulai kegiatan memasaknya. Alina merebus ayam yang sudah disiapkannya, kemudian akan menggoreng bumbu-bumbu yang sudah dihaluskan, ia terkejut ketika berbalik untuk mengambil garam yang berada di atas meja, Rey masih berdiri memperhatikannya sedari tadi.
Alina gugup melihat tatapan Rey, ia bermaksud menjauh agar bisa leluasa bergerak.
" Aku hanya memastikan kau bisa memakai kompor itu. Aku khawatir bila terjadi hal yang tidak diinginkan terjadi di rumah kakakku." Ucap Rey kemudian meninggalkan Alina.
Kenapa aku begitu bodoh berdiri di sana memandangi ia melakukan pekerjaannya, untung aku bisa memberi alasan yang tepat, kalau tidak dimana harga diriku.
Setelah beres dengan pekerjaannya Alina membersihkan dirinya, ia bersiap-siap berangkat ke kampus, Alina mencoba memakai riasan dengan alat make up yang dibelinya dengan Rara kemarin, setelah memahami cara memakainya Alina bertekad ingin mencoba.
Setelah beberapa menit poles sana poles sini ia melihat dirinya di cermin.
" Wow. Apa ini aku ?" Alina mencoba menutup matanya kemudian membuka kembali sambil ia menepuk-nepuk pipinya. " Aku bukan sedang berimajinasi kan?" tanyanya pada diri sendiri.
Hari ini Alina tampil berbeda, ia mencoba memakai kemeja berwarna kuning kemudian dipadukan dengan rok plisket berwarna coklat, tampilannya begitu manis dan terkesan dewasa.
" Alina ! Kau berangkat dengan siapa?" Silvi yang baru muncul dari balik pintu kamarnya buru-buru mendapatkan Alina yang sudah mau pergi.
" Pagi tante ! Aku naik ojek online. Sudah di pesan tinggal nunggu di depan." jelas Alina.
" Hmm. Hat-hati ya. Ada ongkosnya ?"
__ADS_1
" Ada tan. Terima kasih, aku berangkat dulu ya." Silvi mengangguk mengiyakan
*
*
Di kampus
"Aish. Kamu pakai jampi apa Al ? Cantik sekali." Rara memutar tubuh Alina dan terus memandang penampilannya yang berubah hari ini.
" Aduh. Apaan sih, Ra ? Malu tau " Alina takut jadi bahan pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar mereka. Soalnya Rara seperti histeris gitu melihat perubahaan Alina.
" Gimana enggak norak kan ?" Alina berbisik di telinga Rara setelah ia berhenti memutar-mutar tubuhnya.
" Enggaklah ! Pokoknya cantik deh." ucap Rara menyemangati Alina.
Karena jam kuliah akan dimulai Alina dan Rara berpisah untuk masuk kelas masing-masing. Sebelum masuk kelas Alina singgah di toilet dulu disana ada cermin ia mau memastikan penampilannya dulu, ternyata mengubah penampilan harus punya kepercayaan diri yang tinggi๐
Setelah puas memandang dirinya di depan cermin ia bergegas masuk kelas.
Braakk...
" Maaf. Saya tidak sengaja." Alina bingung mendengar suara seseorang minta maaf.
Alina mendongakkan kepalanya melihat siapa laki-laki yang sudah berdiri di hadapannya.
Sial ! Kenapa sih aku harus sering menabrak orang guman Alina sambil memukul keningnya. Dasar bodoh !
" Anda tidak apa-apa kan ?" pria itu berdiri mensejajarkan wajahnya di depan Alina.
" Hmm. Enggak apa-apa kok. Saya yang kurang hati-hati. Maaf, ya !" Alina merapikan pakaiannya kemudian meninggalkan pria itu.
" Tunggu ! Ini ponselmu. Tadi jatuh disana." Alina menerima ponselnya yang memang terjatuh tadi, ia sampai lupa karena takut jadi bahan perhatian orang lain.
" Aku Mars. Boleh tahu siapa namamu ?"
" Alina." Alina berlari meninggalkan Mars begitu saja karena jam kuliah sudah mulai lima menit yang lalu.
__ADS_1
" Menarik." Senyum licik terpancar diwajahnya.
Mars menarik kembali tangannya yang menggantung di udara, Alina tidak menanggapi uluran tangannya, jiwa lelaki sejatinya merasa tertantang, sekali hentakan dipukulkannya tangan ke udara , tersenyum penuh arti, selama ini ia belum pernah ketemu model cewek seperti Alina.
***
Rara mengajak Alina pulang bareng, karena alasan banyak pekerjaan Alina menolak ajakan Rara, ia tahu kalau pulang dengan Rara pasti mampir dulu ke tempat lain, ngajak makan dululah, ke toko buku dululah, atau sekedar nongkrong di mall sebentar.
Alina sadar kalau tenaganya sangat dibutuhkan oleh Silvi, sebentar lagi asisten rumah tangga Silvi akan pulang, Alina bisa membayangkan kerepotan Silvi mengurus bayi-bayi aktifnya, itulah sebabnya Silvi meminta Alina untuk membantunya selama Roi bekerja di luar negeri.
" Ayo naik !" pucuk dicinta ulampun tiba. Mars serasa ditimpah rezeki besar hari ini, setelah pertemuannya tadi dengan Alina, sekarang malah dipertemukan lagi di halte depan kampusnya. Mars tahu Alina sedang menunggu angkutan umum untuk pulang.
" Maaf. Siapa ya ?" Mars membuka helm sport yang menutupi sebagian wajahnya hingga Alina dapat mengenalnya.
" Oh, kamu. Terima kasih ojekku hampir sampai." Alina meruntuki dirinya mengapa ia tidak membawa saja motornya ke apartemen Silvi, ia kan enggak perlu nunggu seperti ini.
Sepasang mata memandang Alina dengan geram, ia kenal itu Mars dari motor sportnya. Buaya darat yang tidak berhenti dengan satu cewek di sisinya. Dan bodohnya Alina pasti akan menjadi mangsa berikutnya.
" Ada apa, beb ? Kok kamu sepertinya kesal gitu sih ?" Marissa yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya merasa heran karena mobil Rey tidak maju-maju, dilihatnya Rey di belakang setir wajahnya seperti orang sedang kesal.
Rey malah turun dari mobilnya, ia berjalan ke depan dimana Alina masih ngobrol dengan Mars, ditariknya tangan Alina agar ikut dengannya.
" Hei ! Lepaskan !" teriak Alina yang tidak siap dengan perlakuan Rey.
" Kak Silvi menyuruhmu cepat pulang. Kau malah buang-buang waktu ngobrol dengan cowok disini." Alina tidak berkutik menjelaskan pun sudah tidak berguna Rey sudah mendorongnya masuk ke dalam mobil
bersambung.
โโโ
hai...hai....readers yang terkasih
Author mengucapkan banyak terima kasih๐๐sudah kasih jempol dan love-lovenya buat novel ku
Alurnya dibuat maju mundur ya...Silvi dan Roi and Togar dan Indah masih meramaikan cerita di episode berikutnya.
Kasih komennya dong....biar author semangat nih...
__ADS_1
like dan votenya juga ditunggu lho.
๐๐๐ป