
Setelah selesai memunguti kertas yang berjatuhan tadi, Silvi merapikannya dan kemudian menyerahkannya kapada Roi.
" Ini tuan Roi, file yang harus ditanda tangani." suara Silvi sambil menundukkan kepalanya.
Ntah kenapa ada rasa canggung bagi Silvi berhadapan dengan Roi, padahal baru kemarin hubungan Roi dan Silvi mulai membaik.
" Jangan panggil aku dengan sebutan itu."
" Aku sedang bekerja, kau bossnya, pantas bukan aku memanggilmu seperti itu."
Roi meletakkan pulpennya, ia baru saja selesai menanda tangani file yang diberikan Silvi.
" Sini." Roi memanggil Silvi dengan isyarat tangannya.
Silvi melangkah ragu mendekat kepada Roi.
Roi masih melihat jelas kegugupan Silvi.
Roi tidak sabar dengan langkah Silvi yang pelan dan lambat.Argh...ditariknya tangan Silvi.
Silvi terduduk di atas pangkal paha Roi.
" Argh..Roi apa-apaan kau. Kita sedang di kantor." Silvi berusa berdiri dan ingin menjauh dari Roi.
Roi menahan tubuh Silvi dengan kedua tangannya.
" Apa kau tidak sadar, barusan kau memanggilku apa? Jangan panggil aku tuan, sebut saja namaku, aku geli mendengarmu memanggilku seperti itu, kau calon istriku, atau kau mau memanggilku dengan sebutan lain mungkin? Honey, darling, sayang..atau apalah yang bisa membuatku senang." ucap Roi sambil menarik ujung hidung mancung Silvi.
__ADS_1
" Baik..baiklah. Sekarang lepaskan tanganmu, aku tidak bisa seperti ini, nanti ada yang datang." Silvi mengalah agar Roi mau melepaskannya.
Cup
Roi malah mengecup bibir manis Silvi.
" Aku butuh seperti ini setiap pagi, biar aku semangat, kau mau melakukannya?" Roi menggoda Silvi.
Silvi terkejut dan masih melototkan matanya. Sedetik kemudian ia sadar dan memukuli dada Roi.
" Kau jahat, kau jahat Roi, mana ada seperti itu, kau mengambil kesempatan terus ya..." ucap Silvi
Roi malah mendekap kekasihnya itu.
" Aku mencintaimu, hanya kau yang ada di hatiku, tak perlu cemburu dengan Ester, berapa kali harus kukatakan, aku hanya mencintaimu." suara Roi tepat di telinga Silvi.
👀👀👀
" Aku hanya ingin mengantar mobil nona Indah, kemarin mobilnya mogok di tengah jalan." jawab Roi menjelaskan kepada asisten rumah tangga itu.
" Oh...mari masuk Pak, aku panggil non Indah." asisten rumah tangga itu sedikit berlari menuju kama Indah di lantai atas.
Beberapa menit kemudian Indah sudah turun dengannya.
" Kak Togar." Indah menyapa laki-laki yang duduk membelakanginya.
Togar berdiri dan berbalik mendengar Indah memanggil namanya.
__ADS_1
" Terima kasih, sudah membawa mobilku kembali." ucap Indah malu-malu.
Togar berdecak memandang Indah dengan datar.
Ia menganggukkan kepalanya menjawab ucapan Indah dan akhirnya ia pamit pulang.
" Kak Togar, minumlah dulu, kenapa kakak terburu-buru? "
" Aku masih banyak pekerjaan."
" Tapi bagaimana kakak pulang? mobil kakak kan tinggal di apartemen."
" Naik taksi online."
" Tunggu ! Aku antar saja, lagi pula aku tidak ada kuliah hari ini." Indah berlari mengambil kunci mobilnya dari meja, karena tadi Togar meletakkannya disitu.
Togar tidak dapat menolak, ia melihat Indah berlari ke dalam mobil dan sudah duduk di belakang stirnya.
" Keluar ! Biar aku yang bawa." ucap Togar yang berdiri di dekat pintu mobil.
Indah heran dan menatap pria kaku itu dengan sumpah serapah di hatinya. Ia mengutuki sikap Togar yang sedikit kasar dan seenaknya.
Ya...menurut dia Togar itu tidak bisa bersikap manis kepada wanita. Kaku dan menyebalkan.
" Hei ! malah melamun."
" Iya..iya..sebentar." akhirnya Indah menuruti saja kata - kata Togar.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mereka berdua saling diam. Tak ada yang memulai pembicaraan.
BERSAMBUNG