Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Cemburu


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Silvi berjalan mondar-mandir di depan pintu. Sesekali ia melihat ke pintu gerbang dan berharap Roi pulang.


Tidak biasanya Roi pulang selarut ini. Silvi khawatir ada yang terjadi kepada suaminya.


Dengan sedikit gugup Silvi mengambil ponselnya dari atas meja rias. Ia mulai men-deal nomor Roi.


Tak diangkat. Mencoba beberapa kali hingga ia mendengar suara seorang wanita.


" Halo." Silvi diam


" Halo." Silvi ingin mematikan ponselnya, tapi nalurinya berkata lain. Ia perlu mengetahui mengapa seorang wanita memegang ponsel suaminya.


" Selamat malam. Aku ingin bicara dengan suamiku. Tolong berikan padanya !" jawab Silvi.


Silvi menunggu beberapa saat, hatinya bergetar, pikirannya melayang kemana-mana.


" Halo." Silvi mendengar suara suaminya.


" Roi. Kenapa belum pulang ? Dan wanita yang mengangkat teleponmu, siapa?" pertanyaan Silvi bertubi-tubi.


Bukan jawaban yang diterimanya, Roi malah menyuruhnya untuk beristirahat


" Istirahatlah ! Aku akan pulang sebentar lagi !"


" Roi. A..aku..."


" Aku sedang sibuk. "


Ponsel yang digenggam Silvi dimatikan sepihak. Silvi menatap ponselnya, ia merasa Roi mengabaikannya, suaminya itu terkesan sedang tak ingin diganggu.

__ADS_1


Ia mencoba melakukan panggilan ke nomor Adnan, ponsel asisten suaminya, ia ingin menanyakan pekerjaan apa yang mereka lakukan sampai malam begini. Tidak aktif. Berharap mendapatkan penjelasan Silvi menelepon Ester sekretaris suaminya. Batinnya berkata bila suaminya masih sedang bekerja, pasti Ester juga berada di sana. Hasilnya sama, telepon di luar jangkauan.


Silvi melempar ponselnya ke atas kasur. Memikirkan apa yang sedang dilakukan Roi dengan wanita lain di tempatnya bekerja.


Satu gerakan di perut Silvi membuatnya terjaga dari pikiran-pikiran kotornya. Ia mengusap perutnya perlahan. Bayi dalam kandungannya bergerak begitu lincah. Silvi tersenyum sambil terus mengelus-elus perutnya. Satu harapan babynya dalam keadaan sehat.


Memikirkan sang bayi membuat Silvi melupakan tentang Roi. Ia mulai membayangkan seperti apa wajah bayinya, perempuan atau laki-laki. Membayangkan kehadiran sang buah hati nantinya, membuat Silvi begitu senang. Itu tak akan lama lagi gumannya dalam hati.


" Kau belum tidur ?" Roi menyapa Silvi yang masih duduk di ranjang.


Kedatangan Roi yang tiba-tiba membuat Silvi terkejut, hilang sudah semua khayalannya.


Silvi hanya menoleh sekilas, diam-diam ia perhatikan suaminya yang baru saja pulang, wajahnya, pakaiannya, tidak ada yang aneh, pakaiannya masih rapi dan tidak ada tanda-tanda suaminya melakukan sesuatu seperti yang ada dalam pikirannya.


Roi bergegas untuk membersihkan diri, tak lama kemudian ia keluar dengan handuk pendek yang melilit di pinggangnya. Tidak ada pakaian ganti yang disiapkan Silvi seperti biasa, istrinya itu sedang berbaring dan sengaja membelakanginya.


Roi menghela nafasnya, ia tahu kalau Silvi sedang marah dengannya. Setelah memakai pakaiannya Roi membaringkan tubuhnya. Dalam diam Roi berpikir apa yang harus dilakukannya. Ia ingin mencoba menjelaskan, tetapi sikap Silvi membuatnya menggurungkannya.


Roi menarik tubuh Silvi dengan pelan, ia tahu istrinya itu belum tidur.


Dengan tatapan dingin Silvi menunjukkan kepada Roi bahwa ia sedang marah. Lama Roi menatap sepasang manik hitam yang berhadapan dengannya, tatapan Silvi menyiratkan protes terhadap dia.


" Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Jelas Roi tanpa diminta.


" Hmm. Kau memang selalu sibuk. Aku tahu." dengan menahan rasa jengkel Silvi menjawab ucapan Roi.


" Memang sebaiknya aku tidak mengganggumu. Besok aku mau pulang ke Medan. Aku ingin disana sampai saatnya melahirkan. Agar aku tidak merepotkamu." lanjut Silvi masih dengan nada kesal


" Aku tidak akan mengganggumu lagi." Silvi membalikkan tubuhnya membelakangi Roi kembali, harapnya dalam hati setelah ini Roi akan meminta maaf padanya dan kemudian memeluknya. Ia menunggu dengan hati penuh harap.

__ADS_1


" satu...dua...ti.."


Dengan pelan Roi menarik kembali tubuh istrinya, dengan posisi berbaring, berhadapan dengan Silvi, memposisikan satu tangannya sebagai penyangga di kepala, Roi menatap Silvi.


Semenjak ingatan Roi terganggu baru kali ini ia melihat Roi menatapnya seperti itu. Tidak mau kalah Silvi membalas tatapan Roi.


Detak jam yang terdengar mewakili irama jantung keduanya, sepi tidak ada yang memulai untuk berbicara. Sepasang suami dan istri masih saling menatap di atas ranjang.


Setelah menunggu lama akhirnya Roi mulai beraksi, tangannya membelai ujung rambut Silvi, mendekatkan wajahnya dan memberi kecupan di kening sang istri.


" Kau cemburu ?" kini tangan Roi mengusap pipi putih dan mulus milik istrinya.


" Apa aku tidak berhak untuk cemburu ?"


" Semuanya baik-baik saja."


" Wanita itu ?" Silvi sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari Roi.


Silvi masih menatap Roi, netranya mengikuti pergerakkan tangan suaminya yang masih mengelus-elus rambutnya.


Ada lengkungan kecil terbentuk di wajah Roi, dengan satu tangannya ia menarik pelan tengkuk leher istrinya. Menyatukan kening mereka. Mengecup bibir istrinya dengan perasaan tak menentu. Karena ini pertama kali ia yang memulai.


Semakin lama ciuman itu semakin menuntut. Bibir keduanya saling bertautan. Saling mengungkapkan rasa dalam hati masing-masing.


" Tidurlah ! Jangan berpikir terlalu jauh !" ucap Roi menyudahi ciumannya. ia menyusupkan tangannya ke bawah leher, dan membawa Silvi tidur dalam dekapannya.


" Maafkan aku ! Besok aku akan menjelaskan semuanya." ucap Roi diatas kepala Silvi.


Sebelum matanya terpejam Silvi merasakan kecupan di ujung kepalanya, malam ini perasaannya begitu hangat, pelukkan erat sang suami menggubah total suasana hatinya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2