Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Bima dan Marissa


__ADS_3

"Ada apa?"


"Datanglah ke clubku, aku membutuhkan pertolonganmu malam ini!"


"Aku sedang sibuk." Marissa mematikan ponselnya.


Marissa dan Mars tidak berteman baik tetapi Marissa adalah pengunjung tetap di club kepunyaan Mars. Marissa selalu menyempatkan waktunya berkumpul bersama teman-temannya mengunjungi club itu. Sejak Rey memutuskan cintanya secara sepihak sikap Marissa mengalami perubahan total, ia tidak lagi menginginkan menjalin hubungan dengan pria lain. Bagi ia semua pria sama saja menjadikan wanita hanya untuk memuaskan kesenangannya.


Entah mengapa Mars memintanya untuk datang ke club malam ini, padahal pekerjaannnya sebagai CEO di perusahaan warisan papanya masih banyak. Marissa berpikir ulang sebenarnya tidak ada salahnya menerima tawaran Mars tadi, ia juga sudah lelah bekerja seharian. Ia akan mengunjungi club Mars malam ini.


***


"Kau sudah mabuk, Bim. Bagaimana kau pulang malam ini?" Mars menemani temannya itu duduk sambil menatap Bima yang masih menuangkan minumannya ke gelas.


"Aku belum mau pulang! Jangan menganggu kesenanganku." Bima merancau sambil terus meneguk minuman di tangannya.


Mars menarik nafas berat sebenarnya Bima adalah orang baik, ia tidak pernah punya masalah apapun dengannya, Alina itulah penyebabnya Mars ingin menyingkirkan Bima. Perasaan Benci sekaligus cinta kepada Alina membuat Mars merencanakan sesuatu yang akan memisahkan Bima dan Alina. Mars ingin membatalkan pernikahan mereka yang tinggal menunggu hari.


"Ada perlu apa kau memanggilku?" Mars tersentak ketika melihat Marissa sudah ada di depannya.


"Argh. Kau membuat terkejut saja." Marissa tidak mengubris ucapan Mars diambilnya sebatang rokok dari tasnya kemudian mengambil pematiknya dan menyesapnya dengan santai.


"Duduklah!" Mars menyuruh Icha duduk di bangku kosong di depan ia dan Bima.

__ADS_1


"Siapa dia?" Icha menatap Bima yang sudah terkulai lemas di tempat duduknya.


"Temanku, Bima.Ia baru kali ini mengunjungi clubku." Mars memanggil pelayan yang kebetulan lewat dihadapannya setelah Mars membisikkan sesuatu pelayan itu pergi meninggalkan mereka.


Marissa diam dan matanya terus memperhatikan Bima dengan menyesap rokok ditangannya Marissa berpikir kalau Bima bukanlah sosok pria seperti kebanyakan yang mendatangi club, tujuan para pria itu ingin memuaskan nafsu mereka.


"Ini nona." pelayan tadi meletakkan minuman yang dipesan Mars kepadanya tadi.


"Terima kasih." Marissa langsung meneguk minuman yang di suguhkan oleh pelayan itu.


Bibir Mars terangkat ke atas, senyum samarnya menyiratkan satu harapan kalau rencananya akan berhasil malam ini.


"Aku tinggal sebentar. Minumlah dulu nanti kita bicara lagi." Mars meninggalkan Icha untuk mengatur kelanjuttan rencananya.


Marissa tidak menjawabnya ia menyesap beberapa kali rokok yang masih tersisa di tangannya setelah itu meneguk habis minuman di gelasnya.


"Tidak." Bima menjawab dengan singkat dan jelas.


Marissa menatap wajah Bima lebih dekat ia ingin memastikan kalau Bima masih sadar. Bima menjatuhkan tubuhnya di sandaran kursi dan sedang memejamkan matanya menahan pusing akibat terlalu banyak minum.


Marissa tertarik dengan sikap dingin Bima.


"Kau memerlukan sesuatu? Kulihat kau memejamkan matamu sedari tadi."

__ADS_1


"Pergi dari hadapanku. Aku tidak membutuhkan apapun."


O....sangat menarik. Dia bahkan tidak melihatku sekarang dia mengusirku dari hadapannya.


Marissa mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Bima, perasaan yang tertantang karena tidak dipandang sama sekali membuat Icha melakukan hal konyol kepada Bima.


Sontak Bima membuka matanya dan melihat wajah Marissa yang masih berada di dekatnya. Mata mereka beradu beberapa waktu. Marissa mulai merasakan sensasi berbeda di tubuhnya perasaan panas dan hasratnya tiba-tiba muncul begitu saja selama ia tidak pernah seperti itu.


Marissa melihat sikap Bima yang masih dingin kepadanya dengan perasaan yang menggebu-gebu Marissa kembali menempelkan bibirnya di bibir Mars, menyesapnya perlahan tidak sampai disitu dengan berani ia duduk di pangkuan Bima dan terus menyesap bibir tipis itu dengan hasrat yang menggebu.


Naluri kejantanan Bima mulai bereaksi semula ia tidak tertarik dengan Marissa karena pikirannya masih dipenuhi oleh sodok Alina. Godaan yang diberikan Marissa membuat hati dan tangannya tidak sejalan dengan sedikit kasar Bima menarik tengkuk Marissa dan me- ***** bibirnya.


Marissa semakin bergairan dorongan untuk melakukan lebih mendominasi tubuhnya ia tidak segan membalas ciuman dari Bima. Kini mereka berdua sedang terbakar nafsu yang mengebu, dengan sisa tenaga yang dimilikinya Bima mengangkat tubuh Marissa, membawanya ke sebuah kamar yang sudah tersedia.


Marissa tidak berhenti menyesap bibir Bima sesekali ia menggigitnya. Bima menghempaskan tubuh Marissa di ranjang lalu ia mulai membuka kancing kemejanya dengan tatapan penuh nafsu kepada Marissa yang terlentang di hadapannya.


Marissa mulai membuka satu persatu pakaian di tubuhnya perasaan panas sudah tidak dapat lagi ditahannya. Ia menarik pinggul Bima dengan tidak sabaran, itu membuat tubuh Bima jatuh persis menindihnya.


Dengan pengaruh alkohol Bima menjamah Marissa, meremas dua bukit yang menantang dihadapannya. Menyesapnya, mengigit dan mengulumnya, Ia mulai bergelut dengan semua sisi tubuh Marissa.


Dibawah kungkungan tubuh Bima, Marissa bergerak liar membalas setiap jamahan Bima. Mereka seperti berlomba untuk menuntaskan sesuatu dalam tubuhnya.


Hingga tiba di puncak permainan, Bima memasukkan miliknya kepada Marissa. Menggoyang dan memompanya dengan tidak berhenti-henti. De-sa-han mereka berdua seperti irama yang mengiringi penyatuan mereka malam itu.

__ADS_1


Mars yang berada di satu sudut ruangan tersenyum karena rencananya telah berhasil. Bima sudah pasti akan memikirkan ulang pernikahannya dengan Alina karena di depan masalah baru akan timbul akibat perbuatannya.


Bersambung


__ADS_2