Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Bima vs Bobi


__ADS_3

"Maaf. Aku sedang ada urusan dengan dia." Bima menahan rasa geram dalam hatinya melihat Bobi menghadang langkahnya untuk membawa Marissa.


"Nona. Katakan kepadanya kita ada urusan. Nanti aku akan mengantarmu pulang." Bima meremas kuat lengan Marissa seolah-olah kode agar ia menyuruh Bobi pergi membiarkan mereka.


"Tidak ! Awas tanganmu, lepaskan!" Marissa malah berteriak dan menghempaskan tangan Bima.


"Beri dia pelajaran, Bob. Ia mencoba menyakitiku." diluar dugaan Bima, Marissa malah berbalik menatapnya dengan tatapan menantang.


"Sudah kubilang berulang kali, jangan ganggu aku !" Marissa berteriak kesal hingga membuat kepalanya semakin pusing dan akhirnya ia jatuh pingsan dihadapan dua pria yang saling menatap dengan sorot mata yang tajam.


Bobi berlari menangkap tubuh Marissa yang hampir saja jatuh ke lantai. Ia menggendongnya dan membawa Marissa ke dalam mobil.


"Hei ! Aku ikut denganmu." Bima menghampiri mobil Bobi.


Bobi menatap Bima dengan marah, ia akan mengurusnya nanti setelah Marissa diperiksa oleh dokter.


Bobi menghiraukan Bima yang berdiri di samping mobilnya, ia tutup perlahan kaca mobil dan melarikan kendaraan roda empat itu menuju rumah sakit terdekat.


"Cepat periksa nona ini !" Bobi meletakkan Marissa di Bed pasien di ruangan IGD.

__ADS_1


"Dia pingsan." ujarnya kemudian.


Dokter memeriksa keadaan Marissa dengan intensive. Bobi sealu berada di samping Marissa. Ia berharap Marissa tidak kenapa-kenapa.


" Bagaimana hasilnya." Bobi bertanya kepada dokter yang baru saja memeriksa Marissa.


"Dia sedang hamil. Diagnosa awal hanya kelelahan, hal ini biasa dialami oleh wanita yang sedang hamil. Jaga agar istri anda tidak terlalu tertekan, biasanya kehamilan di tri semester awal wanita banyak yang mengalami stres karena perubahan hormon." Bobi mendengarkan baik-baik keterangan dokter.


"Terima kasih, dok." ucap Bobi kemudian.


Bobi bingung harus berbuat apa, ia melihat Marissa tergolek lemah ditangannya di pasang jarum infus.


Bobi tidak berani berpikir lebih jauh, ia mengetahui tabiat orangtua Marissa, mereka lebih mengutamakan nama baik dan harta adalah tujuan hidup mereka.


Apa yang dialami Marissa adalah akibat dari pekerjaan orangtuanya yang tidak kenal lelah mencari uang dan harta. Kasih sayang sebagai orangtua semua di curahkan melalui kebebasan dan kedudukan kepada Marissa. Bobi mengetahui sejak duduk di bangku kuliah putri bossnya itu sudah hidup bebas dan semaunya, tidak heran kalau saat ini dia hamil.


Suara sepatu mendekat membuat Bobi mengalihkan pandangannya ke si empunya langkah. Ia dan Bima saling tatap. Bobi mengepal tangannya, ingin rasanya ia meninju wajah pria yang berdiri di depannya, tetapi ia sadar kalau mereka sedang berada di rumah sakit.


"Untuk apa kau datang menyusul ?" Bobi membuang wajahnya ia memilih memandang Marissa yang sedang terbaring di ranjang.

__ADS_1


"Aku ingin memberitahumu bahwa..."


"Jika kau ada urusan kerja dengannya. Lakukan di lain hari. Nona sedang sakit saat ini, dan satu lagi kau berutang penjelasan denganku tentang permintaan nona yang ingin aku menghajarmu."


" Bayi yang dikandungannya adalah darah dagingku." Bagai mendengar petir di siang hari Bobi mendengar ucapan Bima.


Bobi mengeryitkan dahinya kemudia ia berjaln menghapiri Bima, praakkk ! satu pukulan keras ia berikan di wajah Bima.


"Cepat pergi dari sini !" Bobi mendesis tepat dihadapan wajah Bima.


"Aku akan bersamanya. Kau yang harus meninggalkan kami." Bima mengusap bibirnya yang bengkak akibat pukulan Bobi.


Merasa diabaikan ucapannya nafsu Bobi seketika terbakar untuk memukul Bima.


" Bobi !" suara lantang Marissa menghentikan tangannya yang sudah sempat melayang di udara.


Dengan bersamaan Bima dan Bobi menghampiri Marissa yang baru saja sadar dari pingsannya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2