
Tomas sudah menghandel semua pekerjaan Rey di kantor, beberapa meeting terpaksa di pending, pertemuan dengan beberapa rekan bisnis di jadwal ulang.
Tadi pagi Tomas datang ke apartemen Rey, seperti biasa ia akan mengurus semua perlengkapan tuannya, tetapi pagi itu Tomas melihat ada yang berbeda dengan tempat tinggal Rey, ia melihat ada bekas piring yang digunakan untuk makan masih terletak begitu saja di meja makan, diperhatikannya ruang tamu disana ada jas Rey yang tergeletak di lantai, semula Tomas mengira kalau tuannya itu sedang mabuk, ia tahu kebiasaan Rey bila ada tekanan sedikit saja tuannya itu memilih melampiaskannya dengan minum wine. Sayangnya Rey tidak terlalu kuat bila minum wine dua gelas saja sudah membuatnya teler.
Tomas mendorong daun pintu yang tidak tertutup netranya mencari sosok Rey di kamar itu, Tomas terkejut melihat dua manusia sedang tidur sambil berpelukkan di atas ranjang, dan sepertinya mereka tidak mengenakan pakaian.
Oh...God ! Apa yang mereka lakukan disini. Kalau tuan Morin tahu gawat nih.
Tomas keluar dari kamar Rey, ia memilih meninggalkan apartemen Rey. Ia tahu pasti Rey akan terlambat datang ke kantor.
"Selamat siang, tuan." Tomas menyapa Rey yang baru saja tiba di kantornya.
"Semua jadwal hari ini sudah diatur ulang, tuan hanya perlu memeriksa dokumen intern perusahaan kita." Tomas melihat Rey terlihat begitu bersemangat.
"Jam makan siang sebentar lagi, apakah tuan ingin memesan sesuatu." lanjut Tomas.
" Tidak perlu. Aku sudah makan tadi." Rey lupa kalau Tomas yang mengurusi semua keperluannya makanya ia menanyakan hal itu.
"Baiklah! Aku kembali bekerja." Tomas beranjak dari ruangan Rey nalarnya menebak-nebak apakah hubungan Rey dan Alina sudah membaik.
"Tomas. Kau ingin menanyakan sesuatu?" ucap Rey sebelum keluar dari ruangan Rey.
Tomas menggerutu kesal karena tuannya itu seperti mengetahui jalan pikirannya.
"Ti...tidak, tuan." Tomas menggaruk-garuk kepalanya pertanda ia gugup.
"Kau melupakan sesuatu?" Rey bertanya seolah-olah ia tidak mengetahui kalau Tomas datang ke apartemennya pagi tadi.
Tomas berbalik menatap Rey yang sedang menatapnya juga, Rey mengangkat alisnya meminta Tomas berbicara kepadanya.
Apa tuan Rey mengetahui kalau aku datang ke apartemennya. Tapi tadi mereka sedang tidur.
Tomas mengusap wajahnya berterus terang salah tidak berterus terangpun tidak ada gunanya. Suara ketukkan jari Rey di meja membuat Tomas semakin bingung.
__ADS_1
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan apalagi di hadapan papa." ucap Rey masih duduk dikursinya, ia tahu kalau Tomas mengerti arah pembicaraannya.
"Tapi ini perintah dari tuan besar. Aku tidak bisa tidak jujur dihadapannya, tuan."
" Tomas! Aku akan mengurusnya. Masalah aku dan Alina biar aku yang membicarakannya dengan papa. Kau mengerti ?" tegas Rey.
Tomas mengangguk pelan kalau seperti ini rasanya ingin berhenti saja bekerja, mengingat hidupnya selalu dihadapkan kepada pilihan yang sulit. Ibarat buah simalakama di makan kena hukuman tidak dimakan pun akan kena hukuman juga.
😆😆😆
**
Sementara Alina baru saja menginjakkan kakinya di rumah. Radit sang papa begitu khawatir dari tadi malam Bima menelepon terus dan memberitahu kalau Alina tidak ada bersamanya.
"Kau membuat ayahmu ini cemas !" Radit berdiri dihadapan Alina.
"Nanti aku ceritakan semuanya, yah. Aku ke kamar dulu." Alina baru pertama sekali melihat wajah Radit dingin dan marah.
"Pakaian siapa yang kau pakai ini, hah ?" Radit menarik tangan putrinya yang sedang melangkah meninggalkannya.
Tangan Adit begitu ringan memberikan pukulan di pipi Alina.
" Apa ini ? Apa ini semua ?" Radit melihat beberapa tanda merah di leher Alina bekas ciuman Rey.
Aduuuhhh, Rey! Kenapa harus ada tanda itu sih...sekarang gimana aku harus menjelaskan kepada ayahku.
Alina bingung tidak tahu harus memulai bagaimana menceritakan kejadian yang dialaminya semalam.
"Ayah. Semua yang ayah lihat tidak seperti apa yang ayah pikirkan. Kejadian semalam yang membuatku seperti ini."
Alina mulai menceritakan semua yang terjadi malam tadi kepada Radit. Tidak ada yang disembunyikannya. Alina tidak menyembunyikan semua yang dilakukannya malam tadi dengan Rey. Begitu juga masalah Arnold yang mengancamnya dan rencananya mencelakai Radit.
"Jadi seperti itu kejadiannya, ayah." Alina menatap ayahnya, Radit menatap ke bawah tangannya terkepal geram mendengar cerita Alina. Ia meruntuki masalah yang sudah bertahun-tahun bermula kembali.
__ADS_1
"Kita harus pergi jauh dari sini, nak. Ayah tidak mau kau celaka. Hari ini bereskan semua perlengkapanmu. Kita akan meninggalkan Jakarta." Sebenarnya Alinapun sudah memikirkan hal yang serupa dengan Radit, mereka harus meninggalkan Jakarta.
**
Sampai menjelang sore Bima belum mendapatkan kabar apapun tentang wanitanya, ia semakin cemas sesuatu terjadi kepada Alina. Akhirnya ia pergi ke kantor polisi untuk memberikan laporan tentang hilangnya Alina sejak tadi malam.
Sepulang dari kantor polisi Bima bermaksud menemui calon mertuanya ditempat kediamannya, ia butuh teman bertukar pikiran saat ini. Bima benar-benar tidak konsetrasi bekerja sejak tadi pagi.
Bima membuka pagar besi yang terkunci, tinggi pagar satu setengah meter dan ditutupi plastik hitam membuat Bima sulit melihat secara jelas ke dalam. Tapi Bima bisa menebak kalau rumah Alina sedang kosong masalahnya tidak terdengar bunyi apapun dari dalam rumah.
"Maaf. Bapak mencari siapa ?" seorang laki-laki berpakaian satpam bertanya kepada Bima. Ia melihat Bima bukan seperti penduduk setempat.
"Saya calon suami Alina, pak. Apakah bapak Radit ada di rumah ?" tanya Bima
"Maaf. Saya kurang tahu. Tapi tadi siang saya melihat bapak itu pergi dengan mobilnya." jelas sekuriti itu.
Oh...apakah Pak Radit juga sedang mencari keberadaan Alina?
"Ya..ya....Saya permisi kalau begitu, pak. Nanti saja saya kembali mungkin pak Radit sudah pulang." tidak mungkin Bima menceritakan tentang hilangnya Alina kepada sekuriti itu.
Akhirnya Bima meninggalkan pemukiman rumah Alina dengan tangan hampa.
**
Alina dan Radit meninggalkan rumahnya dengan barang bawaan seadanya agar kepindahan mereka tidak diketahui siapapun. Radit mengkhawatirkan Alina, keselamatan putrinya itu lebih penting sekarang. Dia akan membawa Alina hidup di desa terpencil dimana tidak ada orang yang mengenali mereka.
Pulau Samosir. Ya disanalah mereka akan tinggal. Pulau yang terletak di tengah-tengah Danau Toba. Pulau itu jauh dari kota tidak terlalu banyak penduduknya. Radit berpikir disana mereka akan tinggal dengan nyaman.
Mereka akan memulai kehidupan mereka dengan hal-hal yang baru, hidup di desa tentu tidak seperti hidup di kota besar. Radit akan memulai usaha kecil-kecilannya di sini, ia akan membeli sebidang tanah yang akan dijadikan tempat tinggal dan bercocok tanam.
Alina tidak keberatan akan hal itu. Mereka sudah terbiasa dengan hidup susah, Radit dan putrinya sudah bertahun-tahun merasakan kerasnya hidup. Sejak istrinya, ibu Alina meninggal Radit sendirilah yang membesarkan Alina, jatuh bangun dalam berbagai masalah membuat Radit dan Alina tegar menghadapinya.
Alina berencana akan membuka les-les privat untuk anak-anak sekolah di sana karena pekerjaannya berlatar belakangnya yang bekerja di dunia pendidikan.
__ADS_1
bersambung