
Reyhan Sinaga, anak bungsu dari pasangan Morin dan Uli, anak laki-laki satu-satunya, mempunyai dua kakak yang selalu menjaga dan mengawasinya setiap saat.
Pribadi yang mandiri meski agak di manja oleh kakak-kakaknya, Reyhan tumbuh menjadi sosok yang tegas dan berwibawa, duduk di bangku kuliah semester satu sudah di percaya mengurusi perusahaan keluarga Sinaga di Jakarta.
Di Jakarta, Reyhan menyewa sebuah apartemen untuk tempat tinggalnya, ditawarin tinggal bersama Silvi dan Roi, Rey memilih untuk tinggal sendiri dengan alasan privasi.
"Hai...Namaku Alina." cewek dengan postur badan tidak terlalu tinggi, rambut panjang bergelombang dan berponi, memperkenalkan namanya dengan kakak-kakak kelasnya.
Yap...Alina tercatat sebagai mahasiswa di sebuah kampus ternama di Jakarta, kampus dimana Rey juga sedang mengecap pendidikan managemen bisnis.
" Hmm. Kenapa rambutmu diikat tinggi sebelah ?" seorang mahasiswi senior mengajukan pertanyaan kepada Alina.
" Bukan maksud apa-apa kak, hanya biar kelihatan lucu."
Rey yang ikut duduk di deretan senior-senior mahasiswa di kampus itu hanya tersenyum mencibir.
" Orangtua kerja dimana ?" tanya mahasiswa yang lain.
" Wiraswasta."
__ADS_1
" Saudara ?"
" Saya anak tunggal."
" Sudah-sudah, kamu mau ospek atau mau wawancara biodata sih." Rina keberatan David bertanya hal-hal pribadi saat ospek.
" Oke. Kamu lanjut ke pos berikutnya." Dengan melambaikan tangannya Rina menyuruh Alina meninggalkan pos mereka.
Alina adalah putri dari Radit ( masih ingatkan siapa Radit ?), sosok sederhana dan pekerja keras, karena kasus kecelakaan yang membawa namanya ke kantor polisi ia dipecat dari pekerjaannya. Radit dan putrinya Alina kini bekerja di mansion Michel. Radit diangkat sebagai tukang kebun dan Alina bekerja membantu asisten rumah tangga. Alina sangat bersyukur, tuan Michel bersedia mempekerjakan mereka, bagi ia tidak ada pekerjaan yang buruk selama itu halal.
Walaupun pekerjaan mereka dianggap rendah bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi ayah dan anak itu, justru mereka bahagia, Michel menggaji mereka dengan harga tinggi, dan satu lagi mereka bisa tinggal di mansion Michel, ada sebuah rumah dibelakang mansion, disanalah Radit dan Alina tinggal.
" Maaf, aku Alina. Tanganku kotor." jawabnya dengan sopan kepada pria yang ingin berkenalan dengannya.
Tidak ada teman yang duduk bersama dengan Alina, hari ini hari pertama ospek dilakukan, jadi ia belum kenal teman-temannya yang lain.
" Tidak apa, boleh duduk disini ?"
" Silahkan saja, ini tempat umum." jawab Alina cuek.
__ADS_1
Berparas cantik, kulit putih dan rambut panjang bergelombang, penampilan yang ala kadarnya tidak menutupi kecantikkan Alina. Hanya penampilannya kurang modis, paduan kaos dan celana jeans serta sepatu kets menjadi kostum kesayangannya setiap pergi ke kampus.
Dia tidak pernah iri melihat cewek-cewek di kampusnya datang dengan style yang waoww...dandan seperti artis, memang mereka terlihat begitu menarik, tapi tidak membuat Alina minder.
" Aku Robert. Kakak tingkatmu. Apa kita bisa berteman ?"
" Temanku siapa saja, asal tidak punya maksud tertentu layak diterima sebagai teman." Alina menatap laki-laki di depannya, perasaannya berkata kalau laki-laki itu bermaksud tidak baik.
" Kau tidak mengenalku ?" Robert geram melihat sikap Alina yang sok jual mahal.
" Maaf. Saya mau makan ! Tidak baik mengajak orang yang sedang makan berbicara terus." Alina fokus kepada makanannya.
" Dasar cewek edan diajak kenalan saja, jual mahal. Kamu pikir kamu siapa ha ? Mau berteman denganmu harusnya kau bersyukur. Lihat ! Bahkan kau tidak punya teman satu orang pun."
" Bukan urusanmu !" Alina berdiri meninggalkan sisa makanan di piringnya karena sudah tidak berselerah lagi.
Semua yang ada di kantin menyaksikan perdebatan Robert dengan mahasiswi baru yaitu Alina, berbagai pendapat ada dalam pikiran mereka, ada yang mencibir Alina, ada juga yang membela Robert
bersambung
__ADS_1