Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
I need You


__ADS_3

Pagipun datang, sinar matahari begitu hangat, Rey duduk di kursinya sambil sesekali menyesap kopi yang dibuatnya sendiri. Matanya masih menatap Alina yang belum bangun dari tidurnya, tadi malam Rey mengangkat Alina yang tertidur pulas di sofa kemudian diletakkannya dengan posisi terlentang di tempat yang sama. Rey memilih tidur di kursi kerjanya.


Perlahan tapi pasti Alina mulai menggerak-gerakkan tubuhnya, ia mengucek matanya, ia terkejut melihat sekelilingnya, ia sama sekali lupa kalau tadi malam ia ketiduran di ruangan Rey.


Mata Alina menangkap bayangan seseorang yang tidak begitu jauh dari dia, Rey sedang berdiri dengan kedua tangannya berada di saku celananya, menatap Alina dengan senyum tipis di bibirnya.


" Kau sudah bangun, nona?" Rey menyapa Alina dengan senyum termanisnya di pagi ini.


" Busyet ! Alina bangkit dari tidurnya diperhatikannya satu persatu pakaian yang ia kenakan, semuanya masih sama seperti kemarin.


" Aman." katanya sambil mengurut dada.


" Kau pikir aku serendah itu. Aku bahkan tidak tertarik dengan tubuh kurusmu ini." Rey mendorong kening Alina dengan jari telunjuknya. Ia tahu apa maksud perkataan Alina.


Alina tidak mau menanggapi ocehan Rey, ia merapikan pakaian dan rambutnya. Setelah ia yakin penampilannya sudah baik, ia mengambil tas di atas meja.


"Siapkan aku sarapan pagi ini. Lihat ! Semalaman aku menjagamu disini. Aku tidak tidur sedikitpun. Aku butuh tenaga pagi ini." Ucap Rey sebelum Alina membuka pintu untuk pergi meninggalkan Rey.


Alina berbalik menghampiri Rey, dengan wajah kesal ia berkata kepada Rey.


"Aku bukan pelayanmu jika kau lupa." ucap Alina menunjukkan keberatannya atas perintah Rey.


Alina berbalik dan berjalan cepat kembali ke arah pintu, ia ingin meninggalkan Rey yang selalu membuatnya kesal. Rey tidak membiarkan Alina pergi begitu saja dari hadapannya. Ditekannya tombol merah yang berada diatas meja. Pintu otomatis terkunci, beberapa kali Alina berusaha membuka tapi tetap tidak bisa.


" Rey..!" Alina berteria, kesal dan marah bersatu di hatinya.


Rey mengangkat kedua bahunya dengan kedua tangannya melebar ke samping. Ia kembali ke mejanya mengabaikan Alina yang sedang marah.


Alina melangkah menghampiri Rey ingin sekali ia menampar wajah Rey, tapi otak warasnya masih bisa diajak kompromi.


"Buka pintunya !" pinta Alina sambil berdiri di hadapan Rey.


Rey tidak mengubrisnya, ia pura-pura sibuk memeriksa file yang ada di atas mejanya, tentu saja membuat Alina semakin jengkel.


Alina merebut berkas yang sedang dibaca Rey.


" Buka pintunya !" Alina kembali meminta Rey membukakan pintunya.


Rey menatap Alina, begitu juga Alina, ia membalas tatapan Rey, ia tidak takut kepada Rey.

__ADS_1


Rey menggeser sedikit kursinya ke belakang, ia bangkit dari kursinya berjalan menghampiri Alina diseberang mejanya. Ia berhenti tepat dihadapan Alina.


"Aku tidak akan membukanya sebelum kau membuatku sarapan pagi ini." ucap Rey sedikit membungkukkan wajahnya dan menatap wajah Alina.


"Baiklah ! Aku pesankan sekarang." Alina merogo tasnya untuk mengambil ponselnya. Alina mulai memainkan ponselnya mencarikan sarapan untuk Rey.


"Kau mau makan apa?" tanyanya pada Rey.


Bukan jawaban yang didengar Alina, Rey menarik pinggang ramping Alina, mendekapnya kemudian me-lu-mat bibir Alina yang sejak malam tadi diinginkannya.


"Aku mau memakanmu sekarang." Rey mengangkat tubuh Alina dan menghempaskannya di atas sofa, kemudian ia mengungkung Alina dengan tubuhnya.


" Rey ! Lepas..." Rey me-lu-mat kembali bibir ranum Alina, ia menahan kedua tangan Alina di samping tubuhnya agar Alina tidak bisa berontak.


Semula ciuman Rey terasa kasar , tetapi berubah lembut dan penuh perasaan. Alina hanya diam menunggu Rey menyelesaikan permainannya. Rey hanyut dengan nafsunya sendiri, ia menyesap dan menggigit bibir Alina, seolah-olah sedang menikmati manisan.


"I need You." ucap Rey ketika tautan mereka sudah terlepas. Rey mengangkat wajahnya dan menatap kedua bola mata Alina.


tok..tok...


Suara ketukan di pintu mengagetkan mereka berdua, dengan cepat Alina mendorong tubuh Rey, ia bangkit merapikan pakaian dan rambutnya yang sedikit berantakan. Sama halnya dengan Alina, Reypun merapikan penampilannya. Ia menekan tombol merah di mejanya untuk membuka kunci pintu.


" Ada apa?" dengan wajah kesal Rey menyapa Tomas yang menunjukkan wajah curiga melihat Rey dan Alina.


" Hmm. Tadi malam ada telepon dari nyonya Silvi. Katanya Alina meneleponnya beberapa kali. Ia tidak mendengar karena sedang memasak. Dan nyonya Silvi menyuruh tuan menanyakan Alina, ada kepentingan apa sampai menelepon nyonya?." Jelas Tomas


" Itu saja ! Kau kan bisa menelepon aku, tidak sampai mengganggu kesenanganku." ucap Rey dengan sedikit malas melihat Tomas.


"Tuan...tuan ada hubungan apa dengan Alina ? Beberapa hari ini aku melihat tingkah tuan sedikit berubah bila..."


"Hentikan ocehanmu itu ! Apa jadwalku hari ini?" Rey menyela ucapan Tomas.Ia tidak ingin bicara apapun tentang dia dan Alina.


"Ada tuan besar di kediaman tuan Michel."


"Apa?" Rey terkejut mengetahui papahnya berada di Jakarta tidak sepengetahuannya.


"Kau tidak mengabariku, Tomas !" Rey menunjuk wajah asistennya itu sambil bangkit berdiri.


"Semalaman aku telepon. Ponsel tuan tidak diangkat." jawab Tomas salah tingkah.

__ADS_1


Dengan cepat Rey melangkahkan kakinya, meninggalkan Tomas berjalan di belakangnya.


*


*


Sementara Alina sudah memulai pekerjaannya, ia memeriksa semua surat masuk di emailnya.


"Sayang." Bima berjalan menghampiri Alina, ia heran Alina masih memakai pakaian sama seperti kemarin.


"Kau tidak pulang semalam?" Bima memperhatikan pakaian Alina yang kelihatan sedikit kusut.


"Aku tertidur, sudah terlalu larut aku memutuskan tidur di sini saja." Alina berbohong kepada Bima sudah tentu ia tidak berani menceritakan apa yang dialaminya malam tadi.


"Aku pesankan sarapan kita." Bima kelihatan kawatir dengan keadaan Alina sedikit pucat dan lemas.


Rey yang berjalan melewati ruangan Alina lagi-lagi kesal karena Bima disana bersama Alina. Ia berhenti sebentar mengintip dari belahan pintu yang sedikit terbuka.


Tomas memperhatikan arah perhatian Rey, Tomas melihat ada Alina dan Bima disana.


sekarang kau tidak bisa berkelit tuan Rey, kau menyukai nona Alina.


Tomas menunggu Rey beranjak dari tempatnya berdiri. Salah perhitungan, ia mengira Rey akan segera meninggalkan ruangan Alina dimana ada Bima disana.


"Selamat pagi." sapa Rey yang membuat Alina dan Bima terkejut.Ia memutuskan menyapa mereka.


"Selamat pagi, tuan." Alina dan Bima menjawab salam dari Rey.


Rey menarik nafas panjang, sepintas ia melirik Alina yang masih duduk dengan Bima disampingnya. Dengan wajah yang tertunduk Alina hanya mendengar suara Rey, ia merasa bersalah kepada Bima dengan perlakuan Rey kepadanya malam tadi.


"Beberapa hari ke depan aku tidak akan ke sini. Kirimkan saja laporan yang perlu ke emailku." tatapan mata Rey menghujami Alina.


" Satu lagi, selama aku tidak ke sini. Tolong bersihkan ruanganku!" lanjut Rey kemudian.


"Baik ,tuan. Saya akan mengurusnya." Bima menjawab dengan penuh hormat.


Dengan langkah gontai Rey meninggalkan ruangan Alina, entah darimana ia temukan kalimat tadi, niatnya hanya untuk menganggu pembicaraan Alina dan Bima yang menurutnya begitu mesra. Alibi yang datang tiba-tiba, syukurlah Bima tidak mencurigainya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2