
"Ini sarapanmu, Rey. Hari ini kau tidak minum obat lagi hanya vitamin." sama seperti pagi-pagi sebelumnya Alina membawakan Rey sarapan di kamarnya. Ia melihat Rey sudah rapi di depan cermin, Alina melihat Rey memegang dasi di tangannya.
"Sini aku pasangkan." Alina mengambil dasi yang sedang dipegang oleh Rey.
Rey hanya diam terpaku tidak sedkitpun sikap Alina berubah, ia teringat kejadian semalam dilihatnya tidak ada pias marah di wajah Alina setelah melihat ia dan Jean sedang berciuman.
"Sudah selesai. Sarapanlah !" Alina merapikan sedikit kerah baju Rey setelah itu ia menjauh dari Rey.
Rey mengambil bubur ayam yang sudah disiapkan Alina untuk sarapannya. Alina dengan setia menemani Rey menghabiskan sarapannya.
"Ini vitaminnya." Alina memberikan vitamin kepada Rey setelah mangkok berisi bubur tadi sudah kosong. Rey menghabiskan bubur ayamnya.
"Rey ! Bisa kita bicara sebentar." Alina menatap Rey yang membersihkan mulutnya dengan tissu, Rey masih menunjukkan sikap dingin padanya.
"Aku akan pulang ke rumahku. Tugasku sudah selesai. Kau sudah sehat kembali. Kuharap kau tidak lagi menjamah minuman yang meracuni tubuhmu." tidak satu katapun yang keluar dari mulut Rey, Alina menarik nafas berat ia menunggu jawaban dari Rey tapi tak kunjung Rey mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.
Alina berbalik memutuskan meninggalkan Rey di kamarnya percuma ia berlama-lama disana Rey tidak mempedulikannya. Alina membuka pintu kamar Rey. Ia akan kembali nanti setelah Rey pergi, ia akan membereskan kamar itu.
"Kau akan kembali kepada Bima ?" suara Rey terdengar ketika Alina ingin melangkahkan kakinya keluar kamar.
__ADS_1
Alina hanya mengangguk kecil ia merasa tidak perlu menceritakan keputusan yang telah mereka berdua ambil kemarin.
Rey menggeram melihat anggukan kepala Alina. ia berjalan menghampiri Alina dan menariknya kembali masuk setelah itu ia mengunci pintu dengan kasar.
"Rey !" Alina takut melihat sikap Rey yang beringas.
"Kau masih mencintainya !" bukan pertanyaan yang dilontarkan Rey, tapi satu teriakkan lebih kepada tuduhan yang dilontarkan kepada Alina.
Alina masih diam kedua tangan Rey memegang lengannya dengan kuat.
"Rey. Kau menyakiti aku. Lepaskan tanganmu!" teriak Alina.
Rey menjatuhkan tubuhnya di sisi ranjang duduk dengan menundukkan kepala, tangannya meremas rambutnya dengan kuat, naluri candunya untuk meneguk minuman yang dapat menenangkan pikirannya datang kembali.
" Rey, Kau kenapa?" Alina mendekat kepada Rey
"Menjauhlah dariku !" Rey membentak Alina.
"Rey !" Alina malah memeluk Rey
__ADS_1
"Jangan sakiti dirimu lagi, Rey ! " ucap Alina kembali air matanya turun begitu saja melihat Rey seperti itu.
Dalam diamnya Rey merasa ada sesuatu yang hangat menjalar di hatinya sudah lama ia tidak merasakan kehangatan seperti ini, kehangatan pelukkan dari Alina, wanita yang telah mengambil semua asanya.
"A..aku..." Rey menarik tengkuk leher Alina ia mengunci mulut Alina dengan ciumannya.
Semula Alina ingin memberontak tetapi kemudian ia memilih diam menunggu Rey menyelesaikan ciumannya.
Setelah beberapa menit berlalu Rey menyudahi aksinya, ditatapnya Alina, jemarinya mengusap pipi Alina yang basah dengan air mata. Rey memejamkan matanya menarik nafas berat lagi-lagi ia kalah bila sudah berhadapan dengan Alina.
"Beritahu aku cara melupakanmu. Aku tidak ingin selalu menyakitimu." Alina membuka kedua matanya ia menatap wajah Rey yang berada tepat di hadapannya.
"Rey !" Alina mendengar kata yang diucapkan Rey barusan.
Rey menatap Alina dengan sendu.
"Menjauhlah sejauh mungkin agar aku bisa melupakanmu. Kembalilah pada Bima. Aku...aku akan melepaskanmu."
Kata-kata yang terucap dari bibir Rey malah membuat Alina merasa tersakiti. Hatinya tidak rela melepaskan Rey. Mulutnya berkata tidak hatinya malah sebaliknya.
__ADS_1
bersambung