
Togar membawa mobilnya dengan perasaan kecewa dan marah, Indah yang duduk disampingnya juga diam dan tidak tahu harus bicara apa, sekarang situasinya sedang tidak bersahabat.
Jalanan terpantau ramai dan lancar. Suasana malam ini sama sekali bertolak belakang dengan suasana hati kedua orang yang sedang saling diam di mobil.
" Antarkan aku ke rumah, papa dan mama pasti akan mencariku." akhirnya Indah memulai pembicaraan setelah keduanya lama saling diam.
Togar tidak menjawab ucapan Indah, ia membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.
" Mau kemana ini ?" Indah bertanya setelah ia melihat Togar tidak melewati jalan pulang kerumahnya.
Lagi-lagi Togar hanya diam dan terus membawa laju mobilnya.
Tak berapa lama, Togar memarkirkan mobilnya di depan sebuah apartemen.
" Kau mau turun atau tidak ?" tanya Togar dengan nada dingin
" Kau....di mana ini ?" Indah masih bertanya dengan rasa heran, ia melihat ke sekitarnya, ia sama sekali tidak tahu tempat itu.
Togar masih berdiri di depan pintu mobilnya sambil menunggu Indah turun dari mobilnya.
" Aku mau pulang, aku telepon Rey dulu, agar...." belum selesai Indah berbicara Togar sudah merebut ponselnya, mematikan ponselnya dan memasukkannya ke saku celana hitam yang dipakainya.
Indah menatap Togar dengan marah, rasa kesalnya semakin menjadi
" Ayo." Togar menarik tangan Indah.
__ADS_1
" Kembalikan ponselku, atau..."
Togar mendekap mulut Indah dengan ciumannya terkesan beringas, Indah hanya bisa merontah sambil memukul-mukul dada Togar.
Akhirnya Indah diam membiarkan Togar menyelesaikan ciumannya, air matanya jatuh pelan-pelan, ia tak menyangka orang yang selama ini dicintainya sangat egois, Togar tak mau mendengarkan alasan apapun dari mulutnya.
Togar berhenti mencium Indah ketika ia merasa ada sesuatu yang mengalir dipipi Indah.
" Kau sudah selesai ? " Indah menatap Togar dengan penuh kebencian.
" Mulai detik ini jangan tunjukkan wajahmu dihadapanku, brengsek ! plak!" Setelah melayangkan satu pukulan di pipi Togar,Indah berlari meninggalkannya, air matanya semakin deras membasahi pipinya.
Sejenak Togar sadar kalau Indah sudah pergi dari hadapannya, Ia berlari mengejar, namun Indah sudah terlebih dulu menyetop taksi yang lewat didepannya, kemudian pergi meninggalkan Togar.
####
" Dasar perempuan tak berguna, kalau kerja pakai otak ." teriak Arnold
" Kau memang tak bisa diharapkan, perusahaan kita sedang diambang kehancuran, secepatnya kita harus mendapatkan uang yang banyak." mematikan puntung rokoknya dan melemparkan begitu saja ke lantai.
####
Di suatu bar yang sangat ramai, seorang pria duduk menyendiri, ditengah gemerlapannya lampu disco, serta banyaknya wanita-wanita cantik dan seksi, pria itu justru sendiri menghabiskan minumannya ntah sudah berapa banyak.
Pria itu adalah Edi.
__ADS_1
Ya...ia sangat menysal akan keputusannya yang begitu saja menyerahkan Silvi kepada Roi.
"Tanpa perlawanan, o. .God, laki -laki macam apa aku ini, tidak bisa mempertahankan wanita yang ku cintai." rancau Edi
Ia bermaksud menuangkan kembali minuman ke gelasnya, tapi seorang wanita cantik dan seksi menghampirinya.
" Biar saya saja tuan " Perempuan itu menuangkan minuman ke gelas tanpa persetujuan Edi.
" Biarkan aku menemanimu malam ini tampan." goda wanita itu sambil bergelayut manja di pangkuan Edi.
Dengan kondisi setengah mabuk, Edi melihat wanita yang didepannya seperti Silvi.
" Darling, kau sudah datang, aku merindukanmu, mari kita habiskan malam ini dengan bersenang -senang." ucap Edi dan menarik wanita itu kepelukannya.
Dengan rakus dan kasar Edi mulai mencium bibir wanita yang dihadapannya itu.
" Kau begitu manis sayang."
Semakin terbakar hasrat Edi untuk mencumbui lebih dan lebih wanita yang dianggapnya Silvi itu.
Tanpa rasa ragu wanita itu membalas setiap sentuhan Edi, dan..akhirnya mereka bergelut dan menghabiskan malam yang panjang di sebuah kamar.
#####
bersambung
__ADS_1