Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Menutupi perasaannya


__ADS_3

Mentari pagi mulai menampakkan wajahnya, udara yang dingin berganti hangat kemudian. Alam tampak berseri-seri. Bunga-bunga tidak ketinggalan mengirimkan semerbak wanginya.


"A..aku." Marissa terkejut ketika mendapati dirinya tidur di sebelah Bima. Buru-buru ia menarik selimut dan memperhatikan baju yang dipakainya.


"Hmm. Sudah terang rupanya." Bima menggerak-gerakkan badannya, pergerakkan Marissa membuat tidurnya terganggu, lalu ia bangkit dari tidurnya.


" Kenapa kau tidur di sini?" tanya Marissa dengan wajah herannya.


Bima menatap Marissa dengan datar.


" Bukankah tadi malam aku menyuruhmu tidur di ranjang ? Kenapa kau malah tidur di sini?"


Marissa bingung dengan keberadaan dirinya, semalam ia ingat betul kalau ia membaringkan tubuhnya di ranjang tetapi kenapa pagi-pagi malah berada di samping Bima. Syukurlah Bima tidak melakukan apa-apa padanya tadi malam.


"Mandilah ! Aku siapkan sarapan kita sebelum berangkat ke kantor." Bima bangkit dari sofa ia meninggalkan Marissa yang masih diam dengan jalan pikirannya.


" Aku sarapan di kantor saja. Sudah terlambat. Bobi akan membawakan baju gantiku ke kantor." ucap Marissa sebelum Bima hilang di balik pintu.


Marissa memukul keningnya, mengapa ia menjadi wanita paling bodoh bila berhadapan dengan Bima. Ia meruntuki hatinya yang justru menyukai Bima yang terkesan cuek dan dingin.


Marissa meraih ponselnya, ia tidak mau berlama-lama lagi di apartemen Bima.


Nada sambung telp berbunyi

__ADS_1


Marissa menelepon Bobi.


" Aku langsung ke kantor pagi ini. Bawakan baju gantiku."


.........


" Tidak perlu, aku bisa berangkat sendiri."


Marissa mematikan teleponnya setelah memberikan perintah pada Bobi.


Sekarang ia harus menukar bajunya. Marissa bergegas ke kamar mandi untuk menukar baju yang dipakainya tidur tadi malam.


Alangkah terkejut ia ketika dilihatnya Bima berdiri di depan pintu dengan dua tangan yang terlipat di dadanya.


" Dia lagi, dia lagi. Aku kira kau tidak mengerti dengan apa yang ku katakan semalam. Perlu aku perjelas ?" Bima menghampiri Marissa yang sedikit gemetar melihat wajah marah Bima.


" Aku tidak mengijinkanmu dekat dengan Bobi. Titik !" Bima menegaskan kalimatnya tepat di hadapan wajah Marissa


"Dia bukan si..si.."


Bima menarik tengkuk Marissa lalu mencium bibirnya dengan sedikit kasar, mendengar nama Bobi perasaan cemburu, marah, dan kesal mengaduk-aduk hati dan pikirannya.


" Lepaskan ! Kau bisa membunuhku." Marissa menarik nafas panjang setelah Bima melepaskan ciumannya.

__ADS_1


" Apa kau sudah gila ? Aku dan Bobi tidak ada hubingan apa-apa, ia asistenku. Papa yang mengirimnya untuk mengawasiku, itulah sebabnya ia selalu berada dimana aku ada." teriak Marissa agar Bima memahami keadaannya.


" Mulai malam tadi kita sudah deal, kau dalam pengawasanku. Suruh saja ia mengurus pekerjaanmu di kantor, dan kau adalah urusanku."


" Lama-lama aku bisa sinting bila berhadapan denganmu. A..a.."


Bima kembali menarik Marissa hingga jatuh di dadanya yang bidang. Ia ******* bibir wanita yang dianggapnya terlalu cerewet dan selalu menentangnya.


Mata mereka saling beradu, Bima menyesap bibir kenyal yang kemarin mencoba menggodanya, di lumatnya.


Lambat laun ciuman itu mulai melembut, di sadari atau tidak sekarang Bima merasakan sesuatu yang aneh di hatinya, berdebar-debar seperti suara kaki kuda yang berkejaran.


Marissa tidak memberontak lagi, meskipun ia malu mengatakan kalau ia mengharapkan Bima yang seperti itu, berinisiatip memulai keintiman diantara mereka berdua, sebagai wanita Marissa cukup tahu diri dan malu bila ia yang lebih agresif dari laki-laki, Bima.


" Maafkan aku. Aku hanya ingin agar kau nyaman saat mengandung seperti ini. Lupakan apa yang baru kita lakukan." Bima melepaskan dekapannya.


Ia menatap Marissa yang bersamaan menatap ia juga.


" Ayo kita sarapan." Bima berbalik dan meninggalkan Marissa.


Marissa tersenyum samar.


*Memangnya seorang Bima tidak akan tahluk dengan segala pesonaku.Tunggu tanggal mainnya kau akan bertekuk lutut memohon cintaku.

__ADS_1


Bersambung*


__ADS_2