
"Jadi, kamu pulang bersama Rey dan pacarnya kemarin " Alina mengangguk malas mengingat kejadian kemarin.
Setelah jam kuliah selesai Alina menceritakan apa yang dialaminya kemarin kepada Rara, ia merasa tidak enak harus di ikut-ikutkan dalam masalah Rey dan Marissa, sudah jelas kemarin Marissa tidak menyukai keberadaannya di mobil Rey.
" Lain kali aku ikut kamu saja , Ra." Alina menyesal kemarin tidak ikut ajakan Rara.
Tidak terasa seminggu sudah Alina bekerja di kediaman Roi dan Silvi. Hari ini ia pasti akan merindukan ke dua baby yang lucu- lucu itu. Al dan El yang selalu membuatnya gemas. Roi sudah pulang dari luar negeri. Hari ini ia tidak kembali ke kediaman Roi dan Silvi, Alina akan kembali ke mansion Michel.
*
*
" Papa." Seminggu lamanya Alina tidak bertemu dengan papanya, Radit. Rasa rindu dihatinya begitu membuncah.
Radit begitu bahagia melihat putrinya kembali. Tumbuh menjadi anak yang pintar juga mandiri kerap kali membuat Radit bangga kepada putrinya itu. Di sisi lain ia merasa sebagai seorang pria yang lemah karena tidak dapat memenuhi sepenuhnya keperluan putrinya layaknya seorang bapak kepada anaknya. Karena Kenyataan Alina harus bekerja untuk bisa membiayai studinya, terkadang Radit merasa gagal menunaikan kewajibannya sebagai ayah untuk Alina.
" Alina. Kau sudah datang." bibi Marta yang melihat Alina sedang berpelukkan dengan Radit menyapanya, ia juga sangat merindukannya.
" Bagaimana kabar Al dan El ?" Gantian Marta yang merangkulnya sekarang.
" Al dan El semakin lucu, bi. Aku senang bisa membantu tante Silvi mengasuh mereka." jawab Alina dengan nada bahagia.
Bibi Marta sangat senang melihat mata Alina yang berbinar-binar tanda ia bahagia.
" Hmm. Bersihkah dirimu ! Bantu bibi membuat kue brownies coklat kesukaanmu." Bibi Marta selalu bisa membuat Alina senang. Memasak adalah kegemaran mereka berdua.
" Pasti, bi !"
Kebahagiaan terpancar dari wajah Radit dan Marta, melihat Alina senang. Marta sudah menganggap Alina seperti putrinya sendiri. Anak yang rajin, pintar, cantik lagi. Mudah-mudahan yang Maha Kuasa memberinya jodoh yang baik dan menyayanginya. Marta memandang kepergian Alina dengan senyum yang berarti.
*
*
Malam yang panjang, Reyhan dan teman-temannya sedang berada di salah satu club ternama di kota itu. Dunia malam memang menjanjikan hiburan yang menyenangkan bagi para pengunjungnya.
"Beb....kita turun yuk ! Dance rasanya pasti lebih asyik." Marissa menarik tangan Rey.
"Hmm. Ok !" mengiyakan permintaan Marissa.
Malam itu suasana club cukup ramai, dipenuhi oleh mayoritas anak-anak muda yang umurnya masih sepantaran Rey dan teman-temannya.
Malam itu Alina juga berada di club yang sama dengan Rey. Karena menemani Rara menghadiri pesta ulang tahun temannya, Alina bersedia masuk ke tempat yang sangat asing itu baginya.
__ADS_1
" Ra ! Teman kamu enggak salah tempat ? Ulang tahun di tempat seperti ini. Mana gelap lagi. Lampunya bikin kepalaku pusing." ucap Alina sambil memegang tangan Rara erat-erat.
"Al, ini namanya club. Sudah biasa sih ulang tahun dirayakan di tempat seperti ini. Tapi aku juga baru kali ini ke tempat seperti ini." Ternyata sama, Alina mengira Rara malah sudah sering ke club.
" Kita pulang saja, yuk !"
" Yach... Paling tidak kita ketemu yang berulang tahun dulu. Baru juga nyampe, Al."
"Iya. Terserah kamu deh !" Alina mengikut saja kemana Rara pergi, ia tidak mau sampai terpisah.
" Hai.... Aliina ! Kau disini juga." seseorang menepuk pundak Alina. Dengan wajah sedikit garang Alina berbalik untuk melihat siapa yang mengenalnya di tempat seperti ini.
" Mars." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Alina. Ia terkejut Mars ada di tempat itu.
" Hmm. " Mars menganggukan kepalanya. Dipasangnya wajah senyum " Ayo. Aku temanin kalian malam ini." Lanjut Mars sambil menarik tangan Alina, tangan Rara yang dipegang kuat oleh Alina membuat ia juga terseret tarikan Mars.
" Maaf. Lepaskan Mars ! Kami datang bukan seperti yang kau pikirkan. Teman kami ada yang berulang tahun kami mau menemuinya sekarang." Alina berkata dengan suara keras agar Mars mendengarnya, dentuman musik yang sedang mengalun bervolume tinggi.
" Rose, maksudmu ?"
Alina menatap Rara menaik turunkan kepalanya untuk bertanya. Rara menganggukan kepalanya.
" Itu dia !" Mars menarik kembali tangan Alina dan membawanya mendekat dengan Rose yang sedang asyik berjoget ria dengan pacarnya.
Rara langsung menyapa Rose, pikirnya setelah memberikan ucapan selamat dan memberi Rose hadiah mereka akan pergi meninggalkan tempat itu.
" Selamat ya ! Maaf. Saya tidak bisa lama-lama." Rara memberikan buah tangan yang sedari tadi di pegangnya.
" Thanks ya ! Paling tidak kita minum dulu, yuk !" Rose meminta Rara dan temannya untuk menikmati pesta ulang tahunnya.
" Maaf, Rose ! Kami harus pulang !" jawab Rara dengan cepat.
" Kenapa buru-buru sih ?" Mars ikut nimbrung pembicaraan, ia berharap Alina bisa menemaninya malam ini.
Alina menghentakan tangan Mars yang sedari tadi memegangnya, ia menarik Rara agar mereka segera keluar dari tempat itu.
Mars tidak tinggal diam, ditariknya kembali tangan Alina yang baru saja terlepas dari pegangannya.
" Lepaskan !" Tidak sadar akan tempat dan keadaan Alina berteriak keras sehingga menjadi pusat perhatian.
" Maaf. Pacar saya sedang kurang mood." ucap Mars kepada sekelilingnya.
" Apa ?" Mars menarik tangan Alina. Kini ia membawanya ke tempat duduknya semula.
__ADS_1
Rara selalu mengikuti Alina, tadi pegangannya telepas karena tarikan Mars yang kuat.
" Duduklah ! Kita minum sebentar." Alina yang terduduk di samping Mars sangat jengkel dengan sikap Mars.
Mars menuangkan minuman ke gelas, ia menyodorkannya kepada Alina dan langsung ditolak begitu saja.
" Aku mau pulang." Alina berdiri bermaksud meninggalkan Mars sendiri.
Baru saja ia akan melangkah Mars kembali menarik tangannya, tidak mau mengalah, Alina menghempaskan tangan Mars. Dengan geram Alina mengambil gelas yang berisi minuman yang disodorkan Mars kepadanya barusan, disiramkannya kewajah Mars.
" Aku bukan perempuan seperti yang kau pikirkan. Jangan ganggu kami !"
Dengan marah Mars berdiri, kepalang malu dengan keadaannya yang berantakan akibat ulah Alina, Mars menarik tengkuk leher Alina bermaksud ingin memberikan pelajaran kepada perempuan yang telah berani mempermalukannya.
Mars ingin mencium bibir Alina, tapi....
Prak...
Satu tinju melayang di wajah Mars yang membuatnya langsung terhuyung-huyung.
Alina memandang pria yang baru saja menghajar Mars, tuan Rey gumannya pelan.
" Ku peringatkan, kau ! Jangan pernah menganggu dia lagi." Rey ingin memberikan pukulan lagi di wajah Mars, tapi Alina langsung menghalanginya.
" Cukup ! Jangan main kekerasan !" teriak Alina di depan Rey.
Dengan tatapan tajam Rey menatap Alina yang berusaha menghalanginya. Ditariknya tangan Alina dan dibawanya meninggalkan tempat itu.
Marissa yang berteriak memangil-nanggil nama Rey sama sekali tidak dihiraukan.
Rara memutuskan pulang dengan mobilnya sendiri karena Rey membawa Alina pergi dengan mobilnya.
Mobil yang dikendarain Rey melaju begitu cepat.
" Tolong turunkan saja aku disini !" ucap Alina tertunduk ia tidak berani menatap Rey, karena ia adalah putra dari kakaknya Nita, majikan Alina.
Rey menepikan mobilnya, Alina membuka pintu mobil, tidak bisa karena masih terkunci. Alina berbalik ingin bertanya kenapa pintunya tidak bisa dibuka.
" Pintunya ma...." belum selesai Alina berbicara, Rey mendekat dan menempelkan bibirnya di bibir Alina.
Alina melebarkan matanya, terkejut campur takut dirasakannya. Dengan buru-buru didorongnya tubuh Rey ke belakang.
" Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Rey dengan seringai senyum di bibirnya.
__ADS_1
Alina merasa orang paling bodoh sedunia, ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika Rey menciumnya.
bersambung