Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Tunanganku


__ADS_3

Readers..


Kasih like dan votenya ya...


Kalian yang terbaikk dehπŸ‘πŸ‘πŸ‘


Biar makin cumungutttt up nyaπŸ‘πŸ‘πŸ‘


πŸ‘€πŸ‘€πŸ‘€πŸ‘€


Hari yang ditunggu pihak keluargapun tiba, peresmian pertunangan Roi dan Silvi, mereka mengikat janji sebelum acara pernikahan yang akan dilaksanakan tahun depan


Roi terlihat gagah di dampingi oleh kedua orang tuanya Michel dan Nita. Stelan Tuxendo warna coklat gading sukses membuat tampangnya semakin macho. Orang tua dan anaknya itu berjalan memasuki ruangan yang sudah disiapkan pihak hotel.


Silvi diapit oleh kedua orang tuanya Morin dan Uli. Silvi terlihat anggun dengan gaun yang dipakainya. Gaun coklat silver yang sudah dicoba sebelumnya. Senyum manis di pipinya menambah cantik parasnya.


Sebelum acara di mulai ada pemutaran video yang berisi gambar-gambar keluarga kedua belah pihak. Foto-foto ketika Roi dan Silvi sewaktu masih kecil. Gambar yang ditampilkan dilayar yang cukup besar itu membuat anggota keluarga tersenyum bahagia.


Semua keluarga bahagia melihat Roi dan Silvi yang telah berdiri di hadapan pendeta.


Opung Robert dan Mary yang baru tiba semalam dari Jakarta juga sangat bahagia. David yang duduk di sebelah orang tuanya terlihat sangat menikmati acara tunangan keponakannya.


Meski acara terbilang singkat, tetap saja menguras tenaga bagi Roi dan Silvi.


Sekarang mereka sedang berada di kamar ganti untuk menukar pakaiannya masing-masing.


Argh...Silvi menarik nafas panjang.


Drtttt drttttt..suara ponsel di dalam tas kecilnya.

__ADS_1


Silvi melihat nomor tak di kenal melakukan panggilan. Dengan rasa penasaran di jawabnya panggilan itu.


Silvi : Halo, Siapa ini ?


.............


Silvi : Apa ? Edi. Kemana saja kau ?


.............


Silvi : Dasar. Oke..oke....Satu jam setelah ini.


Silvi mematikan ponselnya. Wajahnya kelihatan bingung. Ia berjalan mondar-mandir sambil memikirkan cara bertemu dengan Edi.


Akhirnya ia memutuskan pergi diam-diam karena kalau permisi juga percuma tidak akan dapat ijin.


Disinilah mereka sekarang.


" Edi." Silvi memeluk lelaki yang berdiri di depannya


" Silvi. Apa kabarmu ?" Edi mengecup pucuk kepala Silvi.


" Kemana saja kau. Apa Togar dan Roi melukaimu ?" Silvi menatap Edi


" Mereka mengirimku jauh. Aku dipindahkan ke Malang. Aku...aku...tidak sanggup berpisah denganmu." Edi memeluk Silvi semakin erat di kecupnya kening wanita yang dirindukannya itu berulang-ulang.


Suara itu kedengaran lemah, rasa rindu dan sedih bercampur di dada seorang Edi, tapi Ia tidak mengetahui kalau baru beberapa jam yang lalu pertunangan Silvi dan Roi usai.


." Nona Silvi." bariton Togar membuat keduanya terkejut. Silvi mekepaskan pelukkan Edi.

__ADS_1


Ia berbalik melihat kebelakang, Roi dan Togar berdiri di depannya menatapnya dengan tajam. Aroma marah terlihat jelas di raut wajah Roi.


" Lepaskan dia." Roi berjalan mendekati Edi dan Silvi. " Sialan kau. Beraninya kau memeluknya." Roi mendaratkan tinjunya di pipi Edi.


" Jangan Roi." Silvi berteriak menghalangi tangan Roi ketika tangannya terayun lagi ingin memberi bogem mentah di wajah Edi.


Roi memandang perempuan yang berdiri di hadapannya dengan geram, Ia menarik tangan Silvi dengan kasar, kemudian menyeretnya ke mobil. Ia mendorong Silvi dengan sekuat tenaga.


" Beraninya kau, keluarga kita masih berkumpul di rumah. Kau malah berpelukan di tempat ini dengan bajingan itu." suara Roi berteriak gemetar.


Silvi diam dan menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap Roi yang sedang di kuasai emosi.


" Jangan apa-apakan Edi. Kalau tidak kau akan menyesal." ucap Silvi mengancam Roi karena Togar sudah mendekat kepada Togar di luar mobil.


Roi tersenyum mengejek, dipengangnya lengan Silvi dengan kuat. " Arghh. Sakit." Ringisnya.


" Perempuan tak tahu malu." Roi menarik tangan Silvi agar menjauh dari Edi


Togar! bereskan dia !" suara Roi menggelegar sambil menatap tajam Edi yang dihadapannya.


" Dan kau ! Dia adalah tunanganku. Kuperingatkan kau untuk tidak bertemu dengan dia lagi. Dan mulai hari ini kau ku pecat." Roi meninggalkan tempat itu dengan membawa Silvi bersamanya.


" Kau jangan seenaknya. Edi sudah lama bekerja di tempat itu."


Roi tidak menghiraukan ucapan Silvi. Ia bungkam dan fokus membawa mobilnya. Wajahnya masih merah menahan amarah di dadanya.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2