
Adnan, Ester dan Togar sudah meninggalkan Roi di ruang kerjanya, Silvi masih melanjutkan pekerjaannya, hanya tinggal beberapa data yang perlu di cek olehnya.
" Sayang." Roi melingkarkan tangannya di pundak Silvi, tak henti-hentinya Roi mengecup pucuk kepala Silvi.
" Kau sudah lapar ?" Silvi mengelus punggung tangan Roi yang melingkar di kedua pundaknya.
"Hmm. Kita makan dulu, tadi mamih telepon, ia meminta kita makan siang di rumah, opa dan oma akan kembali ke Hongkong besok." jelas Roi sambil mengelus-elus rambut panjang Silvi.
Silvi melihat jam manis yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Ayo...nanti namboru dan oma kelamaan menunggu." Silvi berdiri dari kursinya, ia merapikan bajunya, dan melihat penampilannya di kaca mini yang selalu ia bawa.
Roi memeluknya dari belakang, ia meletakkan kepalanya di curut leher Silvi dan sesekali mengecup pipinya.
" Roi....aishh...katanya mau ke rumah, kalau kau begini terus kapan kita sampainya." Silvi geli melihat Roi yang menciumi pipinya sedari tadi.
" Sebentar saja."
" Lihat hampir jam satu."
" Cerewetmu tidak berubah." Roi melepaskan pelukkannya dan gantian mencubit pipi Silvi yang membuatnya gemes
\=\=\=\=\=\=\=
Lois dan Jhon sudah tiba di kediaman Michell
__ADS_1
" Kemana Roi dan Silvi ?" tanya Mariska
Lois mengedikkan bahunya tanda ia tak tahu.
Mariska menatap Lois dan Jhon bergantian.
" Kalian tidak ikut meeting dengan Roi?"
" Beberapa jam yang lalu sudah selesai, kami ingin makan siang bersama opa dan oma." jawan Jhon tersenyum
" Kalian sudah tiba." Michell baru saja memasuki ruang makan.
" sudah paman." Lois duduk di dekat opanya yang sedari tadi membaca koran.
Kemudian Roi dan Silvi tiba dikediaman orang tuanya.
" Ceila.....yang pacaran nempel terus dari kemarin, pepet terus jangan kasih longgar." Lois menggoda Roi dan Silvi.
" Asal lo....seperti ember." Roi melayangkan tinjunya ke Lois dan langsung saja ditangkis Lois dengan gerakan cepat.
" Roi..." Roi menoleh kepada Silvi
" Apa ?"
" Lepaskan tanganku, aku mau bantu namboru nyiapin makanan." Silvi memandang tangan Roi yang masih menggenggam tangannya.
__ADS_1
Mariska dan Michell tersenyum melihat tingkah 3 pria di depannya itu.
Nita baru saja keluar dari kamarnya.
" Ma, Pa...ayo kita makan, Pih...kau juga sudah pulang ternyata." ucap Nita mengajak untuk ke meja makan.
" Lois, Jhon, Roi cepatlah kesini."
" Sayang, bagaimana keadaanmu ? kau sehat ?" Nita merangkul Silvi sambil berjalan ke meja makan.
" Hmm. Semuanya sudah siap." makanan sudah dihidangkan oleh asisten rumah tangga.
" Roi, kapan rencana pernikahan kalian ?" percakapan di meja makan dimulai oleh Mariska.
" Aku ingin secepatnya oma." jawab Roi sambil melirik Silvi yang tertunduk sambil mengunyah makanannya.
" Bagus ! Opa dan oma menunggu kabar itu segera, dan Silvi bagaimana pendapatmu." pertanyaan yang tiba-tiba membuat Silvi gugup.
" Sa...sa..ya ikut rencana Roi saja oma."
Mariska tersenyum kepada Silvi.
Selain cantik, ia juga gadis penurut, pantasan Roi cinta mati padanya. guman Mariska dalam hati.
" Sebaiknya perusahaan yang diluar negeri buar Jhon saja mengelola, Roi terlalu sibuk, aku kwatir ia tak punya waktu untuk membuatkan cucu pada kami."
__ADS_1
Nita tersenyum mendengar candaan mama mertuanya, selalu demikian mama mertuanya bisa mengubah suasana menjadi hidup dimanapun ia berada, bahasanya yang tegas dan sopan membuat banyak orang tertarik padanya untuk berbisnis, sedangkan papa mertuanya lebih banyak diam dan mendengar saja, sifatnya hampir sama dengan Michell, kaku.
bersambung