Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Hotel LL


__ADS_3

Hubungan Alina dan Bima semakin dekat, tanggal yang ditetapkan untuk acara pernikahan mereka sudah semakin dekat. Keduanya sepakat mengurus sendiri rencana pernikahan mereka. Alina tidak setuju kalau Bima memakai jasa agen pernikahan untuk acara pernikahan mereka nanti alasannya adalah menghemat biaya pengeluaran, undangan dan tempat pernikahan sudah mereka dapatkan, konsep pernikahannya sederhana saja, mereka menggunakan konsep pernikahan out door, menggunakan taman yang pasti membuat pestanya akan menjadi sweet memory bagi mereka berdua.


"Kau masih sibuk?" Bima menemui calon istrinya yang masih berkutat dengan kertas-kertas dihadapannya.


"Hmm. Sedikit lagi." Alina menoleh sebentar kepada Bima yang disambut dengan kecupan di keningnya.


" Baiklah. Aku tunggu diruanganku. Cepat selesaikan pekerjaanmu!" Bima mengelus rambut Alina dan kemudian meninggalkannya.


Hari ini mereka akan pergi mencoba gaun pengantin yang sudah dipesan dua bulan yang lalu. Bima sangat bersemangat mengingat pesta pernikahannya sudah semakin dekat, diakuinya bahwa awal hubungannya dengan Alina ia belum sepenuhnya mencintai Alina, ia hanya mengikuti kemauaan papanya bagi Bima sosok Alina hanya seorang wanita yang tekun dan ramah dalam melakukan pekerjaannya. Bima hanya mengaguminya, tidak lebih tetapi seiring dengan berjalannya waktu rasa simpati di hati Bima berubah menjadi rasa cinta.


Rey sudah tidak begitu aktif lagi di kampus PEH segala laporan hanya diterimanya melalui email, Rey fokus memimpin perusahaan yang dipercayakan Morin kepadanya.


"Ada pertemuan dengan para pebisnis malam ini di hotel LL." Tomas mengingatkan Rey melihat tuannya itu masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Hmm." Rey masih fokus dengan layar laptopnya.


"Apa tuan akan mengajak Jean ikut ke sana?" seketika jari-jari Rey berhenti menekan tuts laptopnya ia menatap Tomas sambil berpikir.


"Boleh juga." Rey mengangguk-anggukan kepalanya. Tomas menelan salivanya ia tahu Rey dan Jean adalah teman dekat nalarnya bertanya apa mungkin Rey telah menjatuhkan pilihan hatinya pada Jean dan melupakan Alina.


"Bima juga diundang dalam pertemuan itu. Dia mewakili Pihak kampus PEH." Tomas memberitahu Rey kalau Tomas diutus pihak PEH untuk ikut hadir.


"Dan mungkin ia akan membawa Alina. Apakah tuan yakin untuk pergi malam nanti ?"


Rey menarik nafas berat semakin ia berusaha untuk menjauhi dan melupakan Alina semakin tumbuh rasa cinta di hatinya. Ia memikirkan ucapan Tomas dan ia menjadi ragu-ragu apakah ia akan berangkat mengingat orang yang dicintainya berada disamping pria lain.


"Tuan.."


"Aku akan berangkat !" jawab Rey dengan nada pasti sejujurnya ia ingin terlihat tegar di hadapan Tomas.


**


Malam ini Rey sudah siap berangkat menghadiri pertemuan para pebisnis dari segala bidang pekerjaan, Jean ikut bersamanya. Penampilan mereja begitu serasi malam ini, layaknya seperti pasangan kekasih.

__ADS_1


Turun dari mobil mewahnya Rey menggandeng Jean disampingnya, beberapa orang pencari berita mengambil gambar mereka. Rey cukup dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses.


Beberapa pria yang berdiri di depan pintu masuk mempersilahkan keduanya untuk masuk, awak media dilarang untuk masuk ke dalam tempat pertemuan.


"Selamat malam, tuan Reyhan." beberapa pengusaha memberikan salam sambil menjabat tangan.


Jean baru kali ini ikut dalam acara seperti ini, selama ini ia hanya bergelut dengan pasien di rumah sakit, dunianya jauh dari acara-acara seperti ini. Ia seorang dokter spesialis yang lebih memetingkan pasien. Sore tadi Rey meneleponnya meminta ia menemaninya di tempat ini.


Jauh di lubuk hati Jean dia telah menyukai Rey, dari pertemanan mereka ketika kuliah dulu Jean sudah bersimpati kepada Rey, di matanya sosok Rey adalah orang yang sopan dan bertanggung jawab.


"Kau melamun Jen?" goyangan tangan Rey di tangannya membuat Jen sadar dari lamunannya.


Wajah Jen merona malu akan apa yang dipikirkannya, dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.


Bima dan Alina baru saja tiba di tempat itu, mereka datang dengan kostum yang senada, beberapa pria terlihat memandang Alina yang cantik dan anggun malam itu. Bima menggenggam tangan kekasihnya itu dengan erat.


"Maaf, aku tidak biasa ikut acara seperti ini." Alina merasa kaku dan tegang berada dihadapan orang-orang yang datang dengan tampilan cukup elegan dan berwibawa mereka adalah pengusaha-pengusaha di negeri ini.


Tidak sengaja Rey melihat Alina berjalan ke tengah-tengah ruangan, mereka tampak romantis, senyum manis milik Alina terpampang di wajahnya. Rey menelan salivanya entah mengapa ia merasa tidak terima Bima mengandeng orang yang dirindukannya itu.


"Dia tunanganku." Bima memperkenalkan Alina kepada rekan-rekannya yang kebetulan hadir juga disana. Alina tersenyum mengangguk membalas sapaan rekan-rekan Bima.


"Selamat datang, tuan Bima." suara seseorang menyapa Bima dan Alina dari sebelah samping.


" Hei, Mars. kau hadir juga." Bima menepuk pundak Mars.


Alina menoleh melihat Mars tadinya ia tidak percaya kalau yang dihadapannya adalah Mars yang dikenalnya dulu.


"Mars." Alina masih ingat wajah Mars terakhir ia ketemu dengan Mars di pesta ulang tahun teman Rara di sebuah club malam.


"Alina." Mars tidak percaya melihat Alina di depan matanya.


" Ternyata kalian saling kenal. Alina tunanganku." ucap Bima sambil merangkul pundak Alina.

__ADS_1


Mars mengangguk sambil tersenyum sebenarnya ia masih memendam rasa sakit dihatinya bila mengingat kejadian di club malam beberapa tahun yang lalu, Alina menyiramkan minuman di wajahnya dan ia tidak bisa membayangkan rasa malu yang dirasakannya waktu itu.


Terbersit niat Mars untuk membalas perlakuan Alina.


"Lama tidak bertemu kamu semakin cantik saja, Al." Bima tersenyum mendengar ucapan temannya itu memang Alina kelihatan cantik malam ini.


"Mari kita bersulang!" Mars meminta pelayan membawakan minuman kepada mereka. Dengan gembira Bima menyambut ajakan Mars untuk bersulang, hal yang sama dilakukan Alina.


Di sisi lain Rey selalu memperhatikan Alina, ia berusaha mengawasi Alina diantara keramaian orang yang hadir di hotel malam ini.


"Rey. Kau mau minum ? Biar kuambilkan ya." Jen yang sedari tadi memperhatikan Rey gelisah menawarkan minuman untuknya.


" Terima kasih, Jen." Bima menerima minuman yang diberikan Jean.


Pertemuan beberapa pengusaha di hotel LL adalah seperti gathering, mereka saling bertemu yang masing-masing punya tujuan tertentu, ada yang menawarkan jasa, mencari partner bisnis, ingin menanamkan modal dan banyak lagi kepentingan yang lain yang jelas pertemuan itu adalah ajang mencari keuntungan bagi semua pihak yang hadir.


"Bim, aku ke toilet sebentar." Alina berbisik di telinga Bima yang langsung dijawab dengan anggukan, Alina meninggalkan Bima dan Mars yang masih semangat bercerita.


Alina berjalan ke toilet dengan cepat karena ia merasa panas dan sedikit meriang.


Aku kenapa? Apa ada yang salah dengan minuman itu ? sesekali Alina memegang tengkuk lehernya ada yang bergejolak dalam tubuhnya.


"Nona, apa anda baik-baik saja." seorang pelayan menyapa Alina karena jalan terburu-buru.


Alina tidak mengubrisnya ia berlari cepat melalui beberapa orang yang sedang memandangnya dengan wajah heran.


Braak....


Seseorang menabrak Alina dan menariknya menjauh.


"Lepaskan !"


bersambung

__ADS_1


__ADS_2