
Rey sudah bersiap dengan stelan kerjanya, pagi ini Rey mengajak Alina ke kantor PEH karena secara resmi akan pamit kepada semua karyawan disana, ia telah mengangkat Tomas untuk memimpin PEH dan Bima akan menjadi pendampingnya.
Rey akan fokus mengurus beberapa perusahaan yang dimandatkan Morin, ayahnya untuk ia pimpin.
Di PEH Rey tercatat sebagai pemilik saham terbanyak dari beberapa orang yang menanamkan sahamnya di sana. Jadi ia merasa Tomas dapat menggantikan kepemimpinannya di sana. Rey akan kembali ke kota Medan.
"Baik. Selesaikan dengan aman. Aku tidak ingin melihat Alinaku dalam masalah." Rey menerima telepon dari Antonio mengenai Arnold.
Rey menatap Alina yang sedang berdiri di sampingnya, ia mendengar Rey sedang berbicara dengan seseorang.
" Sayang." Rey menggenggam tangan kekasihnya. Alina mengetahui bahwa diseberang sana adalah Antonio yang melaporkan hasil kerjanya kepada Rey.
" Laki-laki itu sudah dibereskan. Sekarang kau dan ayahmu sudah aman" Rey mengelus jemari kekasihnya itu.
" Ya. Terima kasih, Rey." Alina mengangguk ada senyum bahagia terpancar di wajahnya.
***
__ADS_1
Sementara Bima, pagi ini akan cepat berangkat ke kantor karena Tomas memberitahu bahwa Rey ingin bertemu dan membicarakan sesuatu kepadanya.
" Hei...kenapa sepagi ini kau sudah rapi, Bim." Marissa yang baru saja bangun haran melihat tampilan Bima sudah lengkap dengan jas hitamnya.
Bima hanya melirik Marissa, pakaian yang dikenakan Marissa terlalu seksi, Bima khawatir bila ia tidak dapat menahan dirinya untuk kesekian kalinya.
"Aku ada rapat. Sarapan sudah aku siapkan. Ingat kau jangan coba memasak lagi. Bisa-bisa tempat ini dilahap si jago merah." jawab Bima yang sedang memasangkan dasinya di depan cermin.
" Sini. Biar aku pasangkan. Hitung-hitung membantu. Masak engak bisa, beres-beres rumah juga enggak bisa. Paling tidak yang ini boleh aku kerjakan." ucap Marissa mendekat kepada Bima dan mengambil dasi yang di pegang Bima.
Bima menatap tubuh seksi yang terpampang di hadapannya itu, kulit putih dan mulus, belahan buah dada Marissa terlihat seperti menantang, sedangkan celana yang super pendek membuat Bima tidak bisa melewatkan pandangannya ke kaki jenjang dan mulus milik wanita yang suka menggodanya itu.
" Besok-besok bisa enggak kamu pakai baju yang tertutup, tidak seperti ini. Hampir semua bagian tubuhmu kelihatan." Bima memprotes tampilan Marissa yang selalu kelihatan menggoda imannya.
" Kalau yang melihat kamu, aku tidak keberatan. Toh kau sudah melihat semuanya kan ?" Marissa tersenyum dan mengedipkan matanya menggoda Bima.
" Argh. Sudah lepaskan ! Biar ku pasangkan !"
__ADS_1
" Ishh. Sedikit lagi sudah rapi kok." Marissa menepis tangan Bima yang ingin merebut dasi
dari tangannya.
Bima tidak berkutik, kali ini ia mengikuti saja kemauan Marissa. Meskipun hasratnya tiba-tiba ingin menjamah Marissa, sebisa mungkin ia menahannya. Ia tidak ingin kejadian yang dulu terulang kembali. Bima benar-benar menjaga agar ia tidak menyakiti Marissa apalagi saat ini perempuan itu sedang hamil.
" Sudah selesai." Marissa merapikan kemeja dan jas yang dipakai Bima.
Marissa menatap Bima. Perawakan yang begitu menarik, tubuh tinggi dan atletis, wajah tampan namun terlihat dingin. Dan satu lagi yang membuat Marissa klepek-klepek sikap Bima yang lembut dan penuh perhatian.
" Selamat bekerja." dengan cepat Marissa mencuri ciuman di pipi Bima.
Bima melebarkan matanya, menatap perempuan yang tersenyum manis juga sedang menatapnya. Bima memilih cepat meninggalkan Marissa, ia bergegas dan berjalan cepat keluar dari apartemennya.
*hahahaha...Bima kau pasti menjadi milikku sedikit lagi.
bersambung*
__ADS_1