
Marissa menuruti saja perkataan Bima. Bima menyiapkan sarapan untuknya. Ada omelet telur dan sayuran juga buah yang segar sudah terhidang dihadapannya, tidak lupa susu putih di gelas putih turut terhidang disamping piringnya. Semua disediakan Bima dengan tangannya sendiri.
" Makanlah ! Kau dan bayi dalam kandunganmu butuh asupan makanan yang bergizi."
Marissa menelan salivanya, hidangan yang disiapkan Bima tampak begitu menggoda seleranya, sejak mengetahui ia mengandung Marissa tidak pernah memperhatikan asupan makanannya, ia memakan apa yang dirasa enak, bahkan beberapa kali ia masih mengkomsumsi alkohol. Ia terkesan tidak peduli dengan dirinya apalagi janin yang dikandungnya.
" Hei ! Kenapa tidak memakannya ?" Bima melihat Marissa hanya memandang makanan yang sudah disiapkannya.
" Suka atau tidak kau harus memakannya." Bima mengambil piring dan sendok dari atas meja, kemudian ia duduk di kursi tepat disamping Marissa.
" A..aa...buka mulutmu !" Bima menyuapi Marissa, semula ia enggan membuka mulutnya, melihat Bima menatapnya dengan tajam akhirnya ia mengikuti maunya Bima.
Ada perasaan haru sekaligus bahagia di hati Marissa, detik ini pertama kali merasa diperhatikan oleh seseorang, tidak pernah ia merasakan perhatian seperti ini sebelumnya, bahkan mamanya sendiri tidak pernah menyuapinya makan seperti yang dilakukan Bima.
Air mata Marissa menetes begitu saja di pipinya dan itu tanpa disadarinya, air mata bahagia, Bima orang pertama yang membuat dirinya merasa tersanjung.
"Hmm..kenapa menangis ? Apa makanannya tidak enak?" Bima bingung melihat Marissa menangis ketika di menyuapinya
" Maafkan aku. Kalau tidak suka jangan dimakan." Bima meletakkan piring yang dipegangnya di meja dan tidak memaksa Marissa untuk makan lagi, Ia bangkit untuk bersiap-siap pergi ke kantor.
" Bim." Marissa menarik tangan Bima agar tidak meninggalkannya.
__ADS_1
" Aku ingin kau suapin lagi. Aku menangis karena bahagia. Bukan karena makanan ini. Kau sangat peduli denganku." Marissa menghapus air matanya dan mencoba tersenyum dihadapan Bima.
Bima tersentuh dengan permintaan Marissa. Ia duduk kembali di kursinya dan menyuapi Marissa seperti yang ia minta.
" Terima kasih ya, Bim." Marissa sudah menyelesaikan sarapannya.
" Apa aku bisa minta sesuatu darimu ?"
" Kalau aku mampu, akan kuberikan."
" Peluk aku."
Bima melebarkan matanya.
" Kemarin kau menciumku."
" Itu hukuman."
" Bima." Marissa berdiri dan mendekap Bima, wajahnya diletakkannya di dada bidang Bima. Marissa bisa merasakan nafas Bima yang memburu.
Marissa mengelus pelan dada Bima, sedangkan Bima masih berdiri dan diam, pikirannya menjadi tidak menentu, Marissa lagi lagi membangkitkan hasratnya, gesekan benda kenyal milik Marissa membuat Bima mati-matian meredam hasratnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Bima." akhirnya Marissa melepaskan tangannya dari tubuh Bima.
Oh...syukurlah. Bima menarik nafas panjangnya. Ia mengaggukkan kepala mengiyakan perkataan Marissa. Kemudian ia cepat meninggalkan Marissa untuk menutupi wajahnya yang memerah menahan hasrat dalam dadanya.
Tidak berapa lama mereka berangkat ke kantor bersama. Bima mengantarkan Marissa ke tempatnya bekerja kemudian ia berangkat menuju PEH kampus dimana ia bekerja.
Sesampai di ruangannya Marissa tidak berhenti tersenyum, bahagia itu yang dirasakannya sekarang.
" Nona." Bobi menghampiri Marissa dan memberikan paper bag yang dipegangnya.
" Apa nona baik-baik saja?"
" Kau lihat sendiri ! Apa aku kelihatan seperti tidak baik-baik saja?"
" Hmm." Bobi menganggukan kepalanya. Dimatanya pagi ini Marissa kelihatan berseri-seri.
" Aku akan tinggal dengan Bima." ucap Marissa
" Kalau nona bahagia, aku akan mendukung nona."
" Terima kasih, Bob. Kurasa Bima akan memberiku kebahagian yang tidak semu. Sebenarnya aku tidak butuh semua ini, harta, jabatan dan uang. Papa dan mama salah jika menganggapku bahagia karena ini semua."
__ADS_1
Bobi terharu mendengar perkataan Marissa, ia memahami mengapa putri dari bossnya itu bertingkah seperti saat ini, Marissa kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Bobi berharap Bima bisa membahagiakan Marissa.
bersambung