Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Amnesia


__ADS_3

" Maaf. Anda siapa ?" pertanyaan yang terucap dari mulut Roi membuat Silvi terkejut.


" Kau sudah sadar Roi. Sudah seminggu kau tidak sadar. A...aku...." Silvi tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Bila tidak mengingat ucapan dari dokter yang menangani keadaan Roi, ingin rasanya ia menangis.


" A..aku Silvi. Istrimu Roi." ucap Silvi tersenyum untuk menutupi hatinya yang sedih dan terluka melihat keadaan Roi.


" Akibat benturan yang sangat hebat di kepala, memory di pikiran pasien akan sedikit terganggu. Bantulah Tuan Roi untuk memulihkan ingatannya ! Walau hanya sementara, sikap dan perlakuan keluarga akan mempercepat proses pemulihannya." penjelasan dokter yang menangani Roi masih tergiang di telinga Silvi.


" Maaf ! Aku tak mengingat siapa anda." ucap Roi kemudian yang melihat Silvi diam dan menunduk.


" Apakah kita sudah lama menikah ?" tanya Roi kemudian


Ingin rasanya Silvi menangis, tetapi ia berusaha menahan agar Roi tidak sedih, ia harus menjaga suasana hati suaminya itu.


" Ini bulan ke dua setelah kita menikah." ucap Silvi mengenggam tangan Roi yang masih terkulai lemah.


" Hmm. Sekarang kau mau minum atau makan sesuatu ?" ucap Silvi mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


" Tidak. Nanti bila aku menginginkannya, aku akan memintanya." Roi mengalihkan pandangannya dari Silvi. Matanya menatap kosong langit-langit kamar.


" Baiklah ! Kau bisa mengatakannya padaku. Aku mau istirahat dulu. Rasanya tubuhku lelah sekali." Silvi mengelus pelan tangan Roi kemudian ia melepaskan genggamannya. Ia meninggalkan Roi sendiri di kamar.


Setelah keluar dari kamar bukan rasa senang yang dialami Silvi karena Roi sudah sadar, justru sebaliknya ia begitu terpukul Roi sama sekali tidak mengetahui siapa dirinya. Luruh sudah air mata Silvi, ia menangis di balik pintu.


" Sayang."


" Silvi."


Michel dan Nita yang baru keluar dari kamar terkejut melihat menantunya itu menangis sesunggukan di depan pintu.


Michel langsung membuka pintu kamar, dan menemui Roi, ia melihat Roi yang sedang merenung, seperti sedang berpikir.


" Roi ! " Michel menghampiri putranya.


" Lihat papih !" lanjut Michell. Sama dengan Silvi, respon Roi hanya menatap Michel dengan tatapan dingin.

__ADS_1


" Kau sudah sadar boy ! Apa yang kau rasakan saat ini ? Kepalamu sakit, tanganmu, kakimu atau perutmu. Katakan pada papih ! Papih akan memanggilkan dokter untuk memeriksamu." dengan semangat Michel bertanya kepada Roi.


Roi hanya menggelengkan kepalanya.


Sementara dibalik pintu Nita terus membujuk Silvi agar tidak menangis lagi.


"Sayang. Jangan menangis terus ! Ingat kandunganmu ! Kita harus sabar, bukankah dokter mengatakan itu hanya sementara ? Papih dan mamih akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan Roi." Nita membelai rambut Silvi yang sedikit berantakan, kemudian diusap-usapnya punggung Silvi agar ia bisa tenang.


Tiba-tiba perut Silvi bergejolak, ia melepaskan pelukkan Nita, dengan tergesa-gesa ia berlari ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya.


Nita mengikuti Silvi dari belakang, ia memijit tengkuk Silvi saat memuntahkan makanan yang ada di perutnya.


Setelah merasa enakkan, Nita membawa Silvi ke kamarnya. " Istrahatlah sayang ! Mamih akan menjagamu disini."


Silvi menganggukan kepalanya mengiyakan ucapan Nita.


Silvi membaringkan tubuhnya di kasur. Baru ia sadari kalau sedari tadi ia menangis, tubuhnya terasa lelah dan lemas.

__ADS_1


Menyadari kondisinya yang sedang mengandung Silvi bertekad harus lebih semangat menjalani masa-masa sulit yang dihadapinya sekarang. ia tak mau mengambil resiko atas kehamilannya saat ini, bila terus dalam tekanan emosi yang tidak stabil justru akan merugikan dirinya sendiri.


bersambung


__ADS_2