Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Imunisasi


__ADS_3

Roi akan berangkat ke Hongkong, sebab disanalah pusat perusahaan keluarga Chen. Seminggu lamanya Roi akan berada di tempat kelahiran papihnya itu.


" Bagaimana dengan Al dan El, sayang. Kau pasti kerepotan." Roi merangkul istrinya sambil menatap baby El yang menyesap ASI Silvi.


" Atau...tinggal di mansion papih saja, kan ada mami yang bisa bantuin." berat sekali hati Roi berangkat, sekarang Roi menjabat pimpinan di semua perusahaan Chen mau tidak mau ia harus berangkat, tugas dan tanggung jawab seorang pemimpin menunggunya.


Sesekali Roi mencuri ciuman dari istrinya yang sedang menyusui, untung saja baby Al sedang tidur, karena sekarang lagi aktif-aktifnya jam tidur Al selalu lebih awal dari El.


" Aku minta Alina saja menemaniku. Seminggu saja selama kau bekerja di sana." Silvi meletakkan baby El di box nya, ia sudah tidak mau menyesap ASI lagi, itu pertanda ia sudah kenyang.


" Terserah kamu sayang." Dengan cepat Roi merangkul pinggang istrinya yang baru saja meletakkan Elvina di box nya karena sudah mengantuk.


" Sekarang giliran aku." Roi menarik tubuh Silvi kepelukkannya.


" Dadamu bertambah besar sayang." ucap Roi sambil mengelus dua gundukan yang menjadi rebutan mereka bertiga, Al, El, dan papihnya.


" Mandi dulu sana !" Silvi berusaha melepaskan pelukkan suaminya agar Roi cepat membersihkan dirinya, habis pulang kerja langsung saja ikut nimbrung melihat El yang sedang menyusu.


Roi menangkup kedua pipi istrinya kemudian mencium bibir ranum istrinya sebentar saja melepaskan tautan mereka, mengelus


pipi chuby perempuan yang amat dicintainya itu.


" I Love You." Jarinya mengusap bibir merah yang masih basah bekas ciumannya barusan.


Silvi mencubit kedua pipi suaminya yang sangat menggemaskan. " Modus. Pasti mau minta jatahkan ?" senyuman Silvi begitu manis di mata Roi, ditambah kedua lesung pipi membuat istrinya itu terlihat begitu cantik, Roi begitu menginginkan istrinya itu.


" Boleh ?" Roi selalu bertanya bila ia ingin memasuki istrinya, ia khawatir melihat tugas Silvi mengurus baby kembar mereka pasti melelahkan, Roi tidak mau istrinya melakukan kewajibannya karena terpaksa, sebagai suami Roi sangat pengertian.


Silvi tersenyum, ia melingkarkan tangannya di leher Roi, tidak mau membuang waktu Roi mengecup bibir istrinya, tangannya menarik tubuh Silvi dalam dekapannya, setelah melahirkan tubuh Silvi agak berisi, ukuran dada yang semakin besar membuat Roi senang bermain-main disana.


Pergulatan panaspun tidak dapat dihindari oleh kedua mahluk itu, seperti pengantin yang baru menikah kemesraan pasangan suami istri itu tidak pernah padam, setiap hari ada saja cara Roi untuk menggoda istrinya agar mau bercinta dan Silvi sudah memahami itu anehnya Roi terkadang cemburu melihat baby Al dan El yang menguasai miliknya.


Saling menyesappun terjadi antara mereka, Roi terlihat begitu menggemaskan ketika bibirnya nempel di dada Silvi, seperti seorang bayi sedang menyesap susu ibunya demikianlah sikap Roi.


" Sayang, rasanya sedikit asin." Roi menatap asset Silvi dengan tatapan menggoda.


" Itu milik Al dan El "Silvi terkekeh melihat kerutan di kening Roi mungkin ia merasa aneh dengan rasa susu asli dibandingkan dengan susu kaleng yang sering diminumnya, Silvi merasa geli dengan tingkah bayi besarnya itu, ikutan minum ASI.

__ADS_1


" No. Harusnya milikku, tapi sekarang aku rela berbagi dengan mereka." protes Roi kemudian mengecup kembali bibir merah sang istri.


***


Roi menjatuhkan tubuhnya ke samping, dengan sebelah tangganya menopang kepala matanya menatap Silvi yang semakin hari semakin menggodanya, jari-jarinya bermain di wajah Silvi.


" Terima kasih, sayang. Kau selalu membuat kami bahagia." Roi mengecup pucuk dahi Silvi. Silvi balas mengelus pipi Roi, saling menatap dan menunjukkan cinta lewat senyum di bibir masing-masing.


*


*


Pagi ini Silvi akan membawa baby Al dan El ke rumah sakit karena hari ini jadwal imunisasi untuk kedua bayinya.


Kemarin Silvi sudah menelepon Rey minta tolong mengantarkannya karena jadwal kuliahnya siang hari.


" Alina, kau pegang Al ya..." Silvi baru saja selesai memakaikan pakaian Alvino.


Alina membereskan peralatan yang akan dibawa, botol susu, pampers dan beberapa pasang pakaian Al dan El.


" Iya, tante." Oleh saran Silvi Alina memanggilnya tante. Biasanya di kebudayaan batak seperti itu, hidup di era modern dan menjadi orang yang terpandang, Silvi dan keluarga masih memegang teguh ajaran-ajaran suku batak secara turun nenurun.


Rey sedikit terkejut melihat Alina ada di rumah kakaknya, ia tidak tahu kalau Alina tinggal untuk sementara, sampai Roi pulang dari Hongkong.


" Rey. Tolong bawakan tasnya ya." Silvi memberikan tas bayi kepada Rey agar membawanya ke mobil, mereka sudah selesai dan siap berangkat.


" Alina, kamu siap ?" Alina mengangguk baby Al sudah berada di gedongannya.


Alina sedikit gugup karena Rey melihatnya, ia berusaha untuk bersikap tenang, karena memang tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka.


" Al. sakit tahu !" ocehan-ocehan Alina kepada baby Al yang menarik-narik rambut Alina di mobil merebut perhatian Rey.


Ada lengkungan di wajah Rey yang melihat Al dan Alina di jok belakang, wajah Alina yang cemberut karena kejahilan Al. Justru Rey senang melihat Alina cemberut seperti itu, lucu sekali.


Sebentar kemudian terdengar gelak tawa Al yang perutnya di ciumin Alina, sekali lagi Rey melihat Alina begitu manis dengan tawa di wajahnya.


Silvi tersenyum melihat tingkah Al dengan Alina, dalam hati ia memuji Alina yang bisa membantunya menjaga Al.

__ADS_1


" Alina, kamu sudah punya pacar?" Pertanyaan Silvi membuat Alina gugup.


" Belum, tan. Masih mau serius belajar dulu." ucap Alina malu-malu.


" Rado, siapa kamu ?" Rey menyelutuk begitu saja.


" Dosen."


" Tapi sering berdua, kan ?"


" Nggak juga."


Rey menatap wajah Alina sepintas dari kaca spion, ia melihat mulut Alina komat-kamit.


Apa sih, Pake bawa-bawa pak Rado lagi. Apa kabarnya sudah sejauh itu ya ? padahal aku tidak merasa ada apa-apa tuh..dengan pak Rado.


" Jadi kalian satu kampus ?"pertanyaan Silvi mengagetkan kedua orang yang sedang sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


" Keren itu Al. Kalau memang dosen kamu itu senang direspon saja." tanpa menunggu jawaban dari dua orang yang saling menatap di kaca spion, Silvi menyemangati Alina.


" Hmm. Saya pikir-pikir dulu saja, tan." balas Alina kemudian mengalihkan tatapannya kepada Al yang sudah dalam posisi mau tidur.


" Jangan kelamaan mikirnya, keburu disikat orang." kekeh Silvi.


Alina hanya tersenyum menanggapi ucapan Silvi, ia tahu Silvi pasti sedang bercanda.


Akhirnya mereka sudah tiba di rumah sakit, Silvi mendaftarkan imunisasi putra putrinya di poli eksekutif, tidak perlu harus antri karena di poli itu tidak begitu banyak pasiennya. Tarifnya juga tinggi, jadi banyak yang memilih untuk imunisasi di poli reguler tarifnya tidak terlalu mahal, Memang uang bisa mengatur keadaan ya.😃


Melihat jarum suntik yang akan diarahkan untuk memberikan imunisasi kepada Al, Alina merasa takut, ia tidak tega jarum itu menembus kulit putih Alvino. Melihat itu senyum tipis kembali terlihat di wajah Rey entah mengapa ia melihat Alina lucu dan menggemaskan.


Rey memegang tangan Alina dan baby Al agar dokter bisa menyuntik Al. Jantung Alina berdegup begitu kencang tatkala tangan Rey memegang tangannya dengan erat.


Alina tidak berani menatap Rey, dokter sudah selesai menyuntik baby Al, tidak ada suara tangisan karena Al sedang tidur. Konon katanya bila imunisasi pake obat mahal sakitnya tidak terasa, betul enggak??


Setelah dokter selesai menyuntik kedua baby Silvi, mereka siap-siap pulang.


" Gitu saja takut, cemen elo." ucapan Rey membuat Silvi tergelak, sedangkan Alina menunduk menahan rasa malu.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2