
Hari ini Silvia sudah berada di kediaman Michel Chan, disinilah Silvi memulai langkah baru dalam hidupnya. Kenyataannya ia sekarang sudah menjadi tunangan Roi.
Pagi ini mereka berempat duduk menghadap meja makan.
" Amangboru." ucap Silvi sambil menunduk
" Ada yang ingin kamu sampaikan." Michel bertanya dengan nada datar.
" Apa aku bisa bekerja di perusahaan Amangboru. Aku akan jenuh di rumah." Ucap Silvi sedikit malu-malu.
Roi yang duduk disebelahnya menatap dengan wajah dingin. Nita tersenyum.
" Ya. Lebih baik Silvi kerja dengan Roi pih. Biar dia nga jenuh di rumah." menatap Silvi masih dengan senyum di bibirnya
Michel menganggukan kepalanya sambil memandang Silvi seperti ada yang dipikirkannya.
" Baiklah. Besok sekalian penyerahan pimpinan kepada Roi papih mau ke kantor. Silvi kau bisa bekerja dengan Roi, dibagian mananya biar Roi yang mengatur. "
Silvi tersenyum bahagia. Besok ia tidak akan diam dirumah. Pekerjaan yang paling membosankan.
__ADS_1
Nita memeluk Silvi dan ikut bahagia karena suaminya mengijinkan Silvi kerja.
Roi menarik nafas, kemudian membuangnya dengan kasar, dua perempuan di depannya membuat moodnya sedikit tidak baik.
" Aku mau berangkat ke kantor sekarang." Roi meneguk air putih di gelasnya mengakhiri sarapannya pagi ini.
" Roi. Besok ada meeting sama semua staf, kau persiapkan itu." Suara Michel menghentikan langkah Roi yang ingin beranjak dari meja makan.
" Iya pih." jawabnya sambil berlalu.
Nita menatap Silvi yang masih asyik dengan makanannya.
" Setelah ini kita jalan dulu ya Sil, Namboru mau membeli beberapa keperluan untuk di Hongkong nanti."
" Mih, pih."
" Lho katanya mau ke kantor. Kok masih disini sih." Nita bertanya kepada Roi yang berdiri di sampingnya.
" Aku mau kasih tahu selama papih dan mamih di Hongkong aku tinggal di apartemenku saja."
__ADS_1
" No Roi. Siapa teman Silvi ? Secara kau tahu dia baru di Jakarta ini. Bagaimana ia berangkat bekerja?"
" Ada sopir yang bisa antar jemput dia."
" Roi. Kau tunangannya. Bagaima mungkin ia sendiri di rumah ini." Nita sedikit jengkel mendengar jawaban Roi.
" Mih. Tolong jangan melarangku, ini sudah keputusannku, lagi pula aku tidak mau sesuatu terjadi sebelum pernikahan nanti."
" Mamih tidak setuju, tetap tinggal di rumah dan kau perhatikan Silvi dengan baik. titik." jawab Nita ketus.
Roi tahu kalau ngomong dengan mamihnya pasti saja ujung-ujungnya seperti ini. Roi sedikit kesal dengan keputusan mamihnya bukan ia tak ingin dekat dengan Silvi tapi ia ingin menguji cinta Silvi kepadanya setelah kejadian kemarin di Medan, Silvi menemui pacarnya Edi di hari pertunangan mereka.
" Biarkan mereka memilih bagaimana baiknya toh nereka sudah dewasa, kalau kamu ingin di apartemenmu tidak apa-apa Roi asal jangan mengabaikan Silvi." ucapan Michel membuat Nita semakin geram.
" Pih. Bicara apa kamu."
" Stop sayang cukup perdebatan hari ini. Aku juga mau berangkat kerja. Ayo Roi." Michel menghampiri Nita kemudian mengecup keningnya sebelum berlalu dan pergi.
" Nikmati hari ini dengan shoping sepuasnya agar hatimu tidak panas lagi." Michel terkekeh meninggalkan istrinya yang masih marah.
__ADS_1
Silvi hanya sebagai pendengar yang baik. Semua ucapan Roi membuatnya sakit hati, ntah mengapa Roi memilih tinggal di apartemen secara rumah yang didiami keluarga Michel terbilang besar dan mewah, atau mungkin ia ingin menjauh dariku.
Bersambung