Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
penjelasan


__ADS_3

Pesta sudah usai, satu persatu undangan meninggalkan hotel, sekarang tidak terlalu ramai, orang yang tinggal mendominasi kerabat dari tuan Michell.


Ada tuan Glen Chan dan nyonya Mariska, kedua orang ini adalah orang tua Michell, sudah berumur tapi penampilan mereka kelihata modis dan elegan.


Garis -garis ketampanan Glen masih tetlihat di wajahnya, begitu juga Mariska perempuan cantik dan anggun terlihat dari sikap dan pembawaannya.


" Boy..." itu panggilan sayang kedua orang tua itu pada Roi.


" Opa, Oma..." baru saat ini kesempatan Roi untuk memeluk kedua orang tua itu.


" Siapa namanya ?" Mariska memberi isyarat kepada Roi.


Roi mengikuti tatapan mata omanya.


" Silvia, oma." jawab Roi


Senyum simpul terlihat di wajah wanita separuh baya itu." kau mencintainya ?" tanyanya kemudian.


" Aku mencintainya." jawab Roi dengan tegas.


Mariska menatap Silvi yang masih ngobrol dengan Nita, Sesekali ia menganggukkan kepalanya. Memang Mariska belum begitu mengenal Silvi secara dekat, ia hanya mendengar kabar dari Nita beberapa waktu yang lalu Roi cucunya akan menikah dengan Silvi.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Mona dan Arnold akhirnya kembali ke hotel tempat mereka menginap, Arnold sangat kesal tidak mendapat sambutan hangat dari Roi, semuanya terkesan biasa-biasa saja. Padahal Arnold sangat berharap keluarga Michell menyambutnya dengan baik berhubung dia adalah salah satu pemilik saham di PT Dosroha


Mona tidak putus asa, meskipun kabar tentang rencana pernikahan Roi dan Silvi sudah diumumkan oleh Michell. Ia masih berharap bisa memiliki Roi, suatu rencana jahat terbersit di pikirannnya.

__ADS_1


" Kak ! Apa kita akan lama tinggal di jakarta ? " tanya Mona masih asyik mengutak atik ponsel di tangannya.


" Hmm. Kau tenang saja dulu, nanti aku pikirkan, untuk senentara kita disini dulu." jawab Arnold.


Kedua kakak beeadik itu sepertinya akan menyusun rencana jahat, ntahlah apakah berhasil atau malah sebaliknya.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Adnan masih setia berdiri di belakang Roi, ia menunggu perintah dari tuannya itu.Setelah pesta usai sekarang mereka kembali berkelut dengan pekerjaan di kantor.


" Adnan ! duduklah ! seperti ucapanku kemarin, aku ingin penjelasan darimu, aku merasa kalian mengerjakan sesuatu yang tidak ku ketahui." Roi menatap Adnan, ia duduk dan menyilangkan kakinya di kursi kebesarannya.


" Semuanya rencana nyonya besar tuan, nyonya yang memberi arahan agar kami mencegah pertemuan tuan dengan nona Silvi sebelum acara besar tuan besar dan nyonya." jelas Adnan


" Terus.....apa maksud di balik itu semua ?" sekarang Roi berdiri, berjalan mengitari Adnan yang masih duduk, ķedua tangannya dimasukkan di saku celananya.


" Nyonya ingin nona Silvi merasa cemas, dan cemburu ketika melihat tuan dekat dengan Ester, karena nyonya tahu sebenarnya Silvi sangat mencintai tuan, tapi masih enggan mengutarakannya."


Ia rersenyum penuh arti.


" Terima kasih. aku bangga pada kalian, kau dan Ester kuberikan bonus, akhir bulan ini terima bonusnya." Roi menepuk pundak Adnan.


Adnan tersenyum melihat respon tuannya itu, ada yang berbeda dari biasanya, sekarang Roi lebih ramah dan murah hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Di ruangan lain Silvi, Nita, dan Mariska masih berbincang bincang diruangan Michel. Mariska ingin berkunjung mlihat-lihat perusahaannnya itu.

__ADS_1


" Namboru, opung.Silvi permisi dulu, Silvi mau membereskan pekerjaan Silvi." ucap Silvi kepada Nita dan Mariska.


" Hmmm. pergilah ! " ucap Mariska tersenyum. Sesungguhnya ia sangat senang atas perawakan dan sikap Silvi, cantik dan sikapnya tidak berlebihan.


" Sayang." ucap Roi setelah melihat Silvi di depan pintu.


Mengabaikan ucapan Roi, Silvi duduk di sofa sambil memijit mijit keningnya.


" Ada apa ?" Roi berjalan mendekat kepada Silvi, ia melihat sepertinya Silvi sedang tidak sehat.


" Arghh. ntahlah tiba-tiba kepalaku pusing." ucap Silvi meringis.


Roi mengangkat tubuh Silvi, ia membaringkan Silvi di sofa yang panjang.


" Kau belum makan ?" Silvi menggeleng lemah.


" Cepat pesankan makanan !" Ucap Roi setelah menekan tombol merah di mejanya.


Ester yang mendengar pesan dari Roi langsung memesan makanan untuk tuannya itu.


Roi mengambil gelas di pantry, kemudian ia menyeduh air hangat yang dicampur sedikit madu.


" Minumlah ! ini menghangatkan tubuhmu."


Silvi meminumnya dengan bantuan Roi.


" Istirahatlah dulu, makanan segera datang." Roi mengusap kepala Silvi.

__ADS_1


Silvi menatapnya dan tersenyum.


Bersambung


__ADS_2