
Setelah melalui malam panas, paginya Edi bangun dengan begitu terkejut.
" Siapa kau ?" Edi bertanya kepada perempuan yang masih berbaring disampingnya.
Dengan cepat ia turun dari ranjang yang sudah berantakan akibat pergulatan mereka malam tadi.
Wanita itu tersenyum mengejek melihat Edi yang begitu gugup.
" Kau memang hebat di ranjang." puji wanita itu sambil berjalan mendekat kepada Edi. Bahkan wanita itu tak peduli dengan tubuhnya yang tidak terbalut sehalai kain.
" Dasar ******, kau..." Edi mendorong keras tubuh wanita itu ketika ia mencoba merangkul Edi.
Edi segera memunguti pakaiannya yang berserakkan di lantai, setelah memakai bajunya ia ingin beranjak meninggalkan kamar sialan itu.
" Kau belum membayar ku, tuan. Bukankah kau tahu aku seorang ****** ?" ucap wanita itu sebelum Edi membuka handel pintu di depannya.
Edi berhenti dan berbalik menatap wanita yang tak tahu malu dihadapannya. Dengan menggelengkan kepala ia cepat merogoh sakunya, kemudian mengambil beberapa lembar uang di dompetnya kemudian melemparkannya begitu saja.
Demi Tuhan Edi mengutuki wanita bodoh yang ditidurinya malam tadi. Wanita seperti apa itu umpatnya dalam hati.
Tak dapat dipungkiri wanita yang bersama dengan dia tadi malam sangat cantik dan seksi. Edi mencoba mengingat kembali peristiwa yang dialaminya malam tadi.
" Shittt." umpatnya lagi.
" Ternyata aku sedang mabuk, dia memanfaatkan aku." Edi mengutuki dirinya yang lalai menjaga keperjakaannya.
####
Hari ini Indah mengunjungi sebuah mall, ia akan membeli beberapa buku di toko buku yang ada di mall tersebut.
__ADS_1
" Indah." Seseorang memanggilnya dari belakang.
Indah berbalik dan betapa ia terkejut melihat Bram berdiri di depannya.
" Maaf, atas kejadian itu...aku tak menyangka acaranya jadi kacau, maaf, aku mengacaukannya." ucap Indah sambil menundukkan kepalanya kepada Bram.
" Tidak apa, semuanya sudah diselesaikan dengan baik. Kau tak perlu memikirkannya lagi." ucap Bram dan menampilkan senyum terindahnya.
" Kau sedang mencari buku ?"
" Ya."
" Boleh aku temani ?"
Indah menatap Bram yang tersenyum padanya. Akhirnya Indah menganggukkan kepalanya.
Setelah mencari beberapa buku, Indah dan Bram memutuskan untuk makan siang bersama.
Baru saja Indah akan masuk ke mobilnya, ia dikagetkan pemandangan di depannya.
Ia melihat Togar sedang berjalan dengan seorang wanita, Togar tidak terlihat kaku seperti yang di kenalnya selama ini.
Togar dan wanita yang berjalan disampingnya tampat dekat dan kompak, bahkan di sela-sela pembicaraan mereka, Togar tampak tertawa lepas.
arghhh..Indah menarik nafasnya kemudian dengan cepat ia masuk ke mobilnya, dan pergi meninggalkan mall itu.
" Brengsek...Setelah kau menciumku dengan kasar, kau mencampakkan aku begitu saja, ini yang kau sebut cinta." Indah menangis sambil melemparkan beberapa barang dihadapannya.
Ia menggeram dan mengutuki Togar.
__ADS_1
" Sampai kapanpun aku tidak mau bertemu lagi denganmu." Tangisan Indah semakin menjadi.
ting tong...
Bel berbunyi, sebenarnya Indah enggan keluar kamarnya, dirinya sedang kacau, tapi mau tidak mau ia harus membukakan pintu.
Kenapa sih..mama harus bawa bibi belanja .
Indah membuka pintu dengan malas, baru saja dibukanya dengan cepat ditariknya kembali.
" Tunggu..." Togar mendorong pintunya agar tidak terkunci.
Togar menatap wanita yang sangat dirindukannya beberapa hari ini, ia melihat mata Indah bengkak dan wajahnya sembab, Togar tahu pujaan hatinya itu baru saja menangis.
Indah hanya diam sambil berdiri di depan pintu, ia membuang jauh tatapannya dari Togar.
" Bisa kita bicara sebentar ?" tanya Togar sambil mendekat kepada Indah.
" Kau menangis ?" Togar memegang kedua pundak Indah
" Bukan urusanmu, cepat pergi dari sini !" ucap Indah sinis sambil menepis tangan Togar.
" Kalau aku tidak mau." ucap Togar masih terus menatap Indah.
" Terserah." ucap Indah kesal dan meninggalkan Togar.
Baru beberapa langkah, Togar menarik tangan Indah, Togar membawanya kepelukkannya, sejenak mereka saling tatap, tanpa rasa ragu Togar mengecup bibir Indah dengan lembut.
" Aku minta maaf, aku yang salah "
__ADS_1
bersambung