
"Papa."
Marissa sangat terkejut ketika membuka pintu kantornya seorang pria separuh baya duduk di sofa sambil menyesap cerutu di tangannya.
" Dimana mama? Kenapa papa tidak mengabariku kalau papa sudah kembali dari Hongkong." Marissa menyapa orangtuanya itu dan memeluknya sebentar.
" Hmm. Apa kau sudah selesai memeluk papamu ini?" tidak seperti biasa Hadi sengaja bersikap dingin karena ia sudah mengetahui semua informasi tentang hal yang terjadi pada putrinya itu. Kabar yang di dengarnya membuat hatinya geram dan panas. Entah siapa yang harus disalahkan, ia tahu putrinya keras kepala dan semaunya. Tetapi ia tidak habis pikir apa yang dilakukan oleh para pengawal yang digajinya itu dengan harga tinggi.
" Mamamu ada di rumah. Bukan tidak merindukanmu tetapi ia memilih tidak melihatmu ketika aku akan memarahimu."
" Apa maksud papa ? Datang-datang bukan merindukan putrinya malah ingin memarahiku." wajah Marissa menekuk mendengar pernyataan papanya.
" Jelaskan apa ini ?"Marissa terkejut melihat foto-foto Marissa di ponsel papanya.
"Siapa yang melakukannya?" Hadi mendekatkan wajahnya dan ingin menginterogasi habis-habisan putrinya itu.
__ADS_1
" Itu tidak benar. Aku baik-baik saja seperti yang papa lihat." Marissa mengutuki Bobi yang pasti sudah memberitahu tentang semua yang dilakukannya dan tentang kehamilannya.
" Apa ? Kau bilang baik-baik saja. Club dan minuman yang selalu membuatmu mabuk. Dan sekarang kau sedang mengandung entah siapa ayah bayi dalam kandunganmu itu, tidak tahu" suara Hadi meninggi ia tidak dapat menahan emosinya. Sejauh ini ia tidak ingin melakukan kekerasan kepada putri tunggalnya itu.
" Maafkan aku ! Aku gagal menjadi putri yang baik untukmu."
" Semuanya tidak akan mengubah keadaan. Kau membuat orangtuamu sedih dan terhina. Papa kecewa kepadamu, Icha."
Hadi berusaha agar ia tidak terlalu emosi dihadapan putrinya itu, Marissa sedang hamil ia tidak mau keturunan satu-satunya itu semakin tenggelam dalam masalahnya.
Menurut Bobi keadaan Marissa sudah jauh lebih baik sejak tinggal bersama Bima. Dan Hadi perlu tahu siapa sosok Bima bagi putrinya itu.
Hadi mengelus rambut putrinya itu dengan lembut, melihat Marissa bertekuk lutut di kakinya hatinya tersentuh, perasaan seorang bapak kepada anaknya, apapun yang dilakukan oleh anak sebisa mungkin orangtua mendukungnya, entah itu baik atau tidak. Aneh bukan? Orangtua terkadang harus merelakan segala yang ia punya untuk keberhasilan keturunannya.
" Tuan." Bobi merasa iba melihat Marissa yang terisak di bawah kaki papanya.
__ADS_1
Sedari tadi ia hanya menguping pembicaraan ayah dan anak itu dari balik pintu.
" Maafkan aku. Semua informasi yang tuan perintahkan sudah kami siapkan." tidak sulit bagi seorang Bobi untuk mencari tahu pribadi seorang Bima.
" Informasi apa ?" Marissa merasa ada yang disembunyikan Bobi dan papanya dari ia.
Marissa mengusap air mata yang jatuh di pipinya, ia bangkit, ia menatap Hadi dan Bima secara bergantian untuk meminta penjelasan.
" Atur waktu pertemuanku dengannya malam ini." Hadi memberi perintah kepada Bobi.
" Kau bisa keluar sekarang." Hadi tidak ingin Bobi memberitahu Marissa dulu. Ia hanya ingin mendengar kesungguhan Bima atas komitmennya terhadap Marissa.
" Papa. Katakan padaku ! Siapa yang papa maksud ?"
" Aku akan mengurusnya. Pulanglah ke rumah ! Mamamu merindukan kau !" jawab Hadi dengan tenang.
__ADS_1
" Papa sudah mengetahui hubunganku dengan Bima ? Aku mencintainya. Meskipun ia tidak mencintaiku. Jangan pisahkan kami." Marissa dapat menebak pikiran Hadi yang akan mengajak Bima bertemu untuk memisahkan mereka.
bersambung