Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Berdamai


__ADS_3

"Bobi tinggalkan kami berdua." Marissa berusaha bangkit dari tidurnya, meskipun kepalanya masih sedikit pusing ia mencoba untuk berbicara dengan Bima.


"Tapi, nona...."


" Bob !" menatap Bobi dan meminta asistennya itu meninggalkan ia dan Bima.


" Katakan apa maumu." ucap Marissa dengan ketus setelah Bobi keluar.


"Siapa dia ?"


"Bukan urusanmu."


"Dia pacarmu atau calon..."


"Kalau kau mau membahas soal itu, lebih baik kau pergi. Kepalaku cukup pusing melihatmu disini." Marissa bermaksud merebahkan kembali kepalanya di bantal karena kepalanya memang sedang pusing.


" Apakah betul kau sedang mengandung ? Aku melihatmu seperti orang yang sedang tidak hamil."


" Sh**ittt. Tinggalkan aku sendiri." Marissa memukul lengan Bima.


"Aku bermaksud berdamai denganmu, maksudku seperti ini aku masih belum bisa menerima bayi yang dikandunganmu itu sebagai darah dagingku, setelah lahir nanti aku bermaksud membuktikannya dengan test DNA, dan selama kau mengandung aku melarangmu berhubungan dengan laki-laki lain."

__ADS_1


" Apa ?" Marissa menatap Bima dengan dahi yang berkerut, permintaan Bima membuatnya semakin geram


" Siapa kau mengaturku." ucap Marissa ketus.


"Itu keputusanku."


"Aku tidak mau. Sudah kuputuskan aku dan Mars akan menikah dalam waktu dekat ini."


"Apa ? Menikah dengan Mars ?. Baiklah ! Lakukan sesukamu, aku akan tetap pada pendirianku. Aku hanya ragu dengan bayi yang dikandunganmu karena saat aku menjamahmu aku dalam keadaan mabuk."


Marissa memilih diam, rasanya pilu di hati, Bima menganggapnya seperti barang yang tidak berguna, tawar menawar dengan keadaan yang saat ini mengsndung sudah tentu membuatnya sesak dan tersudutkan. Padahal banyak pria yang berusaha untuk mendapatkan perhatian Marissa tetapi justru ia tertantang dengan sikap Bima di awal mereka bertemu.


" Kau diam berarti kau setuju. Mulai sekarang aku tidak mengijinkanmu pergi dengan pria manapun. Dan satu lagi dilarang menginjakan kaki di club manapun." Bima akhirnya memaksa Marissa untuk menyetujui rencana perdamaian mereka.


" Maaf, tuan. Pasien sudah baikan. Dokter memperbolehkan untuk pulang." seorang perawat mendekat dan memberitahu Bima bahwa Marissa bisa pulang.


"Terima kasih, sus." Bima menganggukan kepalanya.


"Mari ku bantu." Bima memegang tangan Marissa.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Setelah infus ditangan Marissa di lepas oleh perawat, ia bergegas bangkit dari tempatnya berbaring.

__ADS_1


" Aku akan pulang bersama Bobi, dia asistenku." Marissa merapikan tampilannya yang sedikit berantakan.


" Tidak bisa. Aku membawa mobil. Suruh saja asistenmu itu pulang." jawab Bima dengan tegas.


Marissa heran dengan sikap Bima yang tiba-tiba perhatian padanya.


"Kau dan aku akan tinggal bersama. Kita tinggal di apartemenku saja." Bima membawa Marissa menuju meja administrasi untuk membereskan pembayaran jasa rumah sakit.


"Pakai ini." Marissa mengambil kartu berwarna hitam dari dompetnya dan memberikannya kepada Bima.


Bima hanya memandang kartu yang masih di pegang Marissa, Bima mengambil kartu hitam miliknya sendiri dari dompetnya dan menyerahkannya kepada petugas. Melihat Bima tidak mengambil kartu miliknya Marissa memasukkannya kembali ke dalam dompetnya.


"Ayo." Bima menarik tangan Marissa setelah pembayaran selesai.


"Nona." Bobi yang sedari tadi menunggu di luar berlari pelan menemui Marissa.


" Ayo kita pulang." Bobi ingin menarik tangan Marissa dari genggaman Bima.


"Bobi, aku pulang dengannya. Kau bisa pulang dan beristirahat malam ini." Marissa menyuruh Bobi pulang.


" Nona..."

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Dia...di...a..orang yang bertanggung jawab atas kehamilanku." Marissa merasa gugup membicarakan Bima, ia takut Bima marah dan menolak ia dan bayinya.


bersambung


__ADS_2