
Semua keluarga sudah berkumpul di kediaman Nita dan Michel. Besok hari pernikahan Roi dan Silvi dilaksanakan, bertempat di salah satu gereja terbesar di Jakarta.
Sejak pagi semua area tempat yang akan dipakai untuk berlangsungnya pernikahan dijaga dengan sangat ketat.
Rumah, gereja, dan hotel yang digunakan untuk acara resepsi semuanya mendapat pengawasan khusus.
Sudah seminggu yang lalu Roi tidak mendatangi perusahaannya. Dengan alasan keamanan Nita dan Michel memintanya kerja dari rumah saja.
Demikian juga Silvi, ia banyak menghabiskan waktunya tinggal di kediaman orang tua mamanya.
" Sayang, apakah harus seperti ini ? Sudah seminggu kita tidak ketemu, i miss you." Sore itu Roi menelepon Silvi.
" Hmm...besok pernikahan kita Roi, jangan seperti itu, aku juga merindukanmu " Ucap Silvi memberikan semangat.
" Masa bodo dengan adat seperti ini, aku akan menjumpaimu kesana." ucap Roi bersemangat ketika mengetahui Silvi juga merindukannya.
" Roi..." teriak Silvi dari seberang.
Tapi sayang sekali Roi sudah menutup teleponnya.
" Maaf, tuan. Anda tidak bisa bepergian tanpa seijin tuan Michel." seorang pengawal menghalangi langkah Roi.
__ADS_1
" Minggir, aku ada urusan sebentar."
" Maafkan saya, anda tidak bisa pergi kemanapun." pengawal itu menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat kepada tuannya.
Dengan kesal Roi meninggalkan pengawal itu.
#####
Hubungan Indah dan Togar masih saja kaku dan dingin, Indah sengaja mengelak ketika bertemu dengan Togar. Sepertinya kata maaf dari Togar tidak berhasil mendamaikan kedua hati mereka.
Demikian juga Togar, ia menahan diri untuk dekat dengan kekasihnya itu, meskipun jiwanya meronta - ronta agar hubungannya dengan Indah dapat seperti yang dulu
Meskipun Togar telah meminta maaf, Indah masih enggan mendekatinya. Bagaimanapun Indah tidak terima dengan perlakuan Togar kemarin.
Lois, Jhon, dan Togar sedang duduk bersama di taman belakang. Mereka sedang asyik berbicang-bincang, selain tentang perkembangan perusahaan, wanita juga menjadi gunjingan para pria tampan itu.
" Diantara kita kau yang lebih tua." kekeh Lois sambil menunjuk Togar yang masih galau
" Aku sedang tidak bersemangat membahas itu." jawab Togar cuek sambil terus memainkan sebatang rokok ditangannya, sesekali ia menyesap dan pandangannya menerawang jauh ke depan.
" Sampai kapan kau jomblo bro, usiamu sudah seharusnya menikah." Jhon menimpali.
__ADS_1
"Aku tak punya waktu memikirkan itu, bagiku memajukan perusahaan yang di Medan lebih penting dari segalanya." Togar memang pintar menutupi suasana hatinya
" Hidupmu terlalu kaku, betul kata opung Leo." balas Jhon kemudian.
" Dulu Roi juga seperti itu, sekalinya jatuh cinta, lihat itu, tidak ketemu 2 hari rasa 2 abad." kekeh Lois kemudian sambil menatap Roi yang berjalan cepat kearah mereka.
Mendengar nama Leo, ntah kenapa Togar sedikit resah, ya...Leo yang sudah dianggapnya sebagai orangtua sendiri , selalu bertanya kapan ia akan menikah.
Argh..disesapnya sekali lagi rokok di tangannya, kemudian membuangnya begitu saja.
Masalah wanita memang rumit, semakin dikejar semakin jauh.
" Aku tinggal dulu." Ucap Togar meninggalkan Jhon dan Lois di taman sepertinya Roi memerlukannya.
" Togar." baru saja beberapa langkah berjalan Roi memanggilnya.
" Ada yang anda butuhkan tuan ?" Tanya Togar.
" Tolong aku keluar dari rumah ini, kau tahu aku merindukan Silvi." Togar terkejut mendengar permintaan Roi.
" Tapi tuan..."
__ADS_1
" Cepat pikirkan sesuatu agar aku bisa bertemu dengan Silvi."
bersambung