Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
ikulah denganku !


__ADS_3

Beberapa Minggu berlalu, hari demi hari perlahan namun pasti Alina sudah dapat menyesuaikan diri tinggal di desa, kesibukkannya di sekolah membuatnya bisa keluar dari masa-masa sulitnya. Hal yang paling dipikirkannya saat ini adalah hubungannya dengan Bima. Ia tidak mampu menunjukkan wajahnya kepada papanya Bima, kebaikkan yang diberikan terkesan dibalas Alina dengan keburukkan. Air susu dibalas dengan air tuba.


Hari ini siswa disekolah tempat Alina belajar dikumpulkan di halaman sekolah karena ada kunjungan dari salah satu pengurus yayasan, mereka akan mendengar pidato. Alina berdiri di samping siswa yang sedang berbaris. Dengan mengambil tempat di barisan paling belakang Alina akan mendengarkan sambutan.


Alina tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria yang sedang berada di fodium di depan sana.


Togar. Ya...ialah yang sedang menberikan wejangan di depan sana. Diam-diam ia mendirikan sekolah di desa itu, mengingat masa kecilnya yang tidak mengenyam bagaimana indahnya bangku sekolah membuat Togar terbeban untuk mengalokasikan hartanya untuk pendidikan, ia sangat bersyukur mengenal keluarga Leo dan Karissa, orang kaya yang peduli dengan orang-orang yang kurang beruntung, dari merekalah Togar belajar bagaimana caranya menbantu orang yang kesusahan.


"Saya berharap siswa di sekolah ini tumbuh sebagai generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mempunyai integritas. Teruslah belajar ! Jadilah putra-putri yang mengharumkan nama bangsa dan negara !" dengan semangat Togar mengakhiri sambutannya.


Alina yang berada di baris belakang sengaja menyembunyikan wajahnya agar Togar tidak mengetahuinya, biarlah ia menjauh dari Rey dengan semua keluarganya, semuanya untuk kebaikkan Rey dan keluarganya. Alina tidak ingin masalahnya menjadi lebih melebar dan merugikan orang lain, kalau sampai Arnold masih menemukan mereka dan melakukan hal yang menyakiti Alina akan melaporkannya kepada pihak yang berwajib.


" Ibu Alina!" suara temannya sesama guru membuatnya terkejut.


" Ya, ada apa, bu?" dengan gugup Alina menjawab karena ia sedang melamun.

__ADS_1


" Bapak Kepala Sekolah memanggilmu."


"Hmm...Baik, aku kesana sekarang." jawab Alina kemudian beranjak dari tempatnya berdiri.


Alina berjalan di lorong kelas dengan langkah mantap ia melangkahkan kakinya menuju ruangan kepala sekolah. Sesekali ia melihat ruangan kelas yang berderet disamping kiri dan kanannya, semuanya kosong karena siswa masih berbaris di lapangan.


" Permisi, pak." Alina menundukkan kepalanya ketika kepala sekolah mengangkat kepalanya dan melihat Alina.


" Masuklah !" kepala sekolah mempersilahkan Alina duduk. Ia meletakkan pulpen yang dipegangnya kemudian menyerahkan kertas kehadapannya.


" Ikutlah denganku !" Alina langsung menoleh ke belakangnya suara seseorang menyapanya.


" Tuan." Alina berdiri dari tempat duduknya menundukkan kepalanya sebagai tanda hormatnya kepada Togar.


" Rey membutuhkanmu. Sekarang hidupnya tidak baik-baik saja. Ku mohon dengan sangat, ikutlah denganku sekarang juga." Togar memohon dengan wajah senduh di hadapannya.

__ADS_1


"Tolong tinggalkan kami berdua." Togar menatap kepala sekolah yang sedari tadi berdiri melihat dan mendengarkan mereka.


Kini tinggal mereka berdua. Alina menatap Togar yang masih terus memandangnya berharap Alina mengiyakan permintaannya.


"Tuan, saya sudah tidak ada urusan lagi dengan tuan Rey. Hubungan kami hanya sebatas karyawan dan atasan saja. Aku sudah tidak bekerja di PEH lagi." Alina mencoba menjelaskan hubungannya dengan Rey kepada Togar.


"Setelah kau meninggalkannya hidupnya seperti tidak punya harapan, setiap hari waktunya dihabiskan menghabiskan minuman keras. Sekarang ia menjadi pecandu minuman yang mematikan perasaannya, tubuhnya saja yang masih bergerak, hatinya telah mati setelah kepergianmu."


" Tolong ! Aku memohon dihadapanmu ! Kami mencarimu kemana-mana, tapi tidak menemukanmu." Togar menjatuhkan tubuhnya dan berlutut di hadapan Alina.


"Bukan hanya orangtua, Indah istriku serta Silvi juga sangat terpukul melihat Rey seperti itu, setiap hari mereka menangis, aku tidak tahan melihat mereka bersedih terus." lanjut Togar.


"Tuan, jangan seperti ini. Aku...baiklah aku akan ikut untuk menemui Rey." Alina mengangkat tubuh Togar yang masih bersimba di hadapannya, ia merasa hal itu tidak pantas dilakukan Togar.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2