Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Ketahuan


__ADS_3

Nita dan Michel baru saja tiba di rumah Morin. Uli terkejut karena kakak iparnya datang tiba-tiba.


" Kenapa tidak kasih kabar dulu sih? " ucap Uli di depan pintu.


" Sudah! Kemarin sudah di kasih tahu di telepon ke kak Morin." jawab Nita sambil memeluk Uli.


" Bi ! Bawakan barang-barang ini ke dalam ya." ucap Uli kepada artnya, kemudian ia merangkul Michell.


" Mana Silvia, kak ! Lama kami tidak ketemu." Uli berjalan mengitari rumah, Ia langsung masuk ke kamar Silvia.


" Sekarang dia bekerja dengan Morin di perkebunan kak." jawab Uli sambil berjalan menghampiri Nita yang masih di depan kamar Silvi


" Apa dia sudah bertemu Roi ?"


" Sudah."


" Bagaimana hubungan mereka ?"


" Masih sama-sama dingin."


Seketika wajah Nita sedikit kecewa.


Michell mengambil ponselnya di saku, kemudian ia menelepon Roi.


" Di mana kau ? "


Uli dan Nita melihat kepada Michell.


" Cepatlah ke rumah tulangmu. Kami sudah disini." Michell mematikan ponselnya.


" Kau menelepon Roi pih." Nita menghampiri suaminya.


Michell menganggukkan kepalanya.


" Hayu..minum dulu." Uli mempersilahkan Nita dan Michell minum jus yang baru saja di letakkan bibi di meja.


👀👀👀

__ADS_1


Sementara Roi yang baru menerima telepon dari papihnya sedikit gusar. Ia mondar - mandir di depan meja kerjanya.


" Ada apa tuan ? " Togar yang sedari tadi melihat Roi berjalan mondar- mandir sedikit terganggu.


" Papih dan mamih sudah disini, sekarang di rumah Morin.Gawat ! bakalan rumit nih." Roi memijit keningnya.


" Hadapi saja tuan. Lagi pula nona Silvi itukan sangat cantik. Tuan beruntung di jodohkan dengan dia." Togar tersenyum


" Berani kau memberiku nasehat ha ?" Roi menatap Togar tajam


" hehe....tidak tuan. Bukan nasehat. Itu kenyataan."


" Ngomong lagi kukirim kau ke papua bekerja."


" Jangan tuan. Disana wanita seperti non Silvi langkah."


" Togar ! "


" Maaf tuan. Saya salah." Togar kembali menyelesaikan pekerjaannya.


" Sekarang kita ke rumah Morin."


Roi sudah menghilang di balik pintu.


@@@@


Roi dan Togar sudah sampai di rumah Morin.


" Pih, Mih. Kok nga ngabarin dulu sih." Roi memeluk papih mamihnya bergantian. Disana sudah duduk Morin, Uli dan Silvi.


Roi menatap Silvi yang menundukkan kepalanya.


" Duduk kamu." suara Michell membuat Roi takut.


" Perusahaan mana yang ingin kau dirikan ?" tatapan Michell seperti menghantam wajah Roi.


" Pih..."

__ADS_1


" Untuk apa kau berbohong ? Apa perusahaan papih kurang banyak hingga kau harus mendirikan perusahaan lagi."


Roi menatap Nita meminta pembelaan. Tapi sayang Nita malah memasang muka cemberut dan membuang wajahnya.


" Sekarang ceritakan semua ! "


Roi tertunduk malu.Hari ini posisinya seperti di hakimi di ruang pengadilan.


" Maaf. Sebenarnya...aku....ber...bo..hong tentang itu semua. Aku hanya ti....dak ingin dijo....."


" Roi !" suara Nita membentak


Nita tampak kesal dengan sikap dan ucapan Roi.


" Mamih nga mau tahu. Sekarang mamih dan papih datang ke sini untuk menentukan hari pertunangan kalian. Mengerti ! "


Silvi memandang Roi yang menundukkan kepalanya.


Ada perasaan sedih di hatinya melihat Roi dibentak namborunya.


" Bagaimana Silvi ? Kau setujukan ? " Nita berbalik menanya Silvi.


" A...a...ku. Gimana papa dan mama saja."


Roi menatap Silvi dengan perasaan heran. Dasar wanita suka bersandiwara, di depanku ngomongnya gini, sekarang beda lagi.


" Nah, Kalau begitu kita tetapkan tanggal tunangan mereka." tambah Michell


" Pih, Mih ! Kenapa buru-buru sih. Kita makan siang saja dulu. Nanti ini dibicarakan lagi." potong Roi.


" Betul kata Roi. Mari kita makan siang di luar saja." tambah Morin.


" Ma, Silvi, hayu..siap- siap." ucap Morin kepada istri dan putrinya


Mereka bergegas untuk makan siang di salah satu restoran ternama di kota Medan.


Michell dan Nita masuk di mobil Morin.

__ADS_1


sedangkan Silvi ikut di mobil Roi.


Bersambung


__ADS_2