
Marissa dan Mars mendatangi kampus PEH dimana Bima bekerja. Sepanjang jalan Marissa tidak berhenti memandang sekeliling kampus, ia mengagumi kampus itu, bangunan yang tinggi dengan gaya arsitek yang modern, desain ruangan kelas dan sudut-sudut ruangan tempat bersantai terlihat serasi dan nyaman untuk mahasiswa sekedar nongkrong. Alina bertanya dalam hati apa jabatan Bima di kampus ini, Mars hanya menceritakan bahwa Bima bekerja disini.
"Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?" Seorang resepsionis bertanya kepada Marissa dan Mars.
"Kami ingin bertemu Bima. Katakan Mars ingin menemuinya." ucap Mars.
Resepsionis itu mengambil telepon yang terletak di mejanya kemudian melakukan panggilan, terdengar ia berbicara kepada seseorang dan tidak lama kemudian resepsionis itu mempersilahkan mereka masuk.
Setelah diatar seorang sekuriti akhirnya Marissa dan Mars tiba di hadapan ruangan Bima. Ternyata dia rektor di kampus ini guman Marissa dalam hati setelah membaca tulisan di pintu ruangan Bima.
"Duduklah !" Bima memberhentikan sejenak kegiatan di meja kerjanya. Ia melihat Marissa dan Mars yang sudah duduk di sofa. Ia datang menghampiri.
Bima tidak sedikitpun memandang Marissa, tatapannya tertuju kepada Mars dari sorot matanya Bima ingin tahu apa yang hendak dibicarakan temannya itu.
"Marissa ada perlu denganmu." Mars menatap Bima dan memberitahu maksud kedatangannya dengan Marissa.
__ADS_1
"Aku hamil." tanpa basa-basi Marissa menjelaskan maksud kedatangannya kepada Bima, tidak lupa ia mengambil sebuah benda dalam tasnya dan meletakkannya di meja di hadapan Bima. Benda itu adalah test pack di sana terlihat dua garis merah yang menandakan pemilik yang menggunakannya dalam kondisi hamil.
Haa..haa.
Bima tertawa mendengar pejhelasan Marissa, Mars yang berada diantara mereka hanya diam ia tidak mau mencampuri urusan Marissa dan Mars.
" Sudah berapa orang yang menidurimu ? Setelah hamil kau datang padaku. Kalian pikir aku orang bodoh yang bisa kalian kibulin." Bima kembali tertawa ia merasa lucu melihat Marissa datang meminta pertanggung jawabannya.
" Tutup mulutmu ! Aku bukan perempuan murahan yang tidur dengan banyak pria. Anak yang aku kandung ini adalah darang dagingmu." Marissa marah mendengar ucapan Bima yang merendahkannya.
"Bagaimana kalau aku tidak mengakuinya ? Sebab aku tahu kau perempuan malam yang tidak berintegritas. Aku tidak yakin itu darah dagingku."
" Cukup ! Baiklah ! Aku akan mengurus janin ini, perlu kau tahu aku juga tidak sudi mengandung darah dagingmu. Aku akan mengugurkannya." Marissa bangkit dari duduknya.
" Icha, tenanglah !" Mars yang sedari tadi hanya sebagai pendengar akhirnya bersuara. Ia tahu Marissa orang seperti apa, ia melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang, ia sangat nekad.
__ADS_1
"Ayo, kita pergi." Marissa beranjak dari tempat duduknya tanpa menunggu lebih lama lagi ia meninggalkan ruangan Bima.
Mars menatap Bima, ia berharap Bima menghalangi kepergian Marissa tetapi dugaannya meleset, Bima tidak berkata apapun sampai tubuh Marissa hilang di balik pintu.
Mars meninggalkan Bima, ia berlari menyusul Marissa. Ada perasaan bersalah terbersit di hatinya, semua karena kelakuannya, malam itu ia menjebak Bima dengan obat perangsang.
" Icha, tunggu." Mars berlari mengimbangi langkah Marissa yang begitu cepat.
"Aku mau pulang sekarang." Marissa masuk ke mobilnya, Mars melihat kemarahan di wajah temannya itu.
" Hati-hati, tidak baik menyetir dengan hati yang marah." Mars mengingatkan Marissa.
Setelah memakai sabuk pengamannya, Marissa berlalu dari hadapan Mars.
Mars berjalan menghampiri mobilnya. Ya...ia dan Marissa datang dengan kendaraan yang berbeda.
__ADS_1
Mars membawa mobilnya dengan cepat, ia ingin mengikuti mobil Marissa dari belakang, ia khawatir Marissa berbuat nekad di jalan raya.
Bersambung