Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Jakarta


__ADS_3

Silvia masih sibuk memberesin baju-baju yabg akan di bawanya ke Jakarta, Uli ikut membantunya.


Sesekali Uli mengingatkan Uli agar tidak melakukan kesalahan seperti kemarin lagi.


" Ma. Aku sayang papa dan mama. Aku berjanji tidak akan terulang lagi seperti kemarin, meski sebenarnya aku belum mencintai kak Roi." ucap Silvi sambil menyusun perlengkapannya ke dalam satu bag travel.


" Sayang. Telepon mama kalau kau punya masalah. Mama siap mendengar kapan saja." Uli mendekap putrinya yang sudah selesai membereskan perlengkapannya.


Mereka berjalan menuruni anak tangga sambil membawa bag Silvi. Dilihatnya semua keluarga sudah berkumpul di meja makan.


Morin berjalan menghampiri putrinya, ia mengambil bag yang dipegang Silvi.


" Hayu..kita masukkan ke mobil barang-barangmu." ucap Morin sambil berjalan menuju garasi.


" Makanlah dulu sebelum kita berangkat." suara Roi yang sudah berdiri di belakangnya.


Silvi berbalik melihat Roi kemudian ia mengangguk dan meninggalkan Papanya dan Roi di garasi.


" Makanlah dulu sayang, setengah jam lagi kita berangkat." Nita menuntun Silvi ke meja makan.


" Iya Namboru." ucap Silvi dan duduk menghadap hidangan yang telah disiapkan mama dan bi Mira di meja makan.

__ADS_1


" Kakak kami pasti merindukanmu." ucap Indah dan Reyhan ikut merangkul kakaknya.


Opung Leo dan Karissa tersenyum menatap cucu-cucunya.


" Indah, Rey..Silvi pergi ke Jakarta, bukan kemana-mana, kita bisa mengunjunginya kesana kapan kita mau." ucap Karissa.


Opung Robert dan Mary ikut tersenyum.


" Tetap saja kak Silvi nga di rumah lagi, sepi..nga ada yang suka cerewet lagi." ucap Reyhan dengan sedih sambil memajukan bibirnya.


Sedangkan David dan Togar asyik berbicara tentang pekerjaan mereka.


David yang mempunyai jam terbang sebagai pilot menceritakan pengalamannya yang sangat menyenangkannya, menjadi pilot adalah cita-citanya sejak kecil, karena memang keluarganya bekerja di bidang itu.


Tak terasa jam terus berjalan, tiba waktunya Michel, Nita, Roi dan Silvi akan berangkat ke bandara, mereka akan pulang ke Jakarta.


Uli memeluk putrinya.


" Jaga sikapmu sayang, jangan memalukan keluarga, terlebih papa dan mamamu ya." ucap Uli sambil mengecup kening Silvi.


" Aku akan membuat mama bangga padaku." balas Silvi membalas pelukan mamanya.

__ADS_1


" Hmm." Morin berdehem dan menatap Silvi dan istrinya.


" Papa."


Morin merangkul Silvi. sesungguhnya hatinya sangat menyayangi putrinya itu, tapi sebagai orang tua memang ia sedikit keras mengajar anak-anaknya, agar kelak bisa berhasil.


Silvi masih menangis dipelukkan Morin, ntah sudah berapa lama orang tuanya tidak memeluknya seperti sekarang, seingat Silvi terakhir ia dipeluk papanya ketika acara kelulusan SMA dulu, sedangkan sekarang ia sudah akan selesai kuliah, sudah empat tahun rasanya. Silvi sangat merindukan moment seperti ini, bisa dekat dan memeluk orang yang sangat disayanginya.


" Sudah. Jangan menangis. Lihat kau kelihatan jelek seperti itu." ucap Morin sambil mengelus bahu putrinya.


" Roi akan menjagamu dengan baik." lanjut Morin dan mencium kening putrinya.


Semua keluarga terenyuh. Roi juga terharu. Ia melihat rasa sayang Morin kepada putrinya.


" Hayu...kita harus berangkat sekarang." suara Nita memecah keheningan.


" Roi pamit sama tulang dan nantulangmu, sama opung juga." ucap Nita.


Setelah acara saling merangkul, akhirnya Michel dan keluarganya serta Silvi berangkat meninggalkan kediaman Morin.


Bersambung

__ADS_1


💐💐💐💐


__ADS_2