
Setelah kejadian itu Alina menjaga jarak dengan Rey, untuk hal-hal yang berurusan langsung dengan PEH Alina mewakilkan tugasnya kepada asistennya. Ia mencoba untuk tidak berkomunikasi langsung dengan Rey, Bima tidak tahu tentang kejadian yang kemarin, Alina merasa tidak perlu memberitahukan, itu hanya membuat masalah nantinya diantara mereka, di benak Alina yang penting sekarang menjauhi Rey sejauh mungkin.
" Sayang. Waktunya makan siang." Bima menyapa Alina yang duduk sambil melamun.
" Aku menyiapkan rapat satu jam lagi. Makan saja duluan!" Alina mengambil buku catatannya untuk menulis beberapa jadwal pertemuan dosen dan mahasiswa.
"Maaf. Kemarin aku tidak menjawab panggilanmu. Aku masih di kantor menyelesaikan pekerjaanku." Bima mendekat bermaksud merangkul Alina dari belakang.
"Aku tahu. Sudahlah! Cepat makan sebentar lagi ada meeting lagi." Alina sengaja mengelak karena sekarang posisi mereka sedang berada di kantor banyak orang yang berlalu lalang.
Daun pintu yang sedikit terbuka membuat Rey yang sedang berjalan menuju ruangannya ingin tahu apa yang dilakukan Bima diruangan Alina sayup-sayup ia mendengar interaksi kedua orang yang sedang berbicara di dalam.
"Tuan. Anda..." Rey memberi isyarat dengan meletakkan jari telunjuk di bibirnya agar Tomas tidak berisik.
Tomas heran melihat kelakuan tuannya itu, tidak pernah ia melihat Rey melakukan hal bodoh seperti itu. Dengan setia ia menunggu dan memperhatikan gerak-gerik Rey yang diam-diam menguping pembicaraan Alina dan Bima.
"Baiklah. Aku makan dulu ya." akhirnya Bima mengikuti saran Alina, sebelum ia meninggalkan tunangannya, di ciumnya dengan lembut pucuk kepala Alina. Ia tersenyum dan meninggalkan Alina yang masih sibuk bekerja.
Mendengar derap langkah Bima yang mendekat ke pintu, Rey dengan cepat menjauh dari pintu ruangan Alina, lima belas detik kemudian Bima sudah keluar dari ruangan Alina.
Arah tujuan yang berlawanan tidak mempertemukan Rey dan Bima. Rey geram melihat Bima yang begitu mesra dengan Alina. Tomas yang sedari tadi berdiri di sampingnya tidak dihiraukannya.
"Tuan."
" Tunda semua pertemuan hari ini!" Rey memberikan perintah pada Tomas. "Dan kau bisa kembali ke perusahaan." lanjutnya kemudian.
"Tapi, tuan..."
Rey menatap Tomas dengan tajam, sorot matanya seakan-akan berkata kalau ia tidak ingin dibantah.
"Baiklah." dengan cepat Tomas meninggalkan Rey. Ia tahu kalau mood tuannya sedang tidak bagus.
Tok...tok...
Rey tahu Alina yang mengetuk pintu ruangannya, setiap hari Alina akan ke ruangannya untuk memberikan laporan.
"Permisi, tuan." Alina melangkahkan kakinya menuju meja Rey, diletakkannya beberapa laporan yang sudah tersusun rapi.
__ADS_1
"Bisa kau buatkan kopi untukku?" Rey meletakkan pulpen di mejanya. Menatap Alina dengan memohon. Ia sengaja memperlihatkan kepada Alina bahwa ia sedang sibuk agar ada alasan Alina tidak langsung meninggalkan ruangannya.
"Baiklah." dulu ruangan yang ditempati Rey adalah kantor Rendra, Alina sudah terbiasa dengan peralatan yang ada di dalamnya. Rey hanya meminta warna cat tembok saja yang diubah.
Alina berjalan ke pantry, menggapai gelas yang tersimpan rapi di lemari. Ia menyiapkan kopi dan gulanya. Alina baru kali ini menyiapkan kopi untuk Rey, ia merasa perlu bertanya berapa takaran kopi dan gula yang diinginkannya.
"Ma...a..a." belum sempat bertanya, sepasang tangan Rey telah melingkar di pinggangnya.
"Dua sendok kopi dan satu sendok gula." bisiknya tepat di telinga Alina.
Alina menarik nafas berat, tidak diduganya kalau Rey berani melakukan hal itu di ruangannya.
"Bolehkah kau melepaskan tanganmu?" dengan suara yang menekan Alina meminta Rey untuk melepaskan dirinya.
Rey mengabaikan permintaan Alina, ia malah mengecupi curuk leher Alina yang wanginya membuat Rey terlena.
"Rey..."
"Kau mau bilang aku sudah gila, kan?" Rey menjeda ucapan Alina sambil mendaratkan satu kecupan di pipinya.
"Apa kau tidak punya perasaan, Rey." Alina menghentakan tangan Rey yang masih melingkar dipinggangnya. Ia dapat merasakan kalau Rey mengecup punggungnya di belakang sana.
"Kau kejam, Rey. Kau menganggapku apa? Harga diriku bahkan tidak ada lagi di hadapanmu." Alina sudah berusaha melepaskan diri tapi Rey mengkungkungnya begitu kuat. Hanya air mata tanda kecewa yang dapat ditunjukkan Alina.
"Jadilah wanitaku." beberapa tahun yang lalu Rey juga pernah mengucapkan kalimat yang sama. Tetapi Alina tidak mengubrisnya, sebab waktu itu Rey akan bertunangan dengan Marissa.
"Kau sudah tidak waras, Rey. Aku sudah bertunangan dengan Bima."
"Belum menikah. Artinya aku masih punya kesempatan memilikimu."
" Tidak. Aku mencintainya dan kami sudah bertunangan."
Rey melepaskan dekapannya, didirongnya tubuh Alina hingga menyisahkan jarak. Ucapan Alina yang baru saja didengarnya membuat hatinya panas. Alina mengakui dihadapannya kalau ia mencintai Bima.
"Keluarlah!" Rey membalikkan tubuhnya meninggalkan Alina, ia kembali duduk di hadapan meja kerjanya.
Alina merapikan bajunya, ia menyeka air mata yang sempat menetes di pipinya. Ia meninggalkan Rey dengan sumpah serapah di mulutnya.
__ADS_1
Dengan cepat Alina berjalan ke ruangannya, ia membuka pintu dan menutupnya dengan cepat. Ia berdiri di balik pintu dengan perasaan yang kacau, tubuhnya melorot begitu saja, pikirannya tidak bisa bekerja sebagaimana mestinya. Ia marah dan kecewa akan sikap Rey.
Bima melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul lima lebih, ia bergegas untuk mengikuti seminar di satu perguruan tinggi lain. Setelah keluar dari lift ia tiba di area basement dimana mobilnya terparkir, sejenak ia melihat ke samping, mobil Alina masih ada disana. Alina belum pulang. Sebelum berangkat Bima ingin mengetahui sedang apa Alina sekarang.
Ia mengambil ponsel dari saku celananya, ia menelepon Alina.
" Kau belum pulang?" Bima langsung bertanya ketika Alina menerima panggilannya.
"Sebentar lagi, ada file yang harus disiapkan untuk besok." jawab Alina.
" Hmm. Baiklah ! Hati-hati menyetir! Aku menghadiri seminar sore ini." beritahu Bima.
"Bye, Hati-hati ya." Alina menyudahi pembicaraannya dengan Bima.
Sementara Rey menghabiskan waktunya di dalam ruangannya, setelah Alina meninggalkan ruangannya, ia mengambil sebotol minuman yang mampu membuatnya melupakan rasa kecewa di hatinya. Ia merancau tidak jelas dengan minuman di tangannya.
Alina sudah bersiap-siap untuk pulang, tetapi langkahnya terhenti ketika melewati ruangan Rey, ia mendengar Rey berbicara, entah siapa temannya di dalam sana.
Ia mengetuk pintu berulang kali, tidak ada sahutan, akhirnya Alina membuka pintunya, alangkah terkejutnya Alina melihat Rey tergeletak di lantai, tangannya memegang botol minuman berakhol yang sudah habis diteguknya.
"Rey...Rey..." Alina mengguncang-guncang tubuh Rey yang sudah setengah sadar. Tetapi Rey tidak mendengarnya.
Alina mengangkat tubuh Rey, dengan langkah terseok-seok dipapahnya Rey ke atas sofa, tubuh Rey sangat berat, Alina ngos-ngosan dibuatnya.
"Rey...bangun." Alina menepuk-nepuk pipi Rey.
Melihat keadaan Rey yang masih belum sadar, ia memutuskan untuk menelepon Silvi, ia meminta agar Rey dijemput karena sedang mabuk.
Alina masih menunggu panggilannya di jawab Silvi, sudah dua menit Alina belum mendapat jawaban. Akhirnya Alina menyudahi panggilannya.
Hari semakin malam akhirnya Alina memutuskan untuk menungguin Rey, ia tertidur dengan posisi. duduk di sofa.
Tengah malam Rey bangun, kepalanya pusing karena pengaruh minuman. Ia bangkit untuk mengambil minuman di kulkas. Ia baru sadar kalau Alina tertidur di sofa, menggeser tubuhnya hingga Rey berhadapan dengan Alina. Diusapnya pipi Alina, dirapikannya anak rambut yang menutupi wajah. Alina sama sekali tidak terusik.
Cup...
Rey mencuri kecupan dari bibir merah yang terasa manis dibibir Rey. Ternyata ia peduli dengan aku. Guman Rey, senyum bahagia tersimpul di wajahnya.
__ADS_1
bersambung